Hanya Sumbang PAD Rp2,5 Juta Selama 3 Tahun, Stasiun Lambuang Ditutup

RADARINDO.co.id – Sumbar : Hanya menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp2,5 juta dalam tiga tahun selama dibuka, Stasiun Lambuang di Bukittinggi, Sumatera Barat, resmi ditutup.

Untuk diketahui, Stasiun Lambuang merupakan proyek pusat kuliner yang digagas Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi sejak tahun 2022 resmi ditutup.

Baca juga: Perusahaan yang “Membandel” Abaikan Dampak Lingkungan Akan Disanksi

Proyek tersebut sempat menjadi sorotan publik ketika diresmikan Menteri BUMN, Erick Thohir dan anggota DPR RI, Andre Rosiade pada Maret 2024.

Ketua DPRD Bukittinggi, Syaiful Efendi, menyebut bahwa pemasukan PAD tersebut hanya berasal dari retribusi pedagang.

“Sejak Pemko Bukittinggi pinjam lahan dari PT KAI, Stasiun Lambuang hanya menghasilkan PAD Rp2,5 juta dalam tiga tahun,” kata Syaiful, melansir kompas, Sabtu (31/5/2025).

Pj Sekda Kota Bukittinggi, Al Amin, juga menyampaikan bahwa biaya sewa lahan kepada PT KAI mencapai Rp2,3 miliar per tahun. Namun, perputaran uang yang terjadi sangat kecil dan tidak sebanding dengan pengeluaran pemerintah.

“Benar tidak kita perpanjang kontraknya. Alasan efisiensi dan keberadaannya belum mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” jelas Al Amin.

Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, melalui langkah efisiensi anggaran, memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak sewa lahan. Keputusan ini didukung penuh oleh DPRD Bukittinggi.

Menurut Al Amin, kondisi Stasiun Lambuang saat ini juga mulai sepi dan dikhawatirkan dapat menimbulkan potensi tindak kriminal jika dibiarkan terbengkalai.

“Daripada nantinya timbul masalah baru seperti tindakan kriminal, lebih baik dikembalikan ke PT KAI,” katanya.

Lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu dipinjam untuk dijadikan tempat wisata kuliner yang diharapkan menjadi destinasi unggulan Sumbar.

Baca juga: Korban Klaim Rugi Rp3 Triliun, Koperasi BLN Digugat ke Pengadilan

Pembangunan infrastruktur dan fasilitasnya menelan dana sekitar Rp17 miliar, dan jika ditambah sewa lahan serta operasional, total anggarannya mencapai Rp24,5 miliar.

Harapannya, Stasiun Lambuang bisa menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal dan memperkuat posisi Bukittinggi sebagai kota wisata. Meski harapan tinggi disematkan pada Stasiun Lambuang, kenyataan di lapangan jauh dari ekspektasi. (KRO/RD/KM)