Connect with us

Headline

Salamat Sianipar Warga Desa Pardomuan Dituduh Terpapar Covid, Malah Disiksa Warga Ramai-ramai

Published

on

144 views
Salamat Sianipar Warga Desa Pardomuan Dituduh Terpapar Covid, Malah Disiksa Warga Ramai-ramai

RADARINDO.co.id – Medan : Seorang pria bernama Salamat Sianipar, warga Desa Pardomuan, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utar, mengalami nasib tragis.

Ia bagaikan sudah jatuh dari tangga, malah dengan sengaja disiram cat pula. Salamat Sianipar telah menjadi korban penganiayaan brutal dan sadis dilakukan warga ramai -ramai, Sabtu (24/07/2021).

Bahkan kabar penganiayaan terhadap korban sempat viral di medoa sosial. Peristiwa sadis itu viral di media sosial pada Sabtu (24/7/2021). Ketika tampak oknum warga menganiaya korban menggunakan bambu dan balok kayu.

Salamat Sianipar disiksa tanpa perasaan oleh warga layaknya seperti binatang. Peristiwa patut disesalkan akhirnya menjadi sorotan hingga disoal berbagai kalangan.

Baca juga : Danlanud Roesmin Nurjadin Bersama Bupati Kampar Ikuti Bakti Sosial Peringatan Hari Bakti TNI AU Ke-74

Atas perbuatan tidak manusiawi itu, Ketua DPW Lembaga Swadaya Masyarakat Pembela Kemerdekaan Rakyat (LSM PAKAR) Sumatera Utara, Ir Linceria Nainggolan, angkat bicara.

Ia mempertanyakan dimana Satuan Tugas (Satgas) Covid 19 Kabupaten Toba, mengapa masyarakat bisa bertindak sebrutal itu.

“Ini adalah pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) dan pemerintah (Pemkab Toba-red) harus bertanggung jawab. Penanganan korban atau pasien Covid 19 telah melanggar HAM yang sungguh sangat memilukan,” tegas Ir Linceria Nainggolan kepada wartawan.

Lebihlanjut dikatakanya, masyarakat perlu pembinaan mental dalam menyikapi korban Covid 19. Untuk itu, LSM Pakar siap menghadirkan team ahli psikolog untuk pembinaan kepada masyarakat awam atau siapa pun.

LSM PAKAR siap menjadi mitra pemerintah dalam penanganan korban Covid 19 dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat di Sumatera Utara agar memahami penanganan Covid 19 secara manusiawi, ujarnya.

Sebelumnya, ia menceritakan kondisi yang dialami korban Salamat Sianipar yang dituduh terpapar Covid-19. Tanpa alasan yang jelas, kenapa warga beramai ramai dan tega menganiaya Salamat Sianipar, pada Kamis (22/07/2021) lalu.

Penganiayaan tersebut itu sempat viral di sosmed hingga mengundang komentar para netizen. Video itu diviralkan sang keponakan korban yang bernama Jhosua Lubis.

“Benar kejadian itu. Informasinya, Dokter menyuruhnya Isolasi mandiri karena terpapar Covid-19,” sebutnya.

Dijelaskan Jhosua, awalnya Salamat Sianipar terkena Covid-19 dan dokter menyuruhnya untuk isolasi mandiri (isoman). Tetapi masyarakat tidak terima, akhirnya dia dijauhkan dari kampung Bulu Silape.

Korban sempat di kembali lagi ke rumahnya tetapi masyarakat tidak terima. Malah masyarakat mengikat dan memukuli dia. Seperti hewan dan tidak ada rasa manusiawi, tulis Jhosua dalam akun instagram miliknya.

“Kami dari pihak keluarga tidak menerima dan ini tidak manusiawi lagi. Perlu adanya edukasi dari pemerintah untuk masyarakat tentang Covid-19,” tambahnya.

Jhosua menyebutkan bahwa kejahatan kemanusiaan ini diatur dalam Statuta Roma dan diadopsi dalam Undang-Undang No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Hukum Indonesia juga tegas melarang penyiksaan. Konstitusi Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan hak untuk bebas dari penyiksaan dan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Hak untuk bebas dari penyiksaan juga tertuang dalam UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Kami berharap keadilan tersebut agar diusut tuntas dan ditegakkan seadil- adilnya, ujarnya dengan nada sedih.

