Kemudahan Medsos di Handphone Dapat Lalaikan Membangun Kebersamaan

72

RADARINDO.co.id-Deli Serdang: Fasilitas media sosial (Medsos) di mulai dari akun pesbukers ,Whatsaap, messenger dan lain lain pada handphone seseorang kini semakin canggih.

Begitu canggihnya media itu, sehingga kitapun tak perlu repot-repot untuk hadir, cukup ucapkan turut berdukacita bagi yang meninggal, semoga cepat sembuh bagi yang sekarat, semoga selalu bahagia untuk resepsi pernikahan dan semoga sukses bagi yang meraih keberhasilan.

Fenomena seperti itu, sudah nyata sekarang ini, dan sudah pula jelas terlihat oleh perilaku manusianya. Kemudahan di Medsos agar setiap kabar itu sampai kepada kita kemudian dilanjutkan dengan kedatangan kita menghadiri apa yang tersampaikan.

Di jaman media sosial sekarang sudah sangat langka, Seumpama burung pungguk merindukan bulan, ingin hati memeluk gunung apalah daya tangan tak sampai, berharap teman sejawat, kolega, saudara mitra kerja hadir seperti mimpi.

Perubahan punahnya “kebersamaan” berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, manusia sebagai mahluk sosial sangat penting untuk kita cermati.

Kalau saja ada yang meninggal, kita ramai ramai cukup mengucapkan belasungkawa, ada yang sakit cukup bilang semoga cepat sembuh, ada yang pesta cuma bilang semoga berbahagia, maka semoga…. Semoga…. dan semoga yang datang. namun kehadiran kita yang ditunggu cuma sebatas ucapan.

Bila fenomena seperti ini terus kita biarkan, kita tinggal lihat, pada satu saat nanti ada teman atau saudara kita yang wafat tak ada satupun yang hadir, kecuali ucapan semoga…dan semoga itu ramai di medsos.

Sementara untuk beramai ramai dalam kebersamaan, senasib dan sepenanggungan pada setiap permasalahan untuk kita bisa hadir kini tinggal kenangan.

Oleh karenanya, kemudahan media sosial agar setiap persoalan itu cepat sampai kepada kita ditindaklanjuti dengan perbuatan bukan sebatas ucapan.

Kehadiran kita ditengah-tengah ahli bait, bersalaman sembari memegang erat tangannya, memeluk erat tubuhnya serta mendoakan, nuansa jiwa kekeluargaan akan bergetar dan hidup, sangat berbeda jauh sekali dengan ucapan ucapan di media sosial.

Sekarang kembali kepada diri kita masing-masing, membiarkan sekedar ucapan semoga dan semoga di Medsos atau kita hadir langsung dengan tanpa alasan akan teruji pada kenyataannya di lapangan.

Harapan kita semuanya tentu, kebersamaan untuk membangun kekeluargaan senasib dan sepenanggungan dalam bingkai bhineka tunggal Ika bisa berlanjut sampai nyawa lepas dari badan. Saling mengingatkan agar kita tidak selalu lalai membangun kebersamaan mudah mudahan bisa kita tersadar dari tidur yang panjang. (KRO/RD/Tulisan Pengamat Sosial: Hasan Basri Siregar)