Connect with us

Internasional

Bangsa Bermata Sipit dan Tanda Akhir Zaman

Published

on

70 views

KORANRADARONLINE.co.id: Dalam salah satu haditsnya, Nabi mengatakan bahwa “Kiamat tidak akan terjadi”, sampai kalian memerangi sekelompok orang yang sendalnya terbuat dari rambut, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sipit, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, dan wajah berbentuk perisai yang bundar, (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa “Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu bangsa bermata sipit, bermuka lebar, bermata hitam, muka mereka seperti perisai, memakai sepatu bulu, membawa perisai dan mereka menambatkan kuanya di pohon kurma”.

Siapakah yang dimaksud dengan sekelompok orang bermata sipit, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, dan wajahnya seperti perisai bundar tersebut?.

Terkait hadits itu, Imam Nawawy (Syarh Shahih Muslim, XVIII/38) berpendapat bahwa tanda-tanda itu ada pada zamannya. Umat Islam beberapa kali berperang dengan mereka. Pendapat ini menunjukkan bahwa yang dipahami dengan mata sipit adalah bangsa Mongol yang menyerbu umat Islam hingga meruntuhkan Baghdad sampai akhirnya tumbang di pertempuran Ainun Jalut.

Penyebutan kata “al-Turk” dalam hadits tersebut tidak selalu merujuk kepada bangsa Turki. Namun hal itu terkait dengan ras yang memiliki tanda-tanda seperti yang disebutkan dalam hadits tadi. Karena, pada dasarnya ras al-Turk memilik banyak jenis.

“Di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang bernama Qanthura. Wajah mereka lebar dan matanya sipit, hingga kaum itu sampai ke daerah tepian sungai lalu para penduduknya pecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok pergi mengikuti ekor sapi dan binatang ternak (pergi ke tempat yang jauh dengan membawa binatang ternak mereka untuk bercocok tanam) hingga mereka hancur. Satu kelompok mengambil untuk keamanan mereka (mengajukan atau menerima jaminan keamanan dari bani Qanthura) hingga akhirnya menjadi kafir. Dan satu kelompok melindungi anak serta istri mereka dan berperang melawan musuh (Bani Qanthura) hingga mereka mati sebagai syuhada.” (HR Abu Dawud)

Bani Qanthura dalam kitab “Mirqāt al-Mafātih” (VIII/3408) karya Tibrizi, adalah hamba sahaya Ibrahim yang melahirkan anak-anak keturunan seperti Bangsa Turk dan China.

Selain itu, beliau menduga bahwa yang diprediksi dalam hadits tersebut adalah perang yang terjadi pada masa sekarang antara bangsa Turk dan Muslim. Lebih dekat lagi, itu adalah isyarat pada masalah Jengis Khan dengan segala kerusakan yang dibuat khususnya di Baghdad.”

Di hadits lain, tanda-tanda itu juga merupakan ciri-ciri dari Ya’juj dan Ma’juj. Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan, “Sesunguhnya kalian senantiasa akan berperang dengan musuh hingga kedatangn Ya’juj dan Ma’juj, wajahnya bundar, bermata sipit, jambul rambutnya berwarna putih, mereka turun dari tempat yang tinggi, wajah mereka seperti perisai yang ditempa (tebal dan keras)”.

Dalam buku “al-Mausū’ah fī al-Fitan wa al-Malāhim wa Asyrāthi al-Sā’ah” (2006: 801), Dr Muhammad Ahmad al-Mubayyadh, memberi komentar bahwa hadits itu menjelaskan beberapa ciri Ya’juj dan Ma’juj yang sesuai dengan ciri-ciri bangsa Mongolia, Tatar dan Turk yang terdapat dalam banyak hadits Nabi. Hadits hanya cocok pada penghuni pegunungan di Mansyuria, Mongolia, tepu Siberia dan Asia Tengah.

Apa semua ciri itu ada kaitannya dengan bangsa China?, Wallahu a’lam. Tapi, ada penjelasan menarik dari Dr Shalah Abdul Fattah al-Khalidi dalam buku “Ma’a Qashashi al-Sābiqīn fī al-Qur`ān” (1989: 291-292).

Dikatakan beliau, Ya’juj dan Ma’juj adalah penduduk China, Korea, Mongolia, Tibet, Turkistan dan lainnya. “China saja,” katanya, “sudah terhitung sebagai bahaya yang langsung bagi masa depan Eropa, Amerika dan Arab dari segi jumlahnya”.

Dalam waktu yang sama beliau bertanya, “apa yang akan terjadi di masa depan?, berapa jumlah mereka?, apa yang akan mereka lakukan di dunia ketika pergi ke berbagai negeri?, apa yang terjadi ketika terjadi ledakan penduduk yang sebegitu besar?”.

Seperti yang maklum diketahui, bukan bermaksud mendiskreditkan bangsa tertentu. China merupakan kekuatan besar di Asia yang berpotensi menghegemoni dunia dengan segenap kekuatan dan jumlah penduduk yang dimilikinya.

Meski demikian, beliau tetap memberi catatan bahwa meski ciri-ciri yang disebutkan mengenai Ya’juj dan Ma’juj mirip bangsa China, namun Ya’juj wa Ma’juj yang dijanjikan Rasulullah bukanlah sebagaimana sekarang karena mereka masih dalam kurungan.

Ada juga yang berpendapat seperti Khair Ramdhan, bahwa yang dimaksud dengan Ya’juj dan Ma’juj tidak merujuk pada bangsa tertentu tapi adalah ciri umum yang sesuai bagi setiap bangsa yang perusak dan penghancur.

Dari beberapa keterangan hadits dan ulama, bangsa berkulit sipit yang disabdakan Nabi ada yang sudah terjadi, seperti serangan Jengisk Khan dan Bangsa Mongol dan serangan Bangsa Turk. Ada juga yang terkait dengan Ya’juj dan Ma’juj di akhir zaman.

Terlepas dari kebenaran apakah itu merujuk pada bangsa khusus yang bermata sipit atau hanya sekadar simbol perusak, yang pasti umat harus waspada bahwa kita sudah di ambang akhir zaman. Segala kemungkinan itu patut dijadikan kewaspadaan, minimal untuk diri dan keluarga bahkan negara, agar terproteksi dari kerusakan yang ditimbulkan mereka. (KRO/RD/Hidayatullah)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facts

Prihatin! Populasi Kupu-Kupu Raja Terancam Punah

Published

on

RADARINDO.co.id – Kupu-kupu raja (monarch butterfly) terancam punah dengan penurunan 99 persen jumlah kupu-kupu bermigrasi dalam empat tahun.

Setiap tahunnya, kupu-kupu raja dapat bermigrasi dari wilayah Kanada ke Meksiko. Populasi kupu-kupu ini akan tiba di Meksiko pada awal November dan tinggal di daerah hutan cemara Michoacan hingga Februari.

Migrasi tersebut dilakukan untuk mencari makanan dan kehangatan. Di sisi lain, juga menandakan jumlah kelimpahan spesies tersebut.

Dalam upaya penghitungan kupu-kupu raja yang beristirahat di pepohonan di sepanjang garis pantai California menghasilkan perkiraan jutaan pada 1980-an.

Namun, menurut makalah yang diterbitkan di Biological Conservation pada 2017, mencatat penurunan kupu-kupu raja menjadi 300.000 ekor. Kemudian pada 2018, jumlahnya semakin menurun menjadi 27.000 ekor.

Meskipun tahun lalu jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 29.000 ekor. Tapi menurut Xerces Society yang melakukan penghitungan tahunan, hanya menemukan tidak lebih dari 2.000 kupu-kupu raja di sebelah barat pegunungan.

Bahkan, beberapa area yang dulunya berlimpah dilaporkan tidak ada kupu-kupu raja sama sekali.

“Area-area ini biasanya menampung ribuan kupu-kupu dan ketidakhadiran kupu-kupu raja tahun ini sangat memilukan bagi para sukarelawan dan pengunjung yang berbondong-bondong ke tempat-tempat tersebut, berharap melihat sekilas kumpulan kupu-kupu raja yang menakjubkan,” kata Sarina Jepsen, direktur perkumpulan spesies langka, Minggu (24/1/2021).

Kupu-kupu raja hanya bisa bertelur di atas milkweed, sebuah tanaman herba Amerika Serikat dengan getah susu, dan bergantung pada nektar dari berbagai bunga sebagai bahan bakar perjalanan migrasi.

Sayangnya, sebagian besar area yang dulunya ditanami milkweed sekarang telah diubah menjadi perkotaan dan penggunaan herbisida serta pestisida memengaruhi sebagian besar area lainnya.

Ini menciptakan tren penurunan jangka panjang yang dipercepat dengan perubahan iklim. Kebakaran hutan California musim panas lalu mungkin juga berkontribusi pada penurunan mendadak tahun ini.

Tak hanya itu, meski kupu-kupu raja telah berada dalam daftar spesies terancam punah, namun kupu-kupu tersebut kekurangan perlindungan di tingkat federal dan di negara bagian yang paling berpengaruh.

Xerces mendorong perlindungan bagi spesies kupu-kupu itu dan penanaman milkweed atau bunga lain yang mekar di awal musim, saat makanan paling dibutuhkan.

Kupu-kupu raja umumnya dapat dihitung secara akurat di musim dingin saat melakukan migrasi karena hewan itu berkumpul di beberapa tempat agar satu sama lain tetap hangat. (KRO/RD/ans)

Continue Reading

Headline

Jepang Diguncang Gempa, Ratusan Luka

Published

on

RADARINDO.co.id – Jepang : Gempa bumi berkekuatan 7,3 magnitudo mengguncang prefektur Fukushima, Jepang pada, Sabtu (13/2/2021) pukul 23:08 waktu setempat. Pusat gempa berada di kedalaman 60 kilometer lepas pantai Fukushima.

