Connect with us

Banda Aceh

Pelaksanaan Ibadah Haji 2021 Tunggu Keputusan Arab Saudi

Published

on

10 views
Pelaksanaan Ibadah Haji 2021 Tunggu Keputusan Arab Saudi

RADARINDO.co.id – BANDA ACEH : Pelaksanaan Ibadah Haji 2021 Tunggu Keputusan Arab Saudi.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Aceh Drs H Arijal MSi menyatakan pelaksanaan Ibada Haji 1442 H/2021 M masih menunggu keputusan kerajaan Arab Saudi.

Baca juga : Wali Kota Medan Tinjau Banjir di Perumnas Simalingkar

“Maka kita Pemerintah RI pun, menanti kabar kepastian haji dari Kerajaan Saudi. Sebab sepenuhnya kepastian pengiriman jemaah itu keputusannya Pemerintah Saudi,” ujarnya kepada Serambinews.com, Senin (22/3/2021).

Arijal mengatakan, meskipun demikian, Pemerintah Indonesia terus melakukan persiapan karena masa pelaksanaan ibadah haji sudah dekat.

“Berapa persen pun diizinkan jamaah kita yang akan berangkat, pemerintah terus persiapkan haji,” katanya.

Namun kembali dihentikan karena penyebaran wabah Covid-19 di sejumlah negara yang meluas.

Lihat juga : Kapolsekta Medan Area Kunjungi “Komplek Tangguh” Perumahan Menteng Indah

Menurut Arijal, pemerintah juga telah melaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi jamaah haji mulai 1-31 Maret untuk tahap pertama, dan akan menyusul tahap kedua.

“Perkembangan haji masa kini, setiap jamaah pergunakan aplikasi dan perangkat android/IT. Ke depan, harapannya jemaah haji itu mandiri. Mandiri dalam kesehatan atau istitha’ah, penggunaan IT, dan ibadah,” pungkasnya. (KRO/RD/SerambiNews)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banda Aceh

Bea Cukai Sita 31 Ribu Batang Rokok Tanpa Cukai

Published

on

Bea Cukai Sita 31 Ribu Batang Rokok Tanpa Cukai

RADARindo.co.id-Banda Aceh : Bea Cukai Sita 31 Ribu Batang Rokok Tanpa Cukai.

Bea Cukai  Banda Aceh menyita lebih dari 31 ribu batang rokok ilegal yang tidak dilekati pita cukai saat dibawa angkutan umum di jalan raya.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C mengatakan bahwa rokok illegal tersebut disita dari microbus yang melintas dari sigli dengan tujuan Banda Aceh pada Jumat (19/3) sekitar pukul 15.10 Wib.

Baca juga : Minibus Masuk Jurang, Dua Orang Penumpang Tewas

Heru Djatmika Sunindya mengatakan nilai rokok yang disita tersebut mencapai Rp32,277 juta. Sedangkan potensi kerugian negara akibat peredaran rokok ilegal tersebut mencapai Rp17,649 juta.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa penyitaan rokok ilegal tersebut berawal dari informasi masyarakat saat tim bea cukai melaksanakan operasi pasar di kawasan Kabupaten Pidie pada Jumat (18/3) sekira pukul 14.30 Wib.

Informasi tersebut menyebutkan ada mikrobus rute Sigli, Kabupaten Pidie tujuan Banda Aceh membawa rokok ilegal. Tim bea cukai mengejar mikrobus dan menemukan kendaraan angkut tersebut.

Heru Djatmika Sunindya menjelaskan bahwa petugas melakukan pemeriksaan dan menemukan
ilegal dengan jumlah mencapai 31.800 batang dalam paket berisi pakaian.

Dari pengakuannya, kata Heru Djatmika Sunindya, pengemudi mikrobus tersebut tidak mengetahui paket berisi pakaian yang dibawanya ada rokok ilegal.

Petugas kemudian mempersilakan mikrobus tersebut melanjutkan perjalanan karena hanya sebagai transportasi umum mengangkut barang dan penumpang.

Sedangkan, rokok ilegal tersebut menjadi barang hasil penindakan dibawa ke KPPBc TMP C Banda Aceh untuk proses lebih lanjut,” kata Heru Djatmika Sunindya.

Tonton juga : Belasan Ruko di Kota Pinang Hangus Di Lalap Sijago Merah

Terkait pelaksanaan operasi pasar, Heru Djatmika Sunindya mengatakan selain penindakan, tim Bea Cukai Banda Aceh juga melaksanakan sosialisasi Gempur Rokok Ilegal yang menjadi program nasional.

Heru Djatmika Sunindya juga mengatakan bahwa dalam sosialisasi tersebut, tim Bea Cukai mendatangi toko grosir dan eceran serta kios-kios warga menyampaikan bahwa rokok ilegal merugikan negara. (KRO/RD/AntaraAceh)

Continue Reading

Banda Aceh

Polda Aceh Tahan Dua Tersangka Investasi Bodong

Published

on

Polda Aceh Tahan Dua Tersangka Investasi Bodong

RADARINDO.co.id-Banda Aceh : Polda Aceh Tahan Dua Tersangka Investasi Bodong.

Polda Aceh menahan dua orang tersangka pelaku investasi bodong. Akibat perbuatan tersebut mengakibatkan sejumlah nasabah mengalami kerugian.

Penangkapan tersebut berawal pada kasus Yalsa Boutique yang diduga melakukan investasi bodong.

Hingga kini kasus tersebut masih ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Aceh, Jumat (19/3).

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy melalui Kasubdit 2 Perbankan AKBP Erwan SH, MH, Jumat (19/3/2021) menyebutkan, penahanan tersebut dilakukan berdasarkan hasil penyidikan Ditreskrimsus Polda Aceh tentang adanya dugaan tindak pidana perbankan.

Baca juga : Pengemudi Jupiter Tubruk Dump Truck Tewas di Tempat

“Kedua tersangka yang ditahan tersebut berinisial S (30) dan SHA (31). Keduanya merupakan Owner di Yalsa Boutique”, ujar AKBP Erwan.

Lebihlanjut dikatakan, sudah ada lebih dua alat bukti dan saksi terhadap dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan oleh kedua tersangka.

Sementara itu, keterangan saksi ahli dari OJK dan Perbankan, sehingga sudah melebihi dua alat bukti berdasarkan pasal 184 KUHAP, sebut Erwan.

Erwan juga menambahkan, dari hasil penggeladahan juga turut diamankan uang tunai sejumlah Rp46.060.000, laptop, sejumlah emas dengan berbagai bentuk, surat pembelian emas sebanyak 87 lembar, pedang samurai, pisau lipat, kartu ATM, buku rekening, printer, jam tangan dan barang bukti lainnya.

“Kami sudah menyita sejumlah uang, emas dan barang lainnya yang patut diduga merupakan hasil dari investasi bodong yang dilakukan tersangka. Polda Aceh masih terus melakukan Asset Tracing untuk kasus TPPU nya,” ucapnya sesuai dilansir dari serambinews.com.

Sebagaimana diketahui, Yalsa Botique merupakan investasi yang diduga bodong dan sudah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan atau investasi hingga mencapai 164 miliar dari 202 reseler dan sekitar 17.800 member.

Penghimpunan uang dari masyarakat tersebut dilakukan Yalsa Boutique tanpa memiliki izin usaha dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak bulan Desember 2019 sampai bulan dengan Februari 2021.

Pasal yang disangkakan adalah Pasal 46 ayat (1) Undang- Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan atau pasal 2 ayat (1) huruf g, pasal 3 dan pasal 5 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), pungkas Erwan.

Hal yang sama juga dialami salah seorang nasabah di Medan, yang tidak mau disebutkan namanya menderita kerugian hampir Rp100 juta.

Tonton juga : Puluhan Pegawai RS Permata Bunda Gelar Aksi Damai Tuntut Pembayaran Gaji

Konon sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu, tergiur menjadi nasabah di salah satu perusahaan palas atau pialang di Jln Imam Bonjol Medan.

Anehnya, uang nasabah yang sudah di stor ke perusahaan terjadi pendebetan dari kas nasabah tanpa mengedepankan prinsip kehati -hatian.

Sehingga dalam kurun waktu satu bulan, dana nasabah nyaris ludes. Konon pengakuan dari salah satu wakil pimpinan pialang, dana cadangan habis karena harga saham emas sedang anjlok.

Sejumlah pihak mencurigai modus pialang di Medan diduga melakukan penipuan masih menjamur di Medan, diduga bodong. (KRO/RD/TIM)

Continue Reading

Banda Aceh

Kejati Aceh “Kandangi” Empat Tersangka Korupsi Proyek Jalan Muara Situlen

Published

on

Kejati Aceh "Kandangi" Empat Tersangka Korupsi Proyek Jalan Muara Situlen

RADARINDO.co.id – Banda Aceh : Kejati Aceh “Kandangi” Empat Tersangka Korupsi Proyek Jalan Muara Situlen

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh “Kandangi” empat tersangka tindak pidana kasus korupsi proyek peningkatan jalan Muara Situlen-Gelombang Kabupaten Aceh Tenggara, tahun anggaran 2018, melalui dana Otsus (otonomi khusus).

Keempat tersangka diantaranya berinisial JU, berdomisili di Desa Darul Imarah, Aceh Besar. Sedangkan ketiganya SA, KH, KA, berasal dari Kabupaten Aceh Tenggara.

Baca juga : Penyidik Ungkap Dugaan Korupsi Peremajaan Sawit Rp 684,8 Miliar

Kepala Kejati Aceh, Muhammad Yusuf, dalam jumpa pers di Kejati di Banda Aceh, Senin (15/3/2021), menyampaikan bahwa keempat tersangka tersebut diduga terlibat dugaan korupsi peningkatan jalan Muara Situlen – Gelombang.

“Proyek jalan itu sudah terjadi tiga kali perubahan dan telah selesai dilaksanakan dan diserahterimakan. Serta dilakukan pembayaran sebanyak tiga kali”, ujar Kajati Aceh.

Lebihlanjut dikatakanya, berdasarkan hasil pemeriksaan ahli, ditemukan total harga berdasarkan hasil perhitungan volume terpasang serta mutu sebesar Rp6,3 miliar dari nilai kontrak sebesar Rp11,6 miliar.

Saat ini perhitungan kerugian keuangan negara masih dalam perhitungan auditor BPKP perwakilan Aceh.

Keempat tersangka diancam pidana secara berlapis, primair melanggar Pasal 2 Ayat (1) juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP.

Serta subsidair melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHPidana.

Tonton :  Koran Radar Group

Menanggapi hal tersebut, salah seorang mahasiswa asal Banda Aceh, Raihan mendukung kinerja penyidik.

“Tersangka harus mempertanggung jawabkan perbuatanya. Hukuman badan dan kerugian keuangan daerah seadil -adilnya”, ujar Raihan memberi pernyataan. (KRO/RD/wsp)

Continue Reading

headline