Buntut Dugaan Pungli Modus Infaq, Kepala SMKN 1 Sale Dibebastugaskan

27

RADARINDO.co.id – Rembang : Buntut dugaan pungutan liar (pungli) modus untuk infaq pembangunan mushola di sekolah, Kepala SMKN 1 Sale Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dibebastugaskan.

Baca juga : Bobby Respon Kritikan LBH Soal Tembak Mati Begal

Kepala SMKN 1 Sale terpaksa dibebastugaskan lantaran diduga memungut uang senilai Rp300 ribu kepada para anak didiknya untuk pembangunan mushola.


Terkait hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta uang yang ditarik dari siswa agar dikembalikan. “Dia kita bebas tugaskan. Kemudian kita melakukan pengecekan dan minta (uang tarikan) untuk dikembalikan,” kata Ganjar, melansir detik.com, Kamis (13/7/2023).

Ganjar mengaku tidak menduga ada temuan dugaan pungli. Hal itu diketahuinya ketika bedialog dengan siswa dalam acara seminar di Pendopo Kabupaten Rembang, Senin (10/7/2023) lalu. Momen itu kemudian ia bagikan di media sosial.

“Saya juga tidak menduga obrolan itu ternyata diperhatikan oleh banyak orang, dua juta lebih tadi mengakses Instagram saya karena soal itu dan dia menceritakan kejadiannya di mana-mana,” jelasnya.

Ganjar menegaskan agar momen ini menjadi pelajaran bagi seluruh warga sekolah. Karena ia sudah mewanti-wanti tidak boleh ada pungutan di sekolah negeri. “Jadi kita titip kepada kawan-kawan guru, kawan-kawan kepala sekolah, agar berhati-hati betul pada soal tarikan-tarikan kepada siswa agar tidak memberatkan,” jelas Ganjar.

Baca juga : Rutan Kelas I Medan Gelar Seminar Spiritual Qolbu dan Mental

Disebutkan, Kepala SMKN 1 Sale tersebut saat ini ditarik ke Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah III Jateng. Kemudian dinas menunjuk pelaksana harian kepala sekolah. Langkah tegas itu dilakukan agar tidak terulang di sekolah lain dan berharap agar masyarakat ikut melapor jika menemukannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Uswatun Hasanah mengatakan, penyelidikan dan pengecekan langsung dilakukan. Hasilnya ternyata pungutan itu untuk pembangunan mushola melalui komite sekolah.

Pungutan itu dilakukan pada tahun 2022 dan dari total 534 siswa, 460 diantaranya sudah membayar. Kemudian 44 siswa tidak membayar karena tergolong tidak mampu. Selanjutnya, 30 siswa tidak membayar dengan pertimbangan sudah tahun keempat. “Sampai saat ini dana yang terkumpul Rp 130 juta dan telah digunakan pada 2022 untuk pembangunan musala. Pembangunan musala saat ini sudah mencapai 40 persen,” kata Uswatun. (KRO/RD/DTK)