Connect with us

Headline

Viral, Omak Omak Warga Sigapiton “Telanjang” Bikin Mata Berkedip, Ini Penyebabnya

Published

on

34 views

RADARINDO.co.id-Medan: Video viral aksi omak – omak (OO) yang melakukan protes dengan membuka baju dan celana atau “telanjang” membuat para petugas keamanan kewalahan dan serba salah.

Konon katanya, para OO yang melakukan aksi itu adalah warga desa Sigapiton, Ajibata, Toba Samosir, Sumatera Utara. Mereka melakukan aksi protes berkaitan atas dugaan penyerobotan tanah. Sehingga aksi bugil OO mengundang perhatian warga. Tak heran para warga yang menyaksikan aksi itu, bikin mata mereka ada yang berkedip dengan senyum kecut. Pasalnya, OO itu seakan kompak tiba dilokasi, saat dihadang petugas langsung ramai ramai buka baju dan celana. Sebagian petugas yang berjaga jaga terpaksa meminta ibu ibu memakai baju dan celananya, tapi tetap OO menolak.
Berdasarkan informasi, beredarnya video viral omak omak “telanjang” belum dapat diketahui secara pasti kapan dan dimana mereka melakukan aksi.
Hingga berita ini dilansir, Biro RADARINDO.co.id Kabupaten Tobasa, Taput, Humbahas dan Samosir masih menelusuri kebenaran informasi tersebut.
Hingga saat ini Kepala Daerah, maupun Kepala Desa terkait belum bisa dimintai keterangan terkait unjuk rasa OO “Telanjang”.
Informasi lain menyebutkan, bahwa pihak pengembangan pariwisata Danau Toba telah merapas tanah adat serta sumber mata air milik masyarakat Desa Sigapiton, Ajibata, Toba Samosir, Sumatera Utara. Danau Toba ditetapkan pemerintah sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) sebagai ‘New Bali’.

Masyarakat Sigapiton mengaku terus berseteru dengan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT). Perseteruan ini dilakukan karena warga setempat merasa dirugikan dengan tindakan sewenang wenang.
“Tanah persawahan penting bagi Sigapiton, kalau ada bangunan kami mati, tidak ada air, tidak ada tempat bertani,” ujar sesepuh warga Sigapiton, yang tidak mau disebutkan namanya, Minggu (15/09/2019).

Sementara itu, BPODT disebut sebut telah melakukan penyerobotan lahan milik warga Desa Sigapiton. Lahan milik warga dipasangi patok tanpa pemberitahuan untuk dibangun bangunan milik BPODT.

Para warga Sigapiton, mengatakan lahan yang diserobot BPODT terdapat sumber mata air untuk pengairan sawah milik warga desa. Saat ini kondisinya mengkhawatirkan karena sudah tercemar. Hingga berita ini dilansir, pihak BPODT belum dapat dikonfirmasi. (KRO/Tobasa/TIM)