Bukti Paling Awal Kehadiran Manusia di Amerika 30.000 Tahun Lalu

43 views

RADARINDO.co.id-Sejarah:
Manusia menetap di Amerika jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya, menurut temuan terbaru dari Meksiko. Arkeolog menemukan, manusia menempati benua itu sejak 33.000 tahun lalu, atau dua kali lebih awal dari era yang selama ini diterima publik, sebagai waktu pertama kali manusia bermukim di benua Amerika.

Temuan ini merujuk pada penilitian di gua Chiquihuite, sebuah gua di pegunungan Meksiko tengah. Para arkeolog menemukan hampir 2.000 peralatan dari batu, yang menunjukkan bahwa gua itu digunakan oleh manusia selama 20.000 tahun.

Selama paruh kedua abad ke-20, sebuah konsensus muncul di antara para arkeolog Amerika Utara, bahwa orang-orang Clovis adalah orang pertama yang mencapai Amerika, sekitar 11.500 tahun yang lalu. Nenek moyang orang Clovis diperkirakan telah menyeberangi jembatan darat yang menghubungkan Siberia ke Alaska selama zaman es terakhir.

Jembatan darat ini – dikenal sebagai Beringia – kemudian menghilang di bawah air saat es mencair. Dan para pemburu ini dianggap berkontribusi terhadap kepunahan megafauna – mamalia besar seperti mamut, mastodon, dan berbagai spesies beruang yang berkeliaran di wilayah itu hingga akhir zaman es terakhir.


Ketika ide “Clovis First” mulai dipercayai banyak orang, laporan tentang pemukiman manusia sebelumnya dihentikan karena tidak dapat diandalkan, dan para arkeolog berhenti mencari tanda-tanda pendudukan sebelumnya.

Namun pada 1970-an, pandangan konvensional ini mulai ditantang. Pada 1980-an, bukti kuat untuk kehadiran manusia berusia 14.500 tahun di Monte Verde, Chile, muncul. Sejak 2000-an, pemukiman pra-Clovis telah banyak diterima oleh kalangan arkeolog – termasuk komplek pemukiman Butermilk Creek di Texas tengah.

Kini, Ciprian Adelean dari Universitas Autónoma de Zacatecas di Mexico dan Tom Higham dari Universitas Oxford bersama kolega mereka menemukan bukti bahwa kehidupan manusia di Amerika telah dimulai jauh sebelumnya, di situs Chiquihuite di pegunungan tengah Meksiko.

Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Nature.

“Ini adalah situs yang unik, kami belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya,” ujar Profesor Higham kepada BBC News.

“Peralatan dari batu ini sangat, sangat menarik.

“Siapa pun dapat melihat bahwa ini adalah alat batu yang sengaja dibuat dan jumlahnya banyak.”

Tim kemudian menggali gua sedalam tiga meter – sekuens lapisan tanah yang diatur sesuai dengan urutan endapannya – dan menemukan sekitar 1.900 artefak batu yang dibuat selama ribuan tahun. Para peneliti berhasil memeriksa usia tulang, arang dan endapan yang terkait dengan alat-alat batu, menggunakan dua teknik penanggalan ilmiah.

Yang pertama, penanggalan radiokarbon, bergantung pada cara bentuk radioaktif dari unsur karbon (karbon-14) diketahui meluruh dari waktu ke waktu. Yang kedua, pendaran optically stimulated (OSL), bekerja dengan mengukur sedimen terakhir kali terpapar cahaya.

Menggunakan dua teknik berbeda “menambah banyak kredibilitas dan kekuatan, terutama pada bagian kronologi yang lebih tua”, kata Profesor Higham.

“Kita bisa melihat tanggal optik dan tanggal [radiokarbon] dalam kombinasi yang baik,” katanya.

Dan temuan ini dapat mengarahkan para ilmuwan untuk melihat dengan pandangan baru terkait situs-situs pendudukan awal yang kontroversial di tempat lain di Amerika.

“Di Brasil, ada beberapa situs di mana Anda memiliki alat-alat batu yang terlihat kokoh dan bertanggal 26.000 – 30.000 tahun yang lalu, tanggal yang serupa dengan situs Chiquihuite,” kata Prof Higham. (KRO/RD/Suara)