Medan  

Antonius Tumanggor: Loyalitas Mengajar Guru Harus Seperti Tahun 80-an

RADARINDO.co.id – Medan : Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) jatuh pada hari ini, Jum’at (25/11/2022). Biasanya, pada peringatan untuk para pahlawan tanpa tanda jasa ini, diwarnai dengan pemberian hadiah khusus dari murid-murid untuk para gurunya sebagai ungkapan terimakasih telah mendidik dengan baik.

Seperti memberikan karangan bunga, membacakan untaian puisi, tidak ketinggalan lantunan lagu terimakasih guru dan pahlawan tanpa tanda jasa, serta hadiah-hadiah kecil khusus buat para guru tercinta.

Baca juga : OJK Terima 1788 Laporan Soal Pinjol Ilegal di Sumut

“Kita patut menghormati jasa-jasa para guru kita yang telah mendidik mulai taman kanak-kanak (TK), SD, SMP dan SLTA. Di empat jenjang pendidikan inilah para murid bergelut menimba ilmu dan menjadi penentu apakah putra-putri bangsa mampu secara ilmu pengetahuan melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena tidak mudah mengajarkan huruf, berhitung dan budi pekerti. Sehingga semua bisa kita lalui, sampai sekarang banyak yang berhasil, tentu tidak lepas dari jasa para guru,” kata Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor S.Sos kepada wartawan, Jum’at (25/11/2022).

Pada peringatan Hari Guru tahun 2022 ini, Antonius memberi masukan kepada para pejuang pendidikan ini agar citra guru kembali pada awal kemerdekaan sampai tahun 1990-an. Menurutnya, saat itu para guru benar-benar mengajar dengan sepenuh hati dan jiwanya.

Tujuannya bagaimana semua anak didik yang diajarnya benar-benar mengerti mata pelajaran tersebut. Seluruh kemampuan guru untuk mengajar mereka curahkan sampai para murid benar-benar faham.

“Ada yang belum faham? Jangan takut, tunjuk tangan yang belum mengerti ya. Itulah cara guru saya tahun 80-an sampai 90-an. Guru mengenali kami satu per satu, jika ada yang tidak masuk sekolah 3 hari, guru datang ke rumah, apakah muridnya sakit, malas atau faktor lain,” ungkap Antonius menceritakan masa lalunya ketika sekolah.

Jika dibandingkan sekarang, kata anggota Komisi IV ini, guru kebanyakan hanya memberi materi sebatas garis-garis besar. Ilmu guru yang kaya akan dituangkan lebih lanjut di kelas bimbingan belajar (Bimbel). Maka tidak heran, anak sekolah zaman sekarang, setelah pulang sekolah langsung Bimbel sampai di rumah sudah malam.

“Sekarang ini, Bimbel menjamur, semua mengaku terbaik. Siswanyapun banyak, masih berseragam sekolah, mulai SD sampai SMA sudah Bimbel. Dahulu tidak ada Bimbel, kalaupun tamat SMA sederajat, kalau mau ikut masuk perguruan tinggi negeri barulah Bimbel, itupun hanya 2 bulan untuk mempertajam pengetahuan dan tahu cara mengerjakan soal paling singkat. Murid sekarang pintar-pintar bukan karena pengajaran dari guru sekolahnya, tapi dari tentor Bimbelnya,” terangnya.

Baca juga : Wakil Bupati Humbahas Ikut Cari Korban Tenggelam di Parlilitan

Sehingga kata Antonius, hanya anak-anak ekonomi menengah ke atas yang lulus ke perguruan tinggi negeri favorit, seperti ITB, UI, UGM dan IPB. Karena, hanya anak-anak orang mampu yang bisa Bimbel secara reguler yang biaya Bimbelnya sampai mencapai Rp50 juta setahun. Anak-anak orang kurang mampu kalah bersaing menjangkau perguruan tinggi negeri, mereka tidak mampu ikut Bimbel.

Untuk itu, dia sangat berharap citra mengajar para guru dikembalikan seperti semula. Apalagi para guru sekarang ada yang dapat dana sertifikasi jika jam belajarnya banyak. Jika dibanding guru di era Orde Baru tanpa ada gaji tambahan tapi sangat loyal mengajar. Pengabdian itulah yang diharapkan Antonius hendaknya dijunjung tinggi para guru sekarang. (KRO/RD/Ptr)