Ditempat berbeda, sebelumnya Ketua Departemen Ekonomi dan Pembangunan, Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Investasi (Ekuin) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Farouk Abdullah Alwyni menyampaikan bahwa ledakan persoalan Covid-19 yang semakin tidak terkendali.

Bahkan telah menempatkan Indonesia sebagai episentrum baru Covid-19 Asia menggeser India (kasus aktif) menunjukkan lemahnya kapasitas sektor kesehatan kita dalam menangani persoalan ini.

“Sampai dengan Pkl. 09:53 GMT, 23 Juli 2021 jumlah kasus positif mencapai 3.033.339, kasus aktif sebesar 561.384, dan tingkat kematian 79.032,” ujar Farouk di Jakarta Sabtu (24/07/2021).

Dalam penjelasannya alumnus New York University ini, persoalan kesehatan yang dihadapi Indonesia saat ini menunjukkan persoalan mendasar terkait paradigma pembangunan negara selama ini.

Paradigma pembangunan selama ini yang cenderung “short-sighted” dan hanya menekankan pada pendekatan pertumbuhan ekonomi semata.

Pada akhirnya mengekspos salah satu persoalan pembangunan mendasar yang dihadapi Indonesia, yakni masalah kesehatan.

“Cara pandang yang sekedar menyamakan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi semata berkontribusi besar terhadap kegagalan fundamental dalam pembangunan sektor kesehatan,” ungkapnya.

Farouk menjelaskan, persoalan lemahnya sektor kesehatan Indonesia sebenarnya adalah bukan hal yang baru dan sudah ada sejak sebelum persoalan Covid-19.

Level kesehatan Indonesia dalam konteks internasional adalah tergolong rendah, berdasarkan laporan World Economic Forum – Global Competitiveness Index 2019 Indonesia berada dalam posisi 96 dari 141 negara dan berada diposisi 6 di ASEAN dibawah Singapura (1), Thailand (38), Brunei (62), Malaysia (66), dan Vietnam (71).

Dengan menggunakan Human Development Index (HDI) dari UNDP (2020) Indonesia juga berada dalam posisi 6 dibawah negara-negara ASEAN tersebut diatas terkait ranking esehatan (berdasarkan life expectancy).

Juga fakta lain yang kurang menggembirakan terkait tingkat kematian Ibu dalam proses kelahiran (maternal mortality ratio), yang mencapai 177 untuk setiap 100,000 kelahiran, bandingkan dengan rata-rata negara maju (OECD) yang hanya berjumlah 14, jumlah ini bahkan melebihi Timor Leste yang berjumlah 142.

Persoalan yang serupa juga dapat dilihat dari jumlah kematian bayi (infant mortality rate), dimana untuk setiap 1000 kelahiran mencapai 21, jauh lebih tinggi dari Thailand (8) dan Malaysia (7).

Hal yang perlu digaris bawahi menurut Farouk adalah ledakan pandemic Covid-19 sekarang ini sesungguhnya adalah sekedar sebuah konsekuensi logis dari kesalahan paradigma pembangunan negara selama ini.

Yang mereduksi konsep pembangunan menjadi sekedar pertumbuhan ekonomi saja. Paradigma pembangunan yang seperti ini mengabaikan banyak aspek fundamental dari pembangunan itu sendiri.

Baca juga : KIKAVSER 6/RBT Kodam – I/BB Bersama Puskesmas Pangkalan Baru Lakukan Vaksin Tahap-2

Dalam hal ini adalah pembangunan sektor kesehatan yang berkualitas, ketiadaan inilah, yang pada gilirannya justru membuat perekonomian kita memburuk dan mundur kebelakang.

Pada akhirnya, biaya yang dikeluarkan menjadi sangat mahal, BPK menyebutkan diakhir tahun 2020 bahwa total anggaran penanganan Covid-19 mencapai Rp1.035,2 triliun.

Sedangkan Sekretaris Lembaga Informasi Bijak Rakyat (LIBRÀ) Sumut, Dàvid Saragih minta Satgas Covid 19 harus menjalankan tugas secara santun dan bijaksana.

“Jangan sampai melakukan perbuatan yang keliruh. Berbicara yang santun dan bertindak yang bijak”, ujar David Saragih. (KRO/RD/Nan)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *