Connect with us

Ekonomi

Utang Luar Negeri Tembus US$417,5 Miliar

Published

on

26 views

RADARINDO.co.id – Jakarta : Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal IV/2020 mencapai US$417,5 miliar.

Direktur Eksekutif Informasi tentang Bank Indonesia Erwin Haryono menjelaskan, jumlah tersebut terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) US$209,2 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) US$208,3 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, ULN Indonesia pada akhir kuartal IV/2020 tumbuh 3,5% (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya 3,9% (yoy).

“Perlambatan ULN tersebut terutama disebabkan perlambatan pertumbuhan ULN swasta,” kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (15/2).

Bank Indonesia mencatat, ULN Pemerintah tumbuh meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal IV/2020, ULN Pemerintah tercatat US$206,4 miliar atau tumbuh 3,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal III/2020 1,6% (yoy).

Erwin bilang, perkembangan ini didukung oleh terjaganya kepercayaan investor sehingga mendorong masuknya aliran modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Tidak hanya itu, juga didukung dengan adanya penarikan sebagian komitmen pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Untuk itu, Erwin menyatakan ULN Pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas, yang di antaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial atau 23,9% dari total ULN Pemerintah.

Sementara itu, sektor konstruksi 16,7%, sektor jasa pendidikan 16,7%, dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 11,9%, serta sektor jasa keuangan dan asuransi 11,1%.

ULN Swasta Melambat

Erwin memaparkan, ULN swasta tumbuh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ULN swasta pada akhir kuartal IV/2020 tercatat 3,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya 6,2% (yoy).

Dia menjelaskan, perkembangan ini didorong oleh melambatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK), serta kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan (LK) yang lebih dalam.

Pada akhir kuartal IV/2020, ULN PBLK tumbuh 6,4% (yoy), melambat dari pertumbuhan kuartal sebelumnya 8,4% (yoy).

Selain itu, kontraksi ULN LK tercatat 4,7% (yoy), lebih besar dari kontraksi pada kuartal sebelumnya yang tercatat 0,9% (yoy).

Sementara berdasarkan sektornya, ULN terbesar dengan pangsa mencapai 77,1% dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian.

Erwin menyebutkan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Dia bilang, struktur ULN yang sehat tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir kuartal IV/2020 yang tetap terjaga di kisaran 39,4%, meskipun meningkat dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya 38,1%.

Struktur ULN Indonesia yang tetap sehat juga tercermin dari besarnya pangsa ULN berjangka panjang yang mencapai 89,1% dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah menyatakan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian,” tutup Erwin. (KRO/RD/ans)