Connect with us

Headline

Merger Bank-Bank Syariah Tidak Akan Berdampak Terhadap Peningkatan Pangsa Pasar Perbankan Syariah Indonesia

Published

on

2 views

RADARINDO.co.id -Jakarta : Chairman, Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED), Farouk Abdullah Alwyni (FAA), yang juga adalah Anggota Dewan Penasehat, Dewan Pimpinan Pusat, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (DPP IAEI) menjadi salah satu panelis di diskusi panel Internasional Institute for Islamic Economics & Finance (INEIF) yang diselenggarakan secara online pada tanggal 27 November 2020.

Diskusi panel ini bertema “Merger and Acquisition of Islamic Banks during Covid 19 Pandemic in Indonesia.”

Adapun poin-poin yang disampaikan oleh FAA di panel tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Pangsa pasar perbankan Syariah di Indonesia sampai dengan Juni 2020 adalah sebesar 6,13%.
Dewasa ini sepuluh besar perbankan Syariah (kombinasi Bank Umum Syariah [BUS] dan Unit Usaha Syariah [UUS]) sampai dengan Juni 2020 adalah (mulai dari bank dengan nilai aset terbesar) Bank Syariah Mandiri (BSM) (Rp114,4 triliun), BNI Syariah (Rp50,8 triliun), BRI Syariah (Rp49,6 triliun), Bank Muamalat Indonesia (BMI) (Rp48,6 triliun), CIMB Niaga Syariah (Rp43,1 triliun), BTN Syariah (Rp31,1 triliun), Maybank Syariah (Rp30,1 triliun), Bank Aceh Syariah (Rp24,2 triliun), Bank Permata Syariah (Rp21,7 triliun), dan BTPN Syariah (Rp15,3 triliun). BMI yang dalam waktu lama selalu berada diposisi kedua sekarang ini tergeser oleh BNI Syariah dan BRI Syariah, dua bank peserta merger.

Saat ini belum ada Bank Syariah yang masuk dalam sepuluh besar perbankan Indonesia. Adapun sepuluh besar perbankan Indonesia (s/d September 2019) adalah sebagai berikut mulai dari nilai asset terbesar: Bank Rakyat Indonesia (Rp1,238.7 triliun), Bank Mandiri (Rp1,097.7 triliun), Bank Central Asia (Rp875,7 triliun), Bank Negara Indonesia (Rp756,8 triliun), Bank Tabungan Negara (Rp316,2 triliun), CIMB Niaga (Rp260,9 triliun), Pan Indonesia (Panin) Bank (Rp192,9 triliun), OCBC NISP (Rp175,5 triliun), BTPN (Rp168,9 triliun), dan Bank Danamon (Rp168,2).

Secara global, total asset perbankan Syariah di Indonesia ditahun 2018 adalah berada diurutan 10 dengan nilai sebesar US$ 28 milyar, 9 negara dengan asset terbesar adalah Iran (US$ 488 milyar), Saudi Arabia (US$ 390 milyar), Malaysia (US$ 214 milyar), United Arab Emirate (UAE)(US$ 194 milyar), Kuwait (US$ 100 milyar), Qatar (US$ 97 milyar), Turki (US$ 39 milyar), Bangladesh (US$ 36 milyar), dan Bahrain (US$ 35 milyar).

Sampai dengan kuartal ketiga 2019, porsi asset perbankan Syariah Indonesia secara global adalah sebesar 2%, masih jauh dibawah negara-negara seperti Iran (28.6%), Saudi Arabia (24.9%), Malaysia (11.1%), UAE (8.7%), Kuwait (6.3%), dan Qatar (6,1%).

Berdasarkan data dari Islamic Financial Services Board (IFSB), perbankan Syariah di Indonesia juga dianggap belum mencapai level “sistemic importance” mengingat porsi perbankan Syariah masih dibawah 15% dari total asset industri perbankan Indonesia.

Di-antara negara-negara yang level industri perbankan Syariahnya telah berada diatas level 15% dari total asset industry perbankan adalah Iran dan Sudan (100%).

Brunei Darussalam dan Saudi Arabia (antara 60% dan 70%), Kuwait (antara 40% dan 50%), Bangladesh, Malaysia dan Qatar (antara 20% dan 30%), dan Bahrain, Djibouti, Jordan, Palestine, dan UAE (antara 15% dan 20%).

Posisi BSM sebagai bank Syariah terbesar di Indonesia dalam konteks perbankan Syariah global masih berada dalam posisi No 33.

Jauh dibawah bank-bank Syariah besar yang berada di Timur Tengah dan Malaysia seperti: Al-Rajhi Bank, Dubai Islamic Bank, Kuwait Finance House, Maybank Islamic, Qatar Islamic Bank, Abu Dhabi Islamic Bank, CIMB Islamic, dan Bank Islam Malaysia,” papar Farouk Alwyni Saat diskusi panel, Jumat, (27/11/2020).

Inisiatif merger bank-bank Syariah anak perusahaan BUMN sekarang ini akan menjadikan total asset Bank Syariah hasil merger tersebut menjadi sekitar Rp214 triliun dan akan menempatkannya di posisi No 7 terbesar dalam industri perbankan Indonesia, dan berkisar antara no.16 dan 18 dalam konteks perbankan Syariah global.

“Dalam satu sisi, Indonesia memerlukan satu bank Syariah besar yang bisa bersaing dalam level global, dan juga mampu melakukan pembiayaan-pembiayaan besar di sektor infrastruktur dan serta dapat menginisiasi sindikasi untuk projek-projek besar.
Tetapi disisi lain perlu dicatat, bahwa merger ini tidak akan berdampak untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan Syariah di Indonesia, kecuali jika kedepannya bank hasil merger ini dapat bersaing dengan bank-bank besar konvensional lainnya dan berkontribusi untuk menciptakan dan mengembangkan pasar perbankan Syariah baru, tetapi sepertinya hal ini akan membutuhkan waktu yang tidak cepat,” imbuhnya.

“Disatu sisi merger yang tengah berlangsung ini diharapkan menjadi peluang baru mengingat dalam kondisi sekarang adalah kesempatan untuk mengakselerasi digitalisasi dari jasa-jasa layanan perbankan, dan tentunya perbankan Syariah adalah bukan kekecualian. Bank hasil merger ini juga diharapkan dapat bersaing dengan bank-bank Syariah besar level regional seperti Maybank Islamic dan CIMB Islamic, khususnya dalam hal adaptasi yang lebih kepada bisnis digital.

Disisi lain merger juga bisa menjadi sebuah tantangan mengingat tingkat kredit macet diperkirakan akan meningkat dimasa-masa pandemik seperti sekarang ini, isu ekpansi pasar juga adalah tantangan yang lain. Disukai atau tidak dampak dari covid-19 berpengaruh terhadap banyak bisnis, menggunakan skenario terbaik, bisnis cenderung tidak berekspansi pada masa-masa sekarang ini, sedang kemungkinan terburuk adalah penutupan bisnis yang tentunya akan menyebabkan mereka tidak bisa membayar kewajiban-kewajiban perbankannya,” ungkap Farouk.

Sebenarnya gagasan untuk mendirikan sebuah bank Syariah besar adalah tidak baru, sebelumnya hal ini pernah diangkat oleh kementerian BUMN pada masa Dahlan Iskan.

Bagaimanapun apa yang dilakukan sekarang adalah sebuah upaya untuk memajukan industri perbankan Syariah Indonesia. Tetapi seperti point yang telah disebutkan diatas, hal ini tidak akan memperbesar pangsa pasar perbankan Syariah dewasa ini.

Yang terbaik bisa diharapkan adalah bank hasil merger tersebut dapat berkontribusi untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan Syariah.
Tetapi untuk menjadikan bank Syariah hasil merger itu bisa berkembang sukses, maka hal-hal yang diperlukan diantaranya adalah: penciptaan nilai-nilai perusahaan yang solid, dengan menjadikan karakter, etik, dan integritas menjadi hal yang penting di dalam perusahaan; penerapan GCG yang baik dan juga manajemen risiko; inovasi produk dan pelayanan yang ‘excellence,’ serta tentunya teknologi yang mendukung khususnya dalam mengkakselerasi era digitalisasi sekarang ini.

Disamping juga jaringan nasional dan internasional yang mumpuni.
Yang bisa secara cepat meningkatkan pangsa pasar perbankan Syariah adalah bukan melalui merger seperti yang dilakukan sekarang ini, melainkan melalui konversi salah satu bank BUMN besar yang ada sekarang ini, misalnya BRI atau BTN dikonversi menjadi bank Syariah.

“Jika ini dilakukan maka dampaknya terhadap peningkatan pangsa pasar industri Syariah akan terjadi secara signifikan, disamping juga dampak internasional dalam menguatkan peran industri perbankan Syariah Indonesia di percaturan keuangan Syariah global,” pungkas Farouk. (KRO/RD/fri)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Headline

Besok, DPD AMPI Sumut Akan Gelar Musda ke VII

Published

on

Besok, DPD AMPI Sumut Akan Gelar Musda ke VII

RADARINDO.co.id – Medan: Besok, DPD AMPI Sumut akan gelar Musda ke VII di hotel Polonia, Medan, Jumat dan Sabtu 25 – 26 Februari 2021.

Dewan Pimpinan Daerah Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (DPD AMPI) Sumut bakal menggelar musyawarah daerah (Musda) ke VII bakal diikuti 27 DPD Kab/Kota yang ada di Sumut.

Baca Juga : Sabu Senilai 4 Milyar Berhasil Diamankan Sat Narkoba Polresta DS

“DPD AMPI Sumut bakal menggelar Musda ke VII, dan semua peserta harus mematuhi protokol kesehatan,” ujar Ketua DPD AMPI Sumut, David Luthet Lubis kepada wartawan.

Peserta Musda dibatasi hanya 150 orang. Kita akan tetap mematuhi aturan yang sudah ditetapkan pemerintah, makanya peserta dibatasi, tambahnya.

“Guna menyukseskan Musda semua peserta wajib mematuhi prokes yang berlaku, akan dilakukan swap di lokasi acara”, ujarnya lagi.

Musda ke VII AMPI Sumut nantinya bakal dibuka langsung oleh Ketua Umum AMPI, Dito Aryotedjo. Sementara itu, Ketua Panitia Musda AMPI ke VII, Gabriel menyatakan kesiapan panitia dan kegiatan sudah mendekati rampung secara keseluruhannya.

Baca Juga : Kasus Nakes Pria Mandikan Jasad Wanita Covid Dihentikan

Ditempat berbeda, Ketua Satgas AMPI Sumatera Utara, Chandra Lingga kepada RADARINDO.co.id mengatakan Musda ke VII akan digelar di Medan.

“Insya Allah persiapan untuk Musda AMPI Sumut ke VII sudah rampung. Kita doa kan semoga kegiatan Musda berjalan lancar dan sukses”, ujar Ketua Satgas AMPI Sumut, Chandra Lingga, didampingi Abdi Sitorus dan Zulkifli Nasution. (KRO/RD/Juli)

Continue Reading

Deli Serdang

Sabu Senilai 4 Milyar Berhasil Diamankan Sat Narkoba Polresta DS

Published

on

Sabu Senilai 4 Milyar Berhasil Diamankan Sat Narkoba Polresta DS

RADARINDO.co.id – Deli Serdang : Sabu Senilai 4 Milyar Berhasil Diamankan Sat Narkoba Polresta DS.

Satuan Narkotika dan obat-obatan (Sat Narkoba) Polresta Deli Serdang berhasil mengungkapkan kasus narkoba seberat 5 Kg lebih sabu-sabu yang ditaksir bernilai Rp 4 miliaran. “Atas kerja keras ini kami akan memberikan reward,” kata Kapolres.

Dalam paparan pres rilisnya, Kapolresta Deli Serdang Kombes Pol Yemi Mandagi SIK didampingi Kasat Narkoba Polresta Deli Serdang, Kompol Ginanjar Fitriadi SIk mengemukakan hal tersebut di Aula Tribrata, Kamis (25/2/2021).

Diketahui Polresta Deli Serdang berhasil membekuk dua pria kurir narkoba jenis sabu seberat 5.142 gram dalam kemasan bungkus teh.

Baca juga : Geger, Penemuan Bayi Perempuan Dalam Kantong Plastik 

Dua tersangka yang ditangkap masing-masing berinisial MN (30) dan JAS (29), keduanya warga Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan.

Uraian singkat dikatakannya, penangkapan berawal dari informasi masyarakat akan ada transaksi narkoba jenis sabu sabu di salah satu hotel di Deli Serdang. Kemudian petugas melakukan surveilance (pengamatan) terhadap orang yang dicurigai, namun belum membuahkan hasil.

Penangkapan berawal dari informasi masyarakat, akan ada transaksi narkoba jenis sabu sabu di salah satu hotel di Deli Serdang. “Kemudian petugas melakukan surveilance (pengamatan) terhadap orang yang dicurigai namun belum membuahkan hasil,” jelas Yemi.

Namun beberapa hari berikutnya, petugas kembali mendapatkan informasi, pelaku akan kembali melakukan transaksi narkoba dan petugas langsung melakukan pembuntutan di wilayah hukum Polrestabes Medan, tepatnya di Jalan Pancing, Medan, Selasa (23/2/21) lalu.

Petugas mencurigai dua orang pemuda membawa ransel dan langsung mengamankan kedua tersangka, ketika dilakukan pengeledahan di dalam tas ransel, petugas menemukan 5 kg sabu sabu dalam lima bungkusan teh.

Lewat interogasi petugas, tersangka mengaku barang haram itu berasal dari seseorang yang tidak mereka kenal di Tanjung Balai.

Kedua tersangka juga mengaku sudah dua kali melakukan menjadi kurir narkoba jenis sabu dengan imbalan sebesar Rp 10 juta per kg.

Petugas terpaksa melakukan tindakan tegas dengan menembak kaki tersangka MN karena melawan petugas.

Kedua tersangka di boyong ke Sat Narkoba Polresta Deli Serdang, guna penyelidikan berikut barang bukti lain di antaranya hand phone tersangka.

Baca juga : Gunung Semeru Semburkan Awan Panas Pertanda Apa? 

Terhadap pengungkapan kasus ini, Kapolresta akan memberikan reward kepada Sat Narkoba Polresta Deli Serdang. “Ini merupakan prestasi bagus,” ujar Yemi Mandagi.

Kasus ini masih dalam pengembangan Sat Narkoba Polresta Deli Serdang dan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka kini meringkuk di sel tahanan Polresta Deli Serdang guna proses lanjutan.

Saat dikonfirmasi oleh awak media, Kapolresta Deli Serdang Kombes Pol Yemi Mandagi, SIK mengatakan “ Pelaku MN dan JAS dipersangkakan Pasal 114 ayat (2) subs Pasal 112 Ayat (2) Jo 132 ayat (1) dari uu no 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana minimal 6 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.”, Ungkap Kapolresta. (KRO/RD/Hari’S)

Continue Reading

Headline

Kasus Nakes Pria Mandikan Jasad Wanita Covid Dihentikan

Published

on

Kasus Nakes Pria Mandikan Jasad Wanita Covid Dihentikan

RADARINDO.co.id – Medan : Kasus Nakes Pria Mandikan Jasad Wanita Covid Dihentikan.

Polisi telah melimpahkan berkas kasus 4 Tenaga Kesehatan (Nakes) tersangka kasus memandikan jenazah wanita positif Corona di Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), ke jaksa. Berkas keempat tersangka sudah lengkap (P21) dan kasusnya segera disidangkan.

“Sudah P21 dan sudah dilimpahkan ke Kejaksaan,” Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar, AKP Edi Sukamto, saat dimintai konfirmasi RADARINDO.co.id, Selasa (23/2/2021).

Edi tidak menyebutkan secara detail kapan pihaknya menyerahkan berkas beserta para tersangka itu. Keempat nakes tersebut disangkakan beberapa pasal.

Selain disangkakan dengan UU tentang Praktik Kedokteran, mereka terjerat pasal penistaan agama. AKP Edi mengatakan keluarga pasien wanita Corona juga melaporkan keempat tersangka dengan pasal penistaan agama. “Korban buat LP penistaan agama,” kata AKP Edi.

Baca juga : Pimpinan PT KEI Diperiksa Polresta DS Terkait Penggunaan Kawasan Hutan Tanpa Hak 

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Hadi Wahyudi, mengatakan, setelah dilakukan gelar perkara soal kasus yang dilaporkan oleh Fauzi Munthe, petugas menjerat para tersangka dengan tindak pidana penistaan agama.

“Hasil gelar perkara di Wasidik Ditkrimum Poldasu disimpulkan perkara yang dilaporkan Fauzi Munthe adalah merupakan peristiwa tindak pidana penistaan agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 a KUHP atau tidak memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 jo Pasal 51 UU No 79 tahun 2014 tentang Praktik Kedokteran,” sebut Kombes Hadi saat dihubungi terpisah.

Untuk diketahui, kasus jenazah pasien Corona wanita diduga dimandikan petugas pria di RSUD Djasamen Saragih, Pematangsiantar, Sumut, ini bermula ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pematangsiantar memanggil pihak RSUD. Mereka dipanggil karena adanya jenazah pasien Corona wanita yang dimandikan oleh petugas pria di RSUD itu.

“Iya. Itulah mereka laki-laki. Karena suaminya nggak terima, menyampaikan ke kita, itulah semalam kita panggil rumah sakitnya ke kantor MUI,” kata Ketua MUI Kota Pematangsiantar, Muhammad Ali Lubis, Kamis (24/9/2020).

Ali menyebut pasien Corona itu meninggal pada Minggu (20/9). Namun dia tidak menjelaskan status pasien yang meninggal dan dikubur dengan protokol kesehatan itu.

Dalam pertemuan dengan pihak rumah sakti, MUI kemudian mempertanyakan alasan pihak RSUD menggunakan petugas pria untuk memandikan jenazah wanita. Ali mengatakan pihak RSUD mengatakan hal itu dilakukan karena tidak adanya petugas wanita untuk memandikan jenazah di RS itu.

“Kenapa dilaksanakan begitu? Katanya nggak ada bilal perempuan,” ujarnya.
Ali menjelaskan peristiwa itu tidak sesuai dengan tata cara memandikan jenazah sesuai hukum Islam. Dijelaskan Ali, jenazah wanita yang dimandikan pria merupakan dosa besar.

“Nggak boleh jenazah perempuan dimandikan laki-laki, kecuali suaminya atau mahramnya,” tutur Ali.

Baca juga : Gunung Semeru Semburkan Awan Panas Pertanda Apa? 

Atas kejadian itu, pihak RSUD disebut sudah menyampaikan permintaan maaf. Namun pihak keluarga dari jenazah membuat laporan ke polisi.

Setelah kasus mencuat, Direktur RSUD Djasamen Saragih itu pun diganti. Pihak Humas Pemko Pematangsiantar mengatakan pergantian Direktur RSUD Djasamen Saragih merupakan perintah Wali Kota Pematangsiantar.
Kemudian, petugas yang memandikan jenazah itu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

“Betul (empat orang menjadi tersangka),” ucap Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Sutan Binangga Siregar saat dimintai konfirmasi, Jumat (11/12/2020).
Dia menyebut keempatnya dijerat Pasal 79 C juncto Pasal 51 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. (KRO/RD/wsp)

Continue Reading

headline