Pegunungan Hutalontung Muara–Taput Longsor

112

RADARINDO.co.id – Taput:
Pegunungan Hutalontung Muara–Taput longsor akibat pembangunan jalan dan hujan deras yang mengguyur daerah Tapanuli Utara (Taput), pegunungan desa Hutalontung Kecamatan Muara berbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan longsor.

Pegunungan Hutalontung Muara–Taput longsor mengancam pemukiman penduduk di sepanjang pinggiran Danau Toba karena membawa lumpur gunung dan bongkahan batu.

Bongkahan batu dari proyek di pegunungan Panoguan Solu tersebut terjadi Rabu (23/9) sekira pukul 21.00 itu mengejutkan warga yang bermukim di sekitar pinggiran Danau Toba desa Hutalontung – Kecamatan Muara – Taput.

“Ini juga akibat pembangunan jalan yang saat ini masih berlangsung diatas pegunungan tersebut. Pembuangan airnya dibuat ke desa Hutalontung tanpa memperhitungkan dampaknya.”

Hal ini mengancam pemukiman penduduk yang percis terletak di pinggiran Danau Toba. “Kami sangat terkejut semalam begitu ada bunyi air mengalir dari atas gunung. Begitu kami keluar ternyata sudah ada longsor dari atas gunung. Air bercampur lumpur dan bongkahan batu menghantam badan jalan.”

Sementara hujan masih sangat deras. Kami sangat takut akan terjadi longsor besar dari atas bukit tersebut. Proyek jalan Hutalontung (Taput) – Panoguan Solu (Humbahas) sudah sangat mengancam karena diatas pegunungan itu ditumpuk bahan material batu dan tanah.

Jalan tersebut sudah selesai tahun lalu, namun di sepanjang jalan yang dibangun banyak tanah tumpukan. Belum lagi areanya sangat terjal dan di bawahnya pemukiman penduduk desa Hutalontung yang dihuni 160 KK (Kepala Keluarga)”ujar Donny Sianturi (45) penduduk Hutalontung Kecamatan Muara didampingi warga lainnya RM Rajagukguk, Aritonang kepada “Waspada”,Kamis (24) di Muara.

Donny Sianturi menuturkan, sebelum dibangun pun jalan Hutalontung – Panoguan Solu tersebut, jika hujan deras juga sudah sering terjadi longsor akibat ada yang menebang kayu pinus di atas pegunungan tersebut. Pihak Kehutanan Provinsi sudah pernah turun menertibkannya. Namun sekarang ada pembangunan jalan tetapi justru mengancam terjadi longsor dari atas gunung.

“Kami mohon agar Pemerintah memberi perhatian. Jangan kami penduduk desa Hutalontung yang jadi korban. Perkampungan kami percis kaki gunung”ujar Sianturi. Kepala Desa (Kades) Hutalontung, Rommel Rajagukguk kepada “Waspada”, Kamis (24/9) juga menyebut, terjadi longsor dadakan dari atas gunung yang mengancam pemukiman di desanya.

“Kami sangat kuatir semalam dengan ancaman longsor tersebut. Jika musim hujan sering terjadi longsor bercampur batu dan lumpur gunung. Apalagi saat ini ada pembangunan jalan Hutalontung. Panoguan Solu di pegunungan itu tidak memperhitungkan dampak pembuangan air ke bawah gunung yang ada pemukiman penduduk.

Sudah pernah kami protes ke pemborongnya agar pembungan air dikaji. Jangan diarahkan ke pemukiman penduduk. Begitu juga tumpukan tanah di badan jalan. Tapi pemborongnya tidak menggubrisnya. Dia tidak peduli akan dampaknya kepada masyarakat yang bermukim dibawah gunung.

Kami minta agar Pemerintah memberikan perhatiannya”ujar Rommel Rajagukguk. Kades Hutalontung, Rommel Rajagukguk mengatakan,dampak pelaksanaan proyek itu harusnya dikaji. Jangan asal dijalankan tanpa memperhitungkan dampaknya kepada masyarakat yang bermukim di Hutalontung.

“Kami sangat keberatan. Jika terjadi bencana banjir bah dari atas gunung, siapa yang bertanggungung jawab.’ “Kami sangat kuatir terjadi bencana longsor. Kami minta agar pembangunan jalan di atas pegunungan itu, dihentikan dulu untuk sementara. Apalagi saat ini sudah musim penghujan”ujar Rommel Rajagukguk.

Kadis PUPR Taput Ir Dalan Simanjuntak yang dihubungi “Waspada”,Kamis (24/9) menyebut, belum mengetahui longsor tersebut. “Jalan itu merupakan Jalan Provinsi yakni jalan tembus Hutalontung (Taput) – Panoguan Solu (Humbahas). Dan saat ini sedang dalam tahap pembangunan.”

“Begitu pun nanti segera kita hubungi pihak Bina Marga Sumut agar lebih diperhatikan menyangkut dampak pembangunan jalan diatas pegunungan itu”ujarnya. Sementara Kepala Badan Pembangunan Bencana Alam Daerah (BPBD) Taput Ir Bonggas Pasaribu kepada “Waspada”, Kamis (24/9) mengatakan, belum mengetahui terjadinya longsor tersebut.

“Jika Kepala Desa menyurati BPBD Taput maka kita juga dapat meminta pihak Provinsi untuk menghentikan pembangunan jalan tersebut. ” Jangan sampai terjadi bencana longsor yang dapat menelan korban jiwa. Dibawah pegunungan itu banyak pemukiman penduduk yakni desa Hutalontung Kecamatan Muara,” ujar Bonggas. (KRO/RD/wspda)