Connect with us

Internasional

Bisnis Surat Kabar Masih Menggeliat di Hongkong

Published

on

9 views

KORANRADARONLINE.co.id: Hongkong. Bisnis suratkabar masih menggeliat di Hongkong, terbukti saban pagi banyak pengecer menumpuk media massa cetak ini di lapak pinggir jalan. Para pemilik toko juga mendapat kiriman bundelan suratkabar dari penerbit untuk mereka pajang dan jual di toko masing-masing. Berbagai suratkabar itu ada  yang menggunakan aksara Mandarin, ada pula berbahasa Inggeris.

Tetapi jangan cari  South China Morning Post (SCMP) di lapak pinggir jalan atau toko-toko tersebut. Suratkabar berbahasa Inggris ini hanya diedarkan lewat cara berlangganan. “SCMP sama sekali tidak diecer, kami mengedarkannya 100% dengan cara berlangganan,” kata Ivion Xie, public relations suratkabar ini di markasnya di Hongkong. Saat itu SCMP sedang sibuk sebagai sponsor penting untuk acara Media Digital Asia 2018 yang diselenggarakan oleh  asosiasi persuratkabaran dan para penerbit dunia (WAN-IFRA) Asia Pasifik di sana selama 8-9 November 2018.

Ivione mengemukakan distribusi berlangganan  membuat SCMP sangat mudah ditemui di hotel dan restauran berbintang, perkantoran atau rumah-rumah yang melangganinya. Suratkabar ini sudah tiba di tangan pelanggannya sejak dinihari. “Kami mencetak SCMP edisi besok pada sore hari ini,  begitulah setiap harinya,  supaya bisa mengedarkannya ke pelanggan pagi-pagi sekali,” jelasnya.

Para tamu Novotel di Nathan Road, Kowloon, Hongkong merasakan kemudahan mendapatkan SCMP. Suratkabar ini sudah terpajang  bersama The New York Times edisi  Hongkong di meja pintu masuk restauran sejak pukul 5.00 pagi, sehingga mereka bisa membacanya sambil sarapan. “Hebat koran ini,” kata Setya, seorang tamu dari Indonesia di hotel itu.

Ivione menguraikan, SCMP sudah berumur 115 tahun sejak diterbitkan pertama kali oleh pendirinya  Tse Tsan-tai dan Alfred Cunningham pada 6 November 1903. Saat itu adalah masa dinasti Qing, sebelum China  berubah menjadi  Republik Tiongkok pada tahun 1912.

Tetapi kini SCMP menjadi milik Jack Ma setelah ia membelinya menggunakan bendera  Alibaba  senilai US$ 266 juta atau setara Rp 3,76 triliun pada tahun 2015 lalu.Pemilik perusahaan digital terbesar dunia ini tertarik dengan keunikan SCMP,  karena suratkabar ini menyampaikan berita tentang Tiongkok dalam bahasa Inggris. 

Pihaknya menganggap pemberitaan dengan gaya ini sangat dibutuhkan oleh pembaca global yang ingin mengetahui keadaan Negeri Tirai Bambu sebagai kekuatan ekonomi dunia. Makanya, setelah membeli SCMP,  dia pun mengawinkannya dengan teknologi yang dimilikinya  guna menciptakan model berita baru untuk menjawab jaman digital saat ini,  supaya pembaca di seluruh dunia bisa segera mendapatkan kabar tentang Tiongkok. Jack Ma membangun divisi video jurnalistik, divisi online, dan divisi media sosial untuk memperkuat SCMP edisi cetak.

Menurut Ivione, saat ini SCMP  edisi cetak memiliki tiras lebih  100.000 eksemplar setiap hari dan iklan pun masih mengalir deras mengisi suratkabar ini. “Kami tidak mengalami penurunan tiras karena menjaga loyalitas pelanggan, membangun komunitas, menjalin kerjasama dengan mereka, dan  selalu menyalurkan dana CSR untuk program-program yang menyangkut kepentingan orang banyak,” katanya.

Razlan, editor SCMP,  mengemukakan suratkabar yang ikut digawanginya itu bisa bertahan sampai kini karena membawa pengalaman China untuk membicarakan China  dalam bahasa Inggeris ke masyarakat global.

 Karena itu, SCMP bisa menembus pasar di negara-negara yang  mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Inggeris. “Kami tentu cukup kuat di China dan Hongkong, tetapi pasar kami juga menembus Amerika Serikat, India, Singapura, Malaysia,dan  negara-negara lain yang berbahasa Inggeris,” paparnya.
Penuturan Razlan didukung  oleh Gary Liu, CEO suratkabar tersebut.

 Liu mengemukakan SCMP sudah bertransformasi dari suratkabar regional yang meng-cover dunia menjadi perusahaan media global dengan pengalaman regional. 

“Transformasi yang memanfaatkan teknologi digital ini membuat pelanggan di Hongkong tumbuh 4,8 kali, di luar Hongkong tumbuh 6,1 kali, penonton video tumbuh 22 kali, sedangkan pertumbuhan pengikut di media sosial mencapai  5,6 kali lebih besar dari jumlah sebelumnya,” ungkap Liu.

Pengalaman SCMP itu pun  semakin mempertegas bahwa bisnis suratkabar masih berdenyut di Hongkong. Suratkabar ini memotivasi  suratkabar-suratkabar lain  untuk  bertahan meski memilih masuk ke pasar yang berbeda. Mereka menyusup ke toko-toko dan lapak pinggir jalan guna merebut perhatian pembeli eceran di Hongkong.(KRO/RD/medanbisnis)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *