Connect with us

Nasional

Perdagangan Tercatat Alami Defisit

Published

on

6 views

KORANRADARONLINE.co.id:  Perdagangan nasional hingga Oktober 2018 tercatat mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,82 miliar. Defisit ini terjadi karena impor ke Indonesia pada Oktober sebesar US$ 17,62 miliar, sedangkan ekspor US$ 15,8 miliar.

Diperkirakan dalam waktu 10 bulan, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan RI hanya tiga kali mengalami surplus dan sisanya defisit. BPS mengungkapkan, saat ini pemerintah Indonesia sedang gelisah bahkan kebakaran jenggot karena kondisi neraca yang mengalami defisit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti menjelaskan, dalam satu tahun ini surplus neraca perdagangan hanya tiga kali. “Pemerintah gelisah neraca perdagangannya defisit terus, masa dalam setahun cuma 3 kali surplus,” kata Yunita dalam workshop media di Bogor, Minggu (25/11).

Menurutnya, kinerja ekspor Indonesia tidaklah buruk, namun laju pertumbuhan ekspor memang kalah cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan impor. Sebetulnya kinerja ekspor cukup bagus meningkat terus. Tapi laju pertumbuhan ekspor tidak dapat mengimbangi impor. Impornya jauh lebih tinggi dari ekspor.

Dia mengemukakan, kinerja ekspor impor ini sangat berpengaruh pada produk domestik bruto (PDB) nasional. Oleh sebab itu, diharapkan ke depannya pertumbuhan ekspor jauh lebih tinggi daripada impor. Yunita menjelaskan, PDB memang dipengaruhi konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nonprofit, konsumsi pemerintah dan perubahan inventori.

Namun, PDB juga dipengaruhi oleh besarnya ekspor dikurangi impor. Dari data BPS pada Januari tercatat defisit US$ 756 juta, Februari defisit US$ 52,9 juta, Maret surplus US$ 1,12 miliar, April defisit US$ 1,63 miliar, Mei defisit US$ 1,52 miliar, Juni surplus US$ 1,74 miliar, Juli defisit US$ 2,03 miliar, Agustus defisit US$ 1,02 miliar, September surplus US$ 227 juta, Oktober defisit US$ 1,82 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, defisit terjadi karena impor sulit direm. Dia mengatakan, tingginya impor lantaran ekonomi Indonesia terus tumbuh. Sementara, itu kemampuan dalam negeri untuk memproduksi kebutuhan tersebut tidak cukup mumpuni.

“Impornya nggak mau direm, kalau dengan pertumbuhan yang tadi saya singgung kuartal III 5,17%. Kalau ekonomi tumbuh, artinya apa, perlu impor. Karena banyak sekali yang tidak kita hasilkan,” kata Darmin. Sementara, ekspor melambat, ada dua hal yang mempengaruhi lambatnya impor.

Pertama, ekspor Indonesia masih didominasi oleh sumber daya alam seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain. Kedua, melambatnya ekspor karena dampak perang dagang antar Amerika Serikat (AS) dan China. Dampak perang dagang ini membuat ekonomi China melambat sehingga kebutuhan barang mentah berkurang. Darmin mengemukakan, migas menyumbang cukup besar terhadap defisit neraca perdagangan lantaran harga minyak yang tinggi, walaupun belakangan mulai turun.

Darmin tak sepenuhnya menilai defisit neraca perdagangan lantaran impor migas tinggi, karena impor bahan baku dan barang konsumsi juga masih tinggi. Di sisi lain, ekspor juga belum cukup pesat dibandingkan impor yang jalan terus, di samping aliran modal yang keluar (capital outflow) dari Indonesia juga cukup deras sementara modal yang masuk (capital inflow) tidak seberapa. (KRO/RD/medanbisnis)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *