Connect with us

Aceh

Penyidik Ungkap Dugaan Korupsi Peremajaan Sawit Rp684,8 Miliar

Published

on

159 views
Penyidik Ungkap Dugaan Korupsi Peremajaan Sawit Rp684,8 Miliar

RADARINDO.co.id – Banda Aceh : Penyidik Ungkap Dugaan Korupsi Peremajaan Sawit Rp684,8 Miliar

Penyidik berhasil mengungkap dugaan tindak pidana korupsi dana peremajaan sawit rakyat di provinsi Aceh tahun anggaran 2018 sampai 2020.

Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh menemukan dugaan korupsi program Peremajaan Sawit Rakyat Tahun Anggaran 2018, 2019 dan 2020 sebesar Rp684,8 Miliar.

Dana tersebut digelontorkan untuk program sangat fantastis mencapai Rp684.876.687.000 selama tiga tahun berturut-turut.

Adapun dana peremajaan sawit rakyat yang telah disalurkan ke Provinsi Aceh tahun anggaran 2018 senilai Rp16.060.682.500.

Kemudian tahun 2019 senilai Rp243.268.345.000, dan tahun 2020 senilai Rp425.547.659.500, atau total sebesar Rp684.876.687.000.

Demikian dikatakan Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Muhammad Yusuf didampingi Asintel dan Kasipenkum, Jumat (12/3) sore.

Baca juga : Negara Diduga Bayar Material Ilegal Proyek Jembatan Idano O’ou Rp35 Miliar 

Dari hasil penyelidikan tersebut selanjutnya ditingkatkan ke tahap penyidikan. Fakta yang ditemukan bahwa dalam proses pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat terdapat prosedur dan mekanisme yang harus dilaksanakan oleh pekebun melalui kelompok tani, gabungan kelompok tani dan koperasi.

“Yang mengajukan permohonan itu adalah ketiga pihak dan permohonannya diajukan ke Dinas Perkebunan Kabupaten selanjutnya Dinas Perkebunan Kabupaten melakukan verifikasi terhadap permohonan/usulan dari masing-masing kelompok tani, gabungan kelompok tani dan koperasi,” ujar Kajati Aceh.

Kemudian hasil verifikasi oleh pihak kabupaten diteruskan ke Dinas Perkebunan Provinsi dan hasil verifikasi selanjutnya diteruskan ke Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian RI.

Selanjutnya bahwa hasil verifikasi dari Dirjenbun menghasilkan rekomendasi teknis yang di dalamnya yaitu berupa nama pengusul, lokasi kebun, jumlah luas serta calon penerima dan calon lahan (CPCL).

Selanjutnya Dirjenbun mengirimkan rekomendasi teknis tersebut ke BPDPKS sebagai syarat penyaluran dana ke para pekebun.

Penerima dana adalah pekebun dan secara mekanisme dana yang sudah masuk ke rekening pekebun langsung dipindah bukukan (Escrow Account) ke rekening Poktan, Gapoktan dan Koperasi.

Para pihak itulah yang memanfaatkan dana dari BPDPKS untuk peremajaan kelapa sawit. Fakta-fakta yang ditemukan secara garis besarnya, adanya kelemahan dalam proses verifikasi dana yang diperuntukkan untuk peremajaan sawit tidak dapat dipertanggung jawabkan dalam setiap item kegiatan/pengadaan.

Adanya syarat-syarat pengajuan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku seperti tumpang tindih alas hak atas lahan para pengusul.

Dalam perkara ini, Tim Penyelidik Kejaksaan Tinggi Aceh telah melakukan permintaan keterangan dan pengumpulan data dari pihak-pihak terkait, antara lain, BPDPKS Kementerian Keuangan, Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi Aceh, Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten, Koperasi, kelompok tani dan gabungan kelompok tani, pihak ketiga yang melakukan kerjasama dengan Koperasi.

“Dengan ditingkatkannya ke tahap penyidikan, kita semua berharap Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejati Aceh dapat segera menetapkan pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap adanya kerugian keuangan negara,” tegas Kajati Aceh.

Sumber anggaran Program Peremajaan Sawit Rakyat berasal dari Badan Layanan Umum (BLU) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang berada di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Baca juga : Belasan Ruko Di Kota Pinang hangus Dilalap Sijago Merah

Dalam proses pengajuan dana, pelaksanaan dan pertanggungjawabannya Program Peremajaan Sawit Rakyat mengacu kepada peraturan yakni Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 18/Permentan/KB.330/5/2016 Tentang Pedoman Peremajaan Perkebunan Kelapa Sawit dan perubahannya Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor : 29/KPTS/KB.120/3/2017 Tentang Pedoman Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit Pekebun, Pengembangan Sumber Daya Manusia Dan Bantuan Sarana Dan Prasarana Dalam Kerangka Pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit dan perubahannya.

Perjanjian tiga pihak antara Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Koperasi dan pihak bank.

Sementara itu, sumber lain juga menyebutkan dana bantuan peremajaan sawit banyak yang tidak tepat sasaran. Anehnya, diberikan kepada perusahaan raksasa. (KRO/RD/wsp)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banda Aceh

FPM Aceh Santuni Anak Yatim Piatu

Published

on

FPM Aceh Santunin Anak Yatim Piatu

RADARINDO.co.id-Banda Aceh : FPM Aceh Santuni Anak Yatim Piatu. Forum Pecinta Masjid (FPM) Aceh memberikan santunan kepada Anak Yatim dan fakir miskin dalam kegiatan Peduli Yatim dan Fakir miskin Ramadhan 1442 H di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Ini merupakan salah satu kegiatan FPM dalam bulan Ramadhan dan Insya Allah terus akan menjadi kegiatan rutinan tiap ramadhan”, ujar ketua FPM Aceh Afrizal, sesuai rilis berita yang diterima RADARINDO.co.id Selasa (04/05/2021).

Baca juga : Bupati Samosir Menerima Audiensi PT Toba Pulp Lestari Tbk

Pembagian santunan ini di bagi di dua tahap, pertama sudah disalurkan pada hari minggu, 2 Mei 2021 kepada anak-anak yatim di Gampong Peunyerat, Banda Aceh dan akan dibagi tahap 2 pada acara penutupan serta buka puasa bersama santri ramadhan ceria Istana Quran Aceh (IQA) pada tanggal 7 Mei 2021 nanti.

Lihat juga : Ketua MPW PP Sumut Kunjungi Kediaman H.Edimin

Sedangkan jumlah anak yatim dan piatu yang disantuni pada ramadhan tahun ini sekitar 23 anak sekitar lingkungan gampong Peunyerat dan sekitar 7 anak nantinya akan dibagi pada acara penutupan Ramadhan Ceria di Aceh Besar.

Santunan kali ini dilakukan door to door ke rumah-rumah yatim. Santunan diberikan dalam bentuk uang dan paket sembako (KRO/RD/Tim)

Continue Reading

Aceh Timur

Pengungsi Gas Beracun Keluhkan MCK

Published

on

Pengungsi Gas Beracun Keluhkan MCK

RADARINDO.co.id-Aceh : Pengungsi Gas Beracun Keluhkan MCK. PT Medco EP Malaka didesak tidak membebankan pemerintah daerah dalam penanganan pengungsi, baik Pemkab Aceh Timur maupun Pemerintah Aceh.

“Logistik dan kebutuhan para pengungsi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Medco. Jangan bebankan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, karena daerah masih banyak yang perlu diurus,” kata Ketua LSM KANA, Muzakir, kepada Waspada, Senin (12/4).

Oleh karenanya Medco harus bertanggung jawab penuh, mulai dari kebutuhan pengungsi, maupun mengobati warga yang dirawat di sejumlah rumah sakit.

Baca juga : BLT Dana Desa Pekon Negeri Agung TA 2020 Kemana Rimbanya

“Hal ini perlu kita sampaikan, karena pasca kejadian itu (keracunan—red), Pemkab Aceh Timur langsung bergerak ke lokasi, mengevakuasi korban yang keracunan dan membangun tenda darurat. Padahal sesungguhnya tanggungjawab itu adalah Medco, bukan pemerintah,” timpa Muzakir.

Dia berpendapat, Pemerintah Kabupaten (pemkab) melalui Dinas Sosial dan pihak kecamatan hanya sebatas mengawasi secara ketat bantuan logistik yang disalurkan Medco, apapun yang tidak mencukupi harus disampaikan segera.

“Pemerintah hanya mengawasi seluruh bantuan yang disalurkan. Jika ada yang kurang segera sampaikan ke perusahaan Migas, sehingga bantuan dihadirkan lagi ke map pengungsian,” sebut Muzakir.

Warga Panton Rayeuk T, yang kini mengungsi di tenda darurat halaman Kantor Camat Banda Alam, Aceh Timur, mulai mengeluh kurangnya air bersih dan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK).

“Sekitar 163 Kepala Keluarga yang mengungsi, tapi hanya tersedia satu MCK umum milik kecamatan yang dapat dimanfaatkan para pengungsi. Sementara MCK alternatif lainnya tidak tersedia, kecuali ke masjid yang jaraknya 800 meter dari lokasi pengungsian,” kata Nurul Hasanah, pengungsi.

Dampak kurangnya MCK, pengungsi terpaksa harus mengantri berjam-jam, padahal mereka hanya untuk buang air kecil.

Lihat juga : Ketua MPW PP Sumut Kunjungi Kediaman H.Edimin

Selain kekurangan air bersih dan MCK, pengungsi juga kekurangan selimut, sehingga saat tidur mereka menggunakan matras dan tikar plastik.

“Untuk stok makanan mereka cukup, bahkan lebih, karena tersedia dapur umum di dekat posko pengungsian. Tapi yang susah adalah MCK dan kurang air bersih,” kata Nurul Hasanah,.

Camat Banda Alam, Muliadi, SSTP, ditemui wartawan di lokasi mengakui kekurangan tersebut, namun mereka berusaha memenuhi apa yang dibutuhkan para pengungsi. (KRO/RD/Wsp)

Continue Reading

Aceh Tenggara

Mayat Tanpa Identitas Membusuk Ditemukan di Agara

Published

on

Mayat Tanpa Identitas Membusuk Ditemukan di Agara. Penemuan mayat lelaki tanpa identitas yang telah membusuk di dalam sebuah kebun warga Kute Amaliyah, Kecamatan Bukit Tusam, Aceh Tenggara, pada Rabu (7/4) pagi. Kapolres Agara, AKBP Wanito Eko Sulistiyo melalui Wakapolres, Kompol Zainal Amri kepada mengonfirmasi peristiwa penemuan

RADARINDO.co.id-Kutacane : Mayat Tanpa Identitas Membusuk Ditemukan di Agara. Penemuan mayat lelaki tanpa identitas yang telah membusuk di dalam sebuah kebun warga Kute Amaliyah, Kecamatan Bukit Tusam, Aceh Tenggara, pada Rabu (7/4) pagi.

Kapolres Agara, AKBP Wanito Eko Sulistiyo melalui Wakapolres, Kompol Zainal Amri kepada mengonfirmasi peristiwa penemuan sesosok mayat laki-laki tanpa identitas tinggal rangka di Kute (Desa) Amaliyah Kecamatan Bukit Tusam.

Berdasarkan laporan warga kepada Pengulu Kute (Kepala Desa) Amaliyah dan Kapolsek Bukit Tusam, Rabu (7/4) pagi, penemuan mayat  tersebut berawal dari laporan Darmansyah,  seorang warga Bukit Tusam yang ingin membersihkan saluran air parit di kawasan kebun jagung yang berjarak sekitar ratusan meter dari ruas jalan nasional Kutacane-Tiga Binanga.

Baca juga : ABK Kapal Terjun Kelaut Akibat Kebakaran Kapal

Saat membersihkan parit yang membelah kebun jagung warga Amaliyah tersebut, saksi merasa curiga dengan bau busuk yang sangat menyengat bersumber dari perkebunan jagung petani. Ketika terus membersihkan aliran air parit, saksi kaget saat menemukan sosok mayat laki-laki yang telah membusuk dan tersisa rangka.

Melihat temuan mayat tanpa identitas yang telah membusuk dan tinggal rangka dalam posisi terlentang tersebut, saksi langsung menyampaikan kejadian tersebut pada warga, pengulu kute dan Kapolsek Bukit Tusam, dan dalam beberapa menit kemudian, petugas dari kepolisian tiba di lokasi kejadian serta mengamankan lokasi penemuan mayat tanpa identitas.

Lihat juga : Oknum Maritim Berbendera Malaysia Gertak Nelayan Tradisional Belawan

Wakapolres menerangkan bahwa, mayat tanpa identitas dan telah membusuk serta tinggal rangka tersebut, telah dievakuasi ke Rumas Sakit Umum Sahudin Kutacane untuk di autopsi dan penyelidikan terkait kematian korban tersebut.

“Sampai saat ini, kita belum mengetahui identitas mayat yang ditemukan di tengah kebun jagung Kute Amaliyah Kecamatan Bukit Tusam tersebut, bahkan sampai saat ini belum ada warga yang mengaku kehilangan keluarganya,” terang Wakapolres. (KRO/RD/Wsp) 

Continue Reading

headline