Gempa memicu tanah longsor dan membuat 100 orang luka-luka. Bencana ini juga membuat operasional kereta api terhenti, dan aliran listrik terputus ke ribuan warga.

Melansir Associated Press (AP), Minggu (14/2/2021) Selain melanda Fukushima, gempa kali ini juga mengguncang melanda daerah rawan gempa prefektur Miyagi.

Hampir 10 tahun lalu kawasan itu juga diguncang gempa kuat yang memicu tsunami, dan menghancurkan tiga reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi.

Tokyo Electric Power Co (Tepco) yang mengoperasikan PLTN Fukushima Daiichi mengatakan, air pendingin bahan bakar di dekat reaktor tumpah karena guncangan, tetapi tidak ada kebocoran radiasi atau kerusakan lainnya. Tv nasional Jepang NHK melaporkan, sekitar 100 orang luka-luka.

Sebagian besar terluka karena terkilir saat jatuh di tangga dan tergores pecahan kaca. Sejauh ini tidak ada laporan korban luka berat atau meninggal dunia. Juga tidak ada laporan tentang kerusakan parah, tetapi berita lokal menayangkan foto-foto tanah longsor di jalan raya.

Gempa Jepang ini tidak menyebabkan tsunami, dan listrik sudah menyala kembali pada Minggu pagi (14/2/2021). Meski begitu, beberapa layanan kereta peluru masih dihentikan.

Yasutoshi Nishimura menteri yang membidangi kebijakan ekonomi dan fiskal, menyampaikan simpati kepada para korban. “Pemerintah akan terus melakukan yang terbaik untuk merespons,” katanya dikutip dari AP.

Beberapa rumah melaporkan mengalami kesulitan mendapat pasokan air. Japan Times mewartakan, pusat gempa berada di kedalaman 60 kilometer lepas pantai Prefektur Fukushima, pada pukul 23.08 waktu setempat.
Surat kabar New York Times melaporkan, pusat gempa berada dekat lokasi gempa dan tsunami dahsyat hampir 10 tahun lalu yang meruntuhkan 3 reaktor nuklir.

Bencana alam itu dikenal dengan nama Gempa Tohoku dan menewaskan 18.000 orang. Badan meteorologi Jepang mengatakan, gempa kali ini adalah lanjutan dari gempa 2011. (KRO/RD/wsp)

Continue Reading

Headline

Pemerintah Saudi Klaim Dua Masjid Suci Paling Sehat

Published

on

RADARINDO.co.id – Arab Saudi : Kepala Presidensi Umum Urusan dua masjid suci, Syekh Abdulrahman As Sudais mengatakan bahwa tidak ada kasus Covid-19 yang tercatat sejak dimulainya pandemi di antara para jamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Hal ini dapat terjadi karena tindakan pencegahan yang telah dilakukan dan terus ditingkatkan seiring dengan berlanjutnya krisis kesehatan.

Al-Sudais menyoroti layanan yang telah diberikan untuk mengurangi risiko kesehatan di masjid, situs suci umat Islam, serta upaya arahan, ilmiah, informasi, teknis, sosial dan sukarela, yang ditingkatkan Kepresidenan.

“Hal ini membuat dua masjid suci itu menjadi tempat yang paling sehat dan sesuai untuk pengendalian infeksi di dunia,” katanya dilansir Arab News, Kamis (4/2/2021).

Setiap orang harus terus mematuhi semua tindakan pencegahan, dan mengabaikan rumor yang tidak berdasar.
Menteri Haji dan Umroh.

Mohammed Saleh Benten mengatakan bahwa berkat upaya bersama dari lembaga pemerintah dan swasta, Arab Saudi telah mampu mengatasi pandemi dengan baik.

Arab Saudi juga telah mengerahkan semua energi dan kemampuannya untuk mengabdi kepada Islam, Muslim dan semua orang yang ingin datang ke Kerajaan.

Sejak awal pandemi, kata Benten, kementerian telah memfasilitasi umrah untuk lebih dari 100 ribu jamaah di Madinah dan lebih dari 600 ribu di Makkah, meskipun terjadi krisis kesehatan dan penutupan sementara kedua masjid.

“Kami berharap untuk tidak melihat keramaian acak yang biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di situs suci,” kata Benten.

Tahun ini, menurut Benten akan ada standar khusus yang ditetapkan bagi jamaah di Makkah dan Madinah, termasuk untuk mereka yang melakukan umrah maupun haji.

Para imam di masjid-masjid di berbagai wilayah di Kerajaan mengatakan mereka akan menggunakan khutbah Jumat untuk menyoroti perlunya semua orang mematuhi tindakan pencegahan dan protokol kesehatan Covid-19, dan untuk memberikan pendidikan dan bimbingan tentang ancaman dan bahaya virus.

Mengingatkan bahwa virus harus dicegah melalui metode kesehatan yang tepat. Tidak keliru jika dikatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. (KRO/RD/wsp)

Continue Reading

headline