Connect with us

Headline

Presiden Belarusia Kecam Nato

Published

on

4 views

RADARINDO.co.id-Belarusia:
Presiden Belarusia Alexander Lukashenko pada Minggu (16/08) menuduh NATO mengerahkan tank dan pesawat tempurnya ke perbatasan barat Belarusia. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh NATO. Berbicara di depan pendukungnya di Minsk, presiden berusia 65 tahun itu menolak seruan oposisi untuk pemilihan ulang dan meminta rakyat Belarusia untuk mempertahankan negara mereka.

“Saya memanggil Anda ke sini bukan untuk membela saya, tetapi untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, untuk membela negara Anda dan kemerdekaannya,” ujar Lukashenko kepada sekitar 5.000 massa yang hadir, bersamaan dengan puluhan ribu pengunjuk rasa yang kembali turun ke jalan menuntut ia mundur.

NATO mengatakan pihaknya sedang memantau situasi di Belarusia. Tetapi membantah tuduhan bahwa pihaknya sedang melakukan pembangunan militer di wilayah Eropa timur itu.

“Kehadiran multinasional NATO di wilayah timur bukanlah ancaman bagi negara manapun. Itu sangat defensif, proporsional, dan dirancang untuk mencegah konflik dan menjaga perdamaian,” kata seorang juru bicara NATO dalam sebuah pernyataan.

Lukashenko yang telah memimpin negara pecahan Uni Soviet selama 26 tahun ini, membantah tuduhan kecurangan. Dia mengatakan unjuk rasa dikarenakan adanya campur tangan asing.

“Jika kita menurut kepada mereka, kita akan kacau balau,” katanya kepada para pendukungnya. “Kita akan hancur sebagai negara, sebagai rakyat, sebagai bangsa.”

“Ibu pertiwi dalam bahaya!” ujar seorang pendukung Lukashenko menanggapi pernyataan tersebut. Sementara pendukung lainnya terus meneriakkan “Kami bersatu,” dan mengibarkan bendera nasional.

“Saya mendukung Lukashenko,” ujar Alla Georgievna (68), kepada Reuters. “Saya tidak mengerti mengapa semua orang menentang dia. Kami mendapatkan unag pensiun dan gaji tepat waktu berkat dia.”

Sementara itu, ratusan ribu pendukung oposisi mengadakan “Pawai Kebebasan” nasional untuk terus mendesak Lukashenko agar mundur.

Di Minsk, kantor berita The Associated Press memperkirakan lebih dari 100.000 orang berunjuk rasa. Mereka berbaris sambil memegang bunga dan balon. Banyak yang mengenakan pakaian putih, warna yang melambangkan gerakan oposisi.

Demonstran memegang spanduk dengan slogan yang bertuliskan “Kami menentang kekerasan” dan “Lukashenko harus bertanggung jawab atas penyiksaan dan kematian.”

Tak hanya di Minsk, namun kota-kota besar lainnya di negara berpenduduk 9 juta orang ini, juga tak luput dari aksi unjuk rasa besar-besaran. Minggu (16/08), menjadi protes kesembilan anti-pemerintah yang digelar secara berturut-turut.

Uni Eropa (UE) mengatakan bahwa pemilihan presiden Belarusia berlangsung secara tidak bebas dan tidak adil. UE sedang bersiap untuk menjatuhkan sanksi pasca pemilihan. Wakil Presiden Komisi Uni Eropa Josep Borrell mengapresiasi unjuk rasa yang terjadi melalui cuitannya: “Ratusan ribu warga Belarusia hari ini berdemonstrasi dengan damai, menuntut pembebasan tahanan politik, penuntutan terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kebrutalan polisi, dan pemilihan umum yang sesungguhnya.”

Sebelumnya pada Minggu (16/08), Rusia mengatakan telah menawarkan bantuan militer kepada Belarusia. Moskow juga mengatakan tekanan eksternal sedang melanda negara itu, tetapi tidak mengatakan dari mana. (KRO/RD/Viva)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *