Korupsi Perangko Kantor Pos Medan Miliaran Rupiah Berakhir Diterali Besi

89 views

RADARINDO.co.id : Ternyata darah wanita ini tergolong nekad dan pemberani. Buktinya selama dua tahun ia menikmati uang penjualan prangko kantor pos Medan, hingga bisa membeli rumah mewah.

Berikut pernyataan Kepala Kejasksaan Negeri (Kajari) Medan menyebutkan terungkapnya kasus korupsi materai 6000 senilai Rp2.094.000.000 di Kantor Pos Medan oleh  Sri Hartati Susilawati (49) atas temuan internal.Hal ini diungkapkan Kajari Medan Dwiharto, sesuai dikutip dari Tribun, Minggu (5/5/2019) di Medan.

 Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Medan Sarjani Sianturi menjelaskan kasusnya seharusnya akan digelar perdana pada besok, Senin (6/5/2019).Ia menyebutkan bahwa uang sebesar Rp2 miliar lebih tersebut didapatkan terdakwa hanya dalam kurun waktu 2 tahun sejak November 2016 hingga Mei tahun 2018.“Di mana perbuatan terdakwa Sri yaitu telah menjual ribuan meterai 6.000 langsung kepada masyarakat dan tidak melakukan penyetoran uang hasil penjualan kepada kasir secara penuh,” ungkapnya.Sang koruptor ini memiliki dua rumah mewah di Jalan Matahari Blok 5 No. 83 Perumnas Helvetia Medan yang sesuai KTP dan satu lagi di Jalan Karya Wisata Komplek Dosen USU No 17, Kel. Gedung Johor, Kec. Medan Johor.

 Terdakwa Sri Hartati bersama-sama dengan Marudut Nainggolan (berkas terpisah) selaku Manager Keuangan dan BPM Kantor Pos Medan pada bulan Nopember tahun 2016 sampai Mei tahun 2018 bertempat di Kantor PT. Pos Indonesia Kantor Pos Medan 2000 di Jalan Pos Nomor 1, Kesawan, Medan Barat.Jaksa juga menyebutkan terdakwa diancam pidana dalam pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001.


“Terdakwa dapat diancam pidana penjara dengan penjara seumur hidup dan paling lama 20 tahun dengan denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp 1Miliar,” ujarnya.Terdakwa sangat licik, untuk menutupi perbuatan dan untuk mengelabui pengawasan dengan membuat ganti materai dengan kertas HVS. Sebab Terdakwa leluasa masuk ke ruangan penyimpanan benda Materai karena memiliki kunci yang diberikan Marudut. Sri menggunakan kardus dan amplop bekas Meterai 6000 yang telah terjual kemudian mengisinya kembali dengan kertas HVS yang dieratkan kembali dengan rapi dimasukkan kembali ke dalam kardus Materai kemudian diikatkan dengan tali pengikat tanpa merusak segel, ungkapnya.Kasus ini mulai terungkap pada 17 Mei 2018 dimana saksi Ringgo Vallerie melakukan pemeriksaan persediaan Benda Pos dan Materai (BPM) di Kantor Pos Medan 20000. Disebutkan bahwa saksi mem-print Laporan Bulanan persediaan Benda Materi yang ada di Web Sistem Informasi Manajemen Konsunyasi dan Filateli sehingga diketahui persedian Benda Materai sebanyak materai 3000 sebanyak 153.400 lembar dan Materai 6000 sebanyak 2.218.350 lembar, tuturnya Jaksa.

Kemudian, Manager Keuangan Benda Pos dan Materai (BPM) Kantor Pos Medan 20000, Yaverni Nelsy melakukan pengecekan fisik benda materai. Ternyata dari materai 3.000 sebanyak 153.400 lembar dan materai 6.000 sebanyak 1.869.350 lembar; jumlah fisik yang tersedia di dalam gudang, ada kekurangan sebanyak 349.000 keping . Atas kejanggalan yang dilihat saksi bahwa kemasan kardus yang seharusnya berisi materai akan tetapi berisi kertas HVS dan sampul-sampul bekas. Sehingga dari temuan tersebut, menghubungi Saksi Sri Hendarti selaku Kepala Regional I Sumatera Utara-Aceh. Sedangkan, Mantan Kepala Cabang Kantor Pos Medan, Khairil Anwar Nasution menyebutkan bahwa kejadian tersebut terjadi di masa kepemimpinannya

Benar itu setahun yang lalu, sekarang saya sejak Juli 2018 sudah tidak menjabat Kacab di sini lagi. Kejadiannya Sri itu mengganti materai itu dengan kertas AVS. Lalu dijual sendiri tidak disetorkan. Penampilan terdakwa Sri tidak terlalu mencolok yang menunjukkan dirinya sudah melakukan korupsi Rp 2 miliar.“Biasa aja kalau pulang naik kereta honda terus juga mau sama kawan nebeng dan juga sering naik angkot gitu,” ungkap Anwar. (KRO/RD/mdn/trbnmdn)