Kisah Budak Semasa Kolonial Belanda, Gadis Cantik Jadi Laris

89

RADARINDO.co.id : Saat menjajah NKRI, Belanda menerapkan kerja paksa dan perbudakan hingga perdagangan manusia. Banyak anak-anak muda belia dari daerah dibawa ke Batavia yang sekarang Jakarta, pusat pemerintahan Belanda di Indonesia.

Melansir radarmukomuko.com, mereka dijadikan budak dan dijual pada orang-orang kaya Eropa yang hidup mewah dan penuh gengsi di Jakarta. Bahkan kabarnya, jumlah budak yang di dimiliki juga menjadi tolak ukur kekayaan seseorang.

Kemungkinan, tidak sedikit pula budak-budak asal Indonesia dijual atau dibawa ke Eropa. Jual beli budak pernah dianggap sebagai salah satu bisnis yang menguntungkan di Nusantara. Tentu ada keterlibatan kepal dagang Belanda, VOC di baliknya.

Kompeni turut bertindak sebagai pedagang besar budak dari dalam dan luar negeri. Karenanya, Kota Batavia dapat menjelma jadi salah satu pasar budak terbesar di Asia, bahkan dunia.

Bahkan untuk membangun Kota Batavia, kala itu Belanda mendatangkan budak dari berbagai daerah dalam negeri dan luar negeri. Budak-budak ini dipekerjakan kasar, mereka dianggap rajin dan dapat diandalkan dalam kondisi apapun, tentu saja karena mereka dipaksa bekerja dan takut.

Budak juga dipinjamkan kepada keluarga Eropa yang sedang dan sudah memulai menjalankan bisnis di areal perkebunan. Kehadiran budak-budak itu begitu membantu. Untuk itu, bisnis budak dianggap salah satu bisnis yang paling menguntungkan di Batavia. Apalagi, pergadangan budak umumnya dilakukan dengan cara lelang. Cara itu membuat budak jadi komoditas yang laris manis.

Semuanya karena kebiasaan orang kaya di Batavia menjadikan budak sebagai salah satu simbol kekayaan. Mereka dengan setia akan menunggu budak datang dan membelinya. Makin muda, makin baik, apalagi wanita. Para budak dipaksa kerja siang malam tanpa istirahat. Mereka menyiksa para budak begitu kejamnya, sehingga sebagian besar putus asa dan bunuh diri. Dikabarkan  banyak budak yang memilih bunuh diri. (KRO/RD/RMM)