KPU Siapkan Bilik Khusus Untuk Pemilih Bersuhu Tinggi

73
Petugas memeriksa suhu tubuh warga di depan Pasar Induk Rau, di Serang, Banten, Sabtu (13/6/2020). Pemprov Banten bersama jajaran terkait saat ini fokus melakukan pemeriksaan di ruang publik dan pusat keramaian untuk mencegah munculnya kembali episentrum penyebaran COVID-19 saat transisi menuju tatanan normal baru. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.

RADARINDO.co.id-Jakarta:
Untuk menjamin proses pemungutan suara Pilkada Serentak sesuai dengan protokol covid-19, Komisi Pemilihan Umum (KPU) melaksanakan simulasi yang diadakan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Lapangan PTPN Serpong, Tangerang, Banten, Sabtu (12) / 9).

Ketua KPU RI Arief Budiman menyebutkan, simulasi simulasi ini penting dilakukan oleh masyarakat bahwa akan ada Pilkada Serentak pada 9 Desember 2020 mendatang. Selain itu, penting juga agar dapat memastikan bahwa regulasi yang telah KPU sejauh ini dapat menjamin keselamatan para pihak yang terlibat dalam Pilkada Serentak, baik penyelenggara maupun peserta pemilih.

“Rangkaian simulasi simulasi kita lakukan di beberapa tempat lagi,” kata Arief saat meninjau simulasi simulasi.

Lebih lanjut, Arief menuturkan, pada pelaksanaan Pilkada Serentak di tengah pandemi covid-19, akan ada bilik khusus bagi masyarakat yang suhu tubuhnya di atas 37,3 derajat. Arief mengatakan, tidak ada pakaian khusus yang digunakan petugas TPS, dan masyarakat yang suhu tubuhnya tidak sesuai dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 10 Tahun 2020.

“Sekadar suhu tubuh, standar ini sudah cukup. Tapi kalau yang sakit, petugasnya pake hazmat dan kita akan datang ke mereka. Misalnya mereka sedang diisolasi di RS, maka kita akan datang ke rumah sakit,” pungkasnya.

Kemudian, sebelum memasuki TPS, setiap pemilih juga harus mencuci tangan dengan air dan sabun. Ketika masuk, pemilih juga harus menggunakan sarung tangan plastik yang disediakan oleh pihak penyelenggara.

Arief menyatakan, dari berbagai rangkaian simulasi yang sudah dilakukan, sarung tangan ini selalu menjadi keluhan karena menjawab pertanyaan. Akan tetapi, hal itu harus tetap dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan semua pihak.

“Kalian pasti nggak nyaman juga kan masker? Sama halnya. Tetapi, jangan pakai cara kita menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ungkap Arief.

Area pada simulasi memang banyak model yang pihaknya dilakukan, seperti pengaplikasian tinta bagi pemilih yang telah selesai menggunakan hak suara. Kata dia, sejauh ini ada yang dioleskan menggunakan cotton bud dan juga ditetes.

“Jadi, simulasi beberapa model memang, jadi nanti sampai keseluruhan ada dua kali simulasi lagi, kita akan mengambil kesimpulan apakah ini sudah cukup atau perlu perlu lagi,” jelasnya. (KRO / RD / Ano)