Pakaian Disebut Bukan Sumber Penularan Virus Corona

113 views

RADARINDO.co.id : Baru-baru ini, warga dihebohkan dengan adanya pasangan pengunjung supermarket yang berbelanja mengenakan hazmat atau pakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang biasa dipakai petugas medis untuk menangani pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Bahkan, tak sedikit orang yang menggunakan jas hujan saat bepergian ke luar rumah, guna menghindari penularan virus corona. Mereka khawatir virus yang menginfeksi saluran pernapasan itu menempel di pakaian dan akhirnya menginfeksi.

“Jika keluar untuk berlari di lingkungan atau ke toko bahan makanan, sangat tidak mungkin terpapar Covid-19 melalui pakaian atau sepatu. Kami tidak percaya sepatu atau pakaian adalah sumber penularan yang signifikan,” ujar Dr Vincent Hsu, dokter penyakit dalam, penyakit menular, dan obat pencegahan di AdventHealth, Orlando, Amerika Serikat, dilansir dari Tempo, Kamis (9/4).

Menurut Hsu, hingga saat ini belum ada kasus yang terdokumentasi mengenai penularan Covid-19 melalui pakaian dan sepatu. Dijelaskannya bahwa Covid-19 adalah penyakit pernapasan seperti flu yang disebabkan oleh virus corona baru, dan disebarkan oleh cairan dari saluran pernapasan seperti batuk atau bersin.


Berdekatan dengan pasien terinfeksi corona yang sedang batuk dan bersin ungkapnya, adalah hal yang paling mungkin untuk penularan langsung, virus yang diketahui dapat bertahan di luar tubuh manusia seperti di permukaan.

Dijelaskannya lebihlanjut, seseorang dapat tertular Covid-19 ketika memegang benda yang sebelumnya terkena cairan dari orang terinfeksi virus yang diperkirakan dapat bertahan hidup beberapa jam hingga beberapa hari.

Covid-19 dapat bertahan selama 2-3 hari pada logam dan plastik. Namun, pakaian tidak dianggap sebagai bahan yang kondusif untuk kelangsungan hidup virus ini. “Studi terbaik kami di bidang ini, pakaian secara umum tidak dianggap sebagai inkubator virus terbaik,” sebut Dr Kathleen Jordan, spesialis penyakit menular yang juga wakil presiden di CommonSpirit Health.

Hal ini katanya, lantaran sifat bahan kain tidak kondusif bagi kelangsungan hidup virus yang lebih menyukai kelembaban. “Pakaian biasanya lebih kering dari permukaan yang keras, yang berpotensi menyerap angin lebih mudah,” kata Jordan.

Namun, para ahli sepakat ada beberapa skenario dimana mencuci pakaian merupakan ide sangat baik, terutama bagi yang berinteraksi langsung dengan pasien Covid-19 seperti petugas kesehatan. (KRO/RD/TMP)