Connect with us

Headline

Longsor Di Sibolangit Bisa Dipicu Kegiatan Neotektonik

Published

on

17 views

RADARINDO.co.id – Tanah Karo : Peristiwa longsor yang terjadi di Sibolangit sehingga menutup akses jalan Nasional Medan-Berastagi, Kamis (3/12) sekitar pukup 21.00, bisa dipicu aktivitas Neotektonik.

“Guncangan-guncangan dari aktivitas neotektonik menyebabkan terjadinya guguran batuan (rock fall). Terlebih ada prakondisi pada massa batuan di kawasan Sembahe-Sibolangit, dimana massa batuan tercacah-cacah oleh retakan retakan. Massa batuan sudah tidak solid, sudah terbentuk rongga-rongga yang dibentuk oleh rekahan-rekahan yang rentan berguguran”. Hal ini disebutkan Ahli Gempabumi Sumatera Utara Ir. Jonathan I. Tarigan, Jumat (4/12), melansir dari waspada.

Bisa saja gempabumi barusan mengguncang massa batuan di jalur Sembahe-Sibolangit itu yang menyebabkan guguran batuan (rock fall)”, ujarnya. Namun dalam upaya mengatasi terhalangnya perjalanan dari Medan ke Tanah Karo, Dairi hingga ke Aceh Tenggara akibat kejadian longsor di koridor Sembahe-Sibolangit-Bandar Baru, perlu dibangun jalan alternatif.
Ada dua jalur jalan alternatif yang berpotensi untuk dibuka akses jalan ke ibu kota Provinsi Sumut.

Akses alternatif yang pertama melalui Tongkoh dekat Tahura Bukit Barisan di Kabupaten Karo melintasi Desa Silangge-langge dan desa Cingkam di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang masuk ke jalur jalan kabupaten Deliserdang yang menghubungkan Bandar Baru ke Penen/Sibiru-biru – Delitua dan berlanjut ke Medan.

Akses jalan alternatif ke dua melalui Desa Jaranguda sekitar Berastagi di Kabupaten Karo ke Dusun Tanduk Benua desa Sukamakmur dan berlanjut ke Kutalimbaru dan dapat menjangkau kota Medan melalui Lau Bekeri ataupun melalui Tuntungan – Pancurbatu ke Medan.

Kedua jalur jalan alternatif lintas kabupaten yang dapat dikoordinasikan dan dilaksanakan oleh Pemprov Sumut, katanya. Namun sebelum akses jalur alternatif ini dapat digunakan kata Jonathan, sangat perlu sekali ditempatkan alat-alat berat selama 24 jam khususnya di titik-titik rawan longsor baik oleh Pemkab Karo, Deliserdang, Pemprovsu dan pengelola jalan Nasional ini terutama musim hujan, sebutnya.

Akibat peristiwa longsor ini, banyak pihak yang dirugikan baik secara materi maupun rugi waktu, terutama para pengusaha dan wisatawan yang selama ini sebagai wajib pajak. Pemerintah hendaknya segera membenahi jalur ini, agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi, sebab pengakuan Otong dan Dava S wisatawan dari Medan, kendaraan mereka terjebak longsor sejak Kamis (3/12) malam, sampai berita ini dikirim ke redaksi, mereka masih terjebak di sana.

Dan menurut mereka, banyak pengguna jalan yang terjebak kehabisan bahan makanan karena stok sudah habis. Karena kemacetan arus lalulintas dari kedua jurusan lebih 10 kilo meter. (KRO/RD/wspda)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *