Connect with us

Facts

Prihatin! Populasi Kupu-Kupu Raja Terancam Punah

Published

on

45 views

RADARINDO.co.id – Kupu-kupu raja (monarch butterfly) terancam punah dengan penurunan 99 persen jumlah kupu-kupu bermigrasi dalam empat tahun.

Setiap tahunnya, kupu-kupu raja dapat bermigrasi dari wilayah Kanada ke Meksiko. Populasi kupu-kupu ini akan tiba di Meksiko pada awal November dan tinggal di daerah hutan cemara Michoacan hingga Februari.

Migrasi tersebut dilakukan untuk mencari makanan dan kehangatan. Di sisi lain, juga menandakan jumlah kelimpahan spesies tersebut.

Dalam upaya penghitungan kupu-kupu raja yang beristirahat di pepohonan di sepanjang garis pantai California menghasilkan perkiraan jutaan pada 1980-an.

Namun, menurut makalah yang diterbitkan di Biological Conservation pada 2017, mencatat penurunan kupu-kupu raja menjadi 300.000 ekor. Kemudian pada 2018, jumlahnya semakin menurun menjadi 27.000 ekor.

Meskipun tahun lalu jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 29.000 ekor. Tapi menurut Xerces Society yang melakukan penghitungan tahunan, hanya menemukan tidak lebih dari 2.000 kupu-kupu raja di sebelah barat pegunungan.

Bahkan, beberapa area yang dulunya berlimpah dilaporkan tidak ada kupu-kupu raja sama sekali.

“Area-area ini biasanya menampung ribuan kupu-kupu dan ketidakhadiran kupu-kupu raja tahun ini sangat memilukan bagi para sukarelawan dan pengunjung yang berbondong-bondong ke tempat-tempat tersebut, berharap melihat sekilas kumpulan kupu-kupu raja yang menakjubkan,” kata Sarina Jepsen, direktur perkumpulan spesies langka, Minggu (24/1/2021).

Kupu-kupu raja hanya bisa bertelur di atas milkweed, sebuah tanaman herba Amerika Serikat dengan getah susu, dan bergantung pada nektar dari berbagai bunga sebagai bahan bakar perjalanan migrasi.

Sayangnya, sebagian besar area yang dulunya ditanami milkweed sekarang telah diubah menjadi perkotaan dan penggunaan herbisida serta pestisida memengaruhi sebagian besar area lainnya.

Ini menciptakan tren penurunan jangka panjang yang dipercepat dengan perubahan iklim. Kebakaran hutan California musim panas lalu mungkin juga berkontribusi pada penurunan mendadak tahun ini.

Tak hanya itu, meski kupu-kupu raja telah berada dalam daftar spesies terancam punah, namun kupu-kupu tersebut kekurangan perlindungan di tingkat federal dan di negara bagian yang paling berpengaruh.

Xerces mendorong perlindungan bagi spesies kupu-kupu itu dan penanaman milkweed atau bunga lain yang mekar di awal musim, saat makanan paling dibutuhkan.

Kupu-kupu raja umumnya dapat dihitung secara akurat di musim dingin saat melakukan migrasi karena hewan itu berkumpul di beberapa tempat agar satu sama lain tetap hangat. (KRO/RD/ans)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facts

Penemuan yang Diduga Runtuhan Kota Kuno Ternyata Fenomena Alam

Published

on

RADARINDO.co.id : Hasil penelitian yang telah dipublikasi di ScienceDirect mengatakan, bebatuan yang ditemukan sekelompok penyelam pada tahun 2013 di kedalaman sekitar enam meter yang diduga merupakan runtuhan kota kuno, ternyata hanya fenomena alam.
Temuan fenomenal yang semula diperkirakan berusia jutaan tahun atau pada zaman Pliosen (mulai dari lima juta tahun lalu) itu, diyakini oleh para arkeolog lantaran tidak ditemukan tanda-tanda peradaban.
Pada 2013 lalu, sekelompok penyelam terkejut ketika menemukan bebatuan di kedalaman sekitar enam meter yang diduga merupakan reruntuhan kota kuno. Bebatuan ini berada di sekitar Pulau Zakynthos, Yunani. Tertutup tumbuhan alga, bebatuan ini berbentuk silinder simetris layaknya dipahat oleh manusia.
Namun, studi terbaru mengungkapkan bahwa susunan batuan dan sejumlah pilar yang diduga dari bekas halaman tersebut, bukan peninggalan peradaban masa lalu, tetapi batuan hasil fenomena alam.
Dalam siaran persnya beberapa waktu lalu, kepala studi dan profesor Sekolah Ilmu Pengetahuan Lingkungan University of East Anglia, Inggris, Julian Andrews, mengatakan bahwa bebatuan tersebut terlihat seperti reruntuhan pilar dan lantai berubin. Bebatuan tersebut diduga terbentuk sedemikian rupa akibat proses kimiawi mikroba.
Dilansir USA Today, para peneliti menyelidiki detail kandungan mineral sampel dan tekstur formasi batuan bawah laut dengan menggunakan teknik mikroskopi, sinar X, dan teknik lainnya.
Pilar dan lantai batu yang ditemukan sebenarnya hasil bocoran gas dari patahan tepat di bawah dasar laut. Gas metana yang keluar memberikan energi ke mikroba untuk hidup di sedimen di dasar laut dan kemudian mengubah sedimen menjadi semen alami yang dikenal sebagai dolomit.
Proses ini dikenal sebagai “konkresi” yang umum terjadi pada sedimen kaya mikroba. Tetapi karena patahan yang terjadi tidak terbuka sepenuhnya, maka terbentuk tabung dan kolom dalam sedimen tersebut. (KRO/RD/ANS)

Continue Reading

Facts

Ilmuwan Ciptakan Otak Manusia Purba

Published

on

RADARINDO.co.id : Kalangan ilmuwan membawa “otak mini” ma­nusia purba dari masa 40.000 tahun lalu di ke­hidupan saat ini guna melihat tingkat perbedaan antara manusia dengan kerabat terdekatnya.

Svante Paabo, direktur depar­te­men genetika di Max Planck Insti­tute for Evolutionary An­thro­po­logy di Leipzig, Jerman dan tim­nya, menumbuhkan organoid ini dari sel induk manusia yang te­­lah disunting agar sejumlah gen mengandung karakteristik Neanderthal. Lalu, mereka mereplikasi beberapa struktur dasar otak manusia dewasa.

Gumpalan kecil jaringan yang disebut organoid otak tersebut ti­dak mampu melahirkan pikiran atau perasaan, tetapi akan meniru struk­tur dasar otak manusia dewasa.

Kemajuan teknologi kembali membawa terobosan baru ke ranah sains. Temuan terbaru kali ini ada­lah gumpalan kecil jaring­an (se­kitar ukuran kacang-kacang­an) yang akan dikembangkan dari sel induk manusia, hasil pengolahan mengandung DNA manusia purba Neanderthal (Homo neandertha­lensis) yang hadir sebelum nenek moyang manusia (Homo sapiens).

Paabo sebelumnya memim­pin upaya internasional yang telah sukses memecahkan genom Neanderthal. Kini ,dirinya fokus un­tuk membawa ciri-ciri Neanderthal kembali di kehidupan se­ka­rang melalui teknik penyuntingan gen yang canggih dilakukan dalam laboratorium.

Laboratorium tersebut telah memasukkan gen Neanderthal un­tuk pengembangan kraniofasial (tulang kepala) ke tikus dan gen persepsi nyeri Neanderthal ke da­lam telur katak. Hasilnya, da­pat meng­isyaratkan apakah mereka me­miliki ambang rasa sakit yang berbeda dengan manusia. Sekarang, laboratorium tersebut meng­alihkan perhatiannya ke cara kerja otak.

“Kami melihat apakah kami da­pat menemukan perbedaan men­dasar dalam bagaimana sel-sel saraf berfungsi yang mungkin men­jadi dasar mengapa manusia se­cara kognitif tampak begitu istimewa,” kata Paabo dikutip dari The Guardian.

Mereka juga menyelidiki ba­gaimana gen Neanderthal yang dite­mukan saat ini sebagai popu­lasi Eropa dan Asia terhubung de­ngan perkembangan otak.

“Kami ingin tahu diantara hal-hal itu apakah ada sesuatu yang bersembunyi yang benar-benar mem­buat manusia berbeda. Apa­kah ada dasar biologis mengapa ma­nusia modern kemudian menja­di jutaan dan akhir­nya miliaran orang, tersebar di seluruh dunia dan memiliki budaya,” urainya.

Para peneliti berfokus pada tiga gen yang dikenal sangat pen­ting un­tuk perkembangan otak. Ke­mu­dian, mereka mengguna­kan pe­nyuntingan gen CRISPR untuk mengubah sel induk manusia men­jadi sesuatu yang menyerupai sel-sel Neanderthal. Sel-sel kemudian didorong untuk menggumpal men­ja­di struktur organoid.

Para peneliti berencana untuk membandingkan organoid Neanderthal dengan manusia sepenuh­nya guna menilai kecepatan sel-sel induk membelah, mengem­bang, dan mengatur diri ke dalam struk­tur otak tiga dimensi. Pene­liti juga ingin mengeksplorasi apa­kah sel-sel otak memiliki “kabel” yang berbeda.

Apa yang Paabo dan timnya tidak ingin lakukan adalah mencip­takan otak Neanderthal yang ber­fungsi penuh. Sebab, pada 2013, George Church dari Harvard University menyatakan bahwa kloning bayi Neanderthal mungkin diciptakan jika ada seorang perempuan yang berani bertindak sebagai ibu peng­ganti.

Menurut Paabo, skenario se­perti itu tidak etis dan tidak dapat diraih dengan teknologi saat ini. “Orang-orang seperti saya mung­­­kin terlihat seperti orang yang membosankan dan tidak vi­sioner, mengatakan bahwa hal se­perti itu (kloning bayi Neanderthal) tidak mungkin dan berpikir tentang etika,” imbuhnya. (KRO/RD/ANS)

Continue Reading

Facts

Fakta Penyakit Psoriasis

Published

on

KORANRADARONLINE.co.id: Psoriasis adalah penyakit yang disebabkan karena kondisi autoimun. Ketika seseorang mengalami penyakit psoriasis, sistem kekebalan tubuh akan membuat sel kulit tumbuh lebih cepat dari biasanya.

Sel kulit akhirnya menumpuk dan membuat jaringan kulit tumbuh tidak normal, sehingga kulit terlihat tebal dan bersisik. Kondisi kesehatan ini kerap kali muncul di permukaan kulit bagian siku, kulit kepala, punggung bagian bawah, dan lutut. Kulit, normalnya membutuhkan waktu 28 hingga 30 hari untuk memproduksi sel kulit baru dan melepaskan sel kulit yang sudah lama.

Sementara pada orang dengan penyakit psoriasis, sel kulit baru bisa muncul dalam 3-4 hari dan terus menekan ke permukaan kulit. Seiring tumbuhnya sel kulit baru, sel kulit sebelumnya yang sudah muncul belum bisa dilepaskan dari permukaan kulit. Alhasil, semuanya saling menumpuk di atas satu sama lain. Semakin banyak sel kulit baru yang diproduksi, sel kulit lama terdesak ke permukaan, membentuk lapisan tebal, merah, gatal dan bersisik.

Menurut American Academy of Dermatology, seseorang yang mengalami psoriasis memiliki suatu gen bawaan khusus yang dapat mengacaukan sistem kekebalan tubuh. Dalam beberapa kasus psoriasis, meski seseorang memiliki gen bawaan itu tetap diperlukan pemicu dari lingkungan agar psoriasis aktif dan bisa berkembang. Namun ada juga kondisi yang tidak dipengaruhi faktor pemicu tertentu.

Dilansir dalam laman Healthline, orang yang mengalami penyakit psoriasis ini tidak memiliki pemicu yang sama. Ada berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup yang bisa memicunya, yaitu paparan matahari, merokok, infeksi, trauma di kulit seperti pernah terbakar atau terpotong, atau digigit binatang. Kemudian, stress, paparan suhu yang sangat dingin, beberapa pengobatan seperti lithium, pengobatan tekanan darah, dan iodide, serta peminum alkohol berat.

Semua pemicu ini tidak bisa menimbulkan psoriasis tanpa kehadiran kelainan gen yang dialami orang dengan psoriasis.

Banyak orang yang takut dan akhirnya menjauhi orang yang mengidap penyakit kulit ini, dari menghindari kontak fisik bahkan mengucilkannya. Sebagian besar orang mungkin mengira jika penyakit psoriasis menular. Padahal sebenarnya penyakit psoriasis tidak menular.

Psoriasis tidak ditularkan secara seksual, melalui oral, oleh kontak fisik atau bahkan berenang di air yang sama dengan orang yang mengalami psoriasis.

Psoriasis juga bukan disebabkan karena gaya hidup atau kebersihan diri yang buruk. Jadi orang yang mengalami psoriasis tidak juga bisa dikatakan punya kebersihan diri yang rendah atau tak terjaga.

Psoriasis tidak seperti penyakit kulit lainnya, seperti kudis atau impetigo, yang disebabkan oleh infeksi dari bakteri, virus, ataupun jamur. Ini masalah gen dari dalam tubuh yang pasti tidak menular. Kecuali, diturunkan sifat gennya yang memengaruhi kondisi autoimun dari orang tua maka anak akan memiliki risiko mengalami psoriasis.

Berbeda dengan penyakit kulit pada umumnya, psoriasis tidak akan menyebar ke bagian tubuh lain. Biasanya, kondisi ini akan terbagi dalam beberapa tingkat keparahan, yakni, tingkat ringan, yaitu penyakit hanya merusak 3 persen dari seluruh permukaan kulit.

Kemudian, tingkat sedang, terjadi jika psoriasis menyerang 3-10 persen permukaan kulit. Serta tingkat parah, ditandai dengan kerusakan yang terjadi lebih dari 10 persen dari permukaan kulit. (KRO/RD/Hellosehat.com)

Continue Reading

headline