Mengenaskan, Wanita dan Anak Anak Bunuh Diri di Jepang Meningkat Saat Gelombang Corona

31 views

RADARINDO.co.id – Tokyo: Sungguh mengenaskan mendengar aksi bunuh diri dilakukan seseorang pasti disebabkan sesuatu hal. Sebagian kelompok menganggap mengakhiri hidup dengan tidak wajar untuk bisa melepaskan segala persoalan hidup.

Bunuh diri juga dinilai sebagai hal yang biasa dilakukan disebagian negara. Akan tetapi bagi mereka orang orang yang beriman, cara tersebut dinilai sesat.

Karena sesungguhnya hidup dan kematian adalah milik sang pencipta yaitu Allah SWT Tuhan Yang Esa. Karena hidup adalah bagian ujian bagi mereka orang yang berakal dalam menjalankan perintahNya.

Virus corona yang melanda dunia, termasuk Jepang menjadikan sebagian warganya mengalami stres berat. Tidak hanya terjadi pembatasan perkumpul, tapi sektor bisnis menjadi terhalang.


Tidak heran, negeri Sakura yang dikabarkan, aksi bunuh diri sempat meningkat saat gelombang kedua pandemi virus corona.

Sebuah studi menunjukkan, fenomena itu terutama terjadi di kalangan wanita dan para anak-anak. Padahal, tingkat bunuh diri di Negeri Sakura sempat turun pada gelombang pertama wabah virus corona. Hal ini seperti dilansir Reuters, Selasa (19/1/2021).

Dijelaskan ketika itu, pemerintah setempat mengucurkan subsidi atau semacam bantuan sosial (bansos) kepada warga untuk meringankan beban mereka saat menghadapi pandemi.

Tingkat bunuh diri di Jepang sepanjang Juli-Oktober lalu naik 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu mengalami pembalikan cukup tajam dari penurunan pada Februari-Juni 2020 sebesar 14 persen.

Data tersebut di atas terangkum dalam studi yang dilakukan para peneliti di Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong bekerja sama dengan Institut Gerontologi Metropolitan Tokyo.

Tidak seperti keadaan ekonomi normal, pandemi ini secara tidak proporsional memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak, remaja, dan perempuan (terutama ibu rumah tangga).

Demikian diungkap para penulis dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behavior, Jumat pekan lalu.

Menurut studi tersebut, penurunan angka bunuh diri di Jepang pada periode Februari-Juni 2020 dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait dengan penanganan wabah Covid-19.

Seperti subsidi pemerintah, berkurangnya jam kerja, dan penutupan sekolah.
Namun, penurunan itu berbalik pada bulan-bulan berikutnya. Tingkat bunuh diri di Jepang melonjak 37 persen pada kelompok wanita.

Jumlah itu sekitar lima kali lipat tingkat bunuh diri di kalangan pria Jepang.
Menurut riset tersebut, kenaikan angka bunuh diri itu disebabkan pandemi berkepanjangan telah mengoyak-ngoyak industri yang didominasi wanita.

Pandemi juga dianggap meningkatkan beban psikis pada kaum ibu yang bekerja.
Sementara pada saat yang sama kekerasan dalam rumah tangga juga terus meningkat.

Sedangkan berdasarkan studi yang disusun berdasarkan data Kementerian Kesehatan dari November 2016 hingga Oktober 2020 itu juga menemukan bahwa tingkat bunuh diri anak di Jepang melonjak 49 persen pada gelombang kedua pandemi virus corona.

Fenomena yang terjadi di negeri Sakura sungguh memprihatinkan. Meski demikian sesungguhnya, masih banyak lagi kejadian yang sama di sejumlah negara negara lain yang tidak tersorot media.

Sejarah akan mencatat, virus corona atau covid 19 sejak tahun 2019 telah merobek robek sendi perekonomian dan sosial. Mengakibatkan warganya melakukan cara yang tidak wajar, sungguh ironis.

Namun masih ada juga kepala pemerintahan atau kepala negara yang bijaksana melindungi warga negaranya. Memberikan jaminan fasilitas demi warganya.

Anehnya, ada juga di suatu negara yang mencari kesempatan pada saat rakyat dalam kesusahan. Eh tega teganya mereka korupsi dana Bansos. Mau tahu siapa dia, tanyakan aja ke KPK, siapa saja yang menikmati uang haram Bansos itu. Semoga…. (KRO/RD/wsp)