Nasib Penganyam Keranjang Bambu Selama 25 Tahun “Tak Dipandang Tapi Dibutuhkan”

879

RADARINDO.co.id-Binjai: Keriput wajah pria yang satu ini seakan terabaikan seiring perjalanan waktu. Meski usia sudah tidak mudah lagi, namun semangat dan kelincahan kedua tanganya tidak diragukan lagi.

Adalah seorang pria yang biasa dipanggil pak Tugimin (65 thn) begitu cekatan menganyam belahan bambu. Profesi yang sudah di tekuni selama 25 tahun sebagai pembuat keranjang bambu untuk tempat buah-buahan yang akan di pasarkan dari pengepul ke Agen yang selanjutnya di jual oleh pengecer.

Semula di Lingkungan IV Kel. Binjai Estate, Kec Binjai Selatan ini hampir setiap rumah berprofesi sebagai pengrajin, sekarang hanya ada 3 pengrajin yang masih meneruskan usaha ini.

Banyak faktor yang menjadikan pengrajin Keranjang Bambu ini semakin berkurang, diantaranya adalah semakin banyaknya daerah lain membuka usaha yang sama sementara harga jual keranjang tak beranjak naik seperti harga-harga pada umumnya yang mengikuti pola pasar.

Salah satu contoh hasil kerajinan pak Tugimin adalah 1 (satu) tangkup yang berisi 3 keranjang hanya dijual sebesar Rp30 ribuan saja.

Sedangkan bentuk kerajinan yang sama dijual di pasal maupun Mall sudah mencapai 5 kali lipat bahkan lebih.

Menurut pak Tugimin, saat dimintai keterangan RADARINDO.co.id GROUP KORAN RADAR mengatakan saat membuat keranjang ada 3 jenis bagian yaitu buat dasar/tapak keranjang, buat anyaman.

Buat pegangan keranjang agar memudahkan saat diangkat.
Masing-masing pekerja bebas memilih sesuai kecepatan dan keahliannya. Upah juga berdasarkan hasil yang di dapat pekerja, dengan sistem Borongan.

Begitupun ada juga yg meminta upah harian yang biasanya mendapat Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari.

“Tergantung kesepakatan target kerja antara pekerja dengan pengusahanya”, ujar pak Tugimin dengan menggunakan bahasa Jawa yang masih kental.

Pasokan Bambunya sendiri sudah ada yang mengantar sebagian besar dari daerah Dusun Cinta Dapat, Desa Bahrang, Kec. Selesai Kab. Langkat.

“Harapan kami, pihak pemerintah Kota Binjai mau memberi perhatian dan membantu kami mengupayakan agar dapat pinjaman” tutur pak Min, panggilan sehari-hari.


Selain sebagai pengrajin pak Min juga sebagai Bilal Jenazah bila ada warga sekitar mengalami musibah meninggal dunia.

“Mohon pembinaan seandainya ada pelatihan agar masyarakat di sekitar sini mampu membuat jenis produk lainnya, agar nilai jualnya lebih tinggi” ungkap pak Min.

Ditempat berbeda, Ketua UKM Sumatera Utara, Alamsyah Silalahi didampingi Sekretaris Jumadi mengatakan, mestinya pemerintah setempat memberikan perhatian.

Pemerintah Kota Binjai melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan harus memfasilitasi dana pembinaan. Sehingga hasil kerajinan mereka dapar dipasarkan sebagai hasil karya anak bangsa.

Dari sat sisi karya tidak dipandang, disisi lain dibutuhkan orang banyak. Bahkan dapat mendongkrak PAD termasuk membuka lapangan kerja.

“Dari satu sisi pemerintah maupun BUMN terkesan mengabaikan, padahal disisi lain karya mereka kita butuhkan”, ujar Alamsyah Silalahi.

Tidak hanya itu, ujarnya lagi, Lembaga UKM akan membantu memfasilitasi untuk mendapat dana pembinaan dari CSR. (KRO/RD/Jumadi, Budi)