Penemu VS Penerima Terkait Ilmu

115

RADARINDO.co.id-Deli Serdang: Beragam cara para orang tua kita dahulu menerapkan pesan nasihat kepada anak anaknya. Ada dengan berupa nasihat yang jelas ia sampaikan dan ada lagi berupa kalimat yang mengandung makna.

Sebagaimana manusia umumnya, akal manusia bersifat penjelajah (penasaran) dari setiap kalimat yang pernah sampai terdengar di telinganya.

Namun ada juga beberapa manusia menerima dengan mentah, (tanpa mencerna setiap kalimat yang muncul didengar pada telinganya).

Ada beberapa alasan mengapa para tetua dahulu menyampaikan pesan berupa kata ” KIAS”. Ya itu tadi, manusia bersifat penjelajah, dan selalu akalnya dalam pencarian sehingga menemukan pada kalimat dimaksud.

Seorang “Penemu” dalam perjalanan ilmu, akan mendapati “Pengetahuan” yang kokoh tertanam pada dirinya”. Dan menjadikan pengehuan itu sebagai reverensinya.

Berbeda jauh dengan “mereka” sebagai penerima ilmu. Yakni, (mereka mereka yang senantiasa, selalu, di ajari tanpa bisa mengembangkan apa yang telah di ajarkan kepadanya).

Ilustrasi seorang Ayah berpesan pada kedua anaknya mungkin bisa kita jadikan perbandingan agar didapat antara penemu ilmu dengan penerima ilmu.

“Ingat 2 (dua) hal ini wahai Anakku,” ujar ayah memulai menyampaikan pesannya antara lain:

1. Jangan pernah kamu menagih piutang.

2. Jangan pernah tubuhmu terkena terik matahari secara langsung.

Kemudian, 10 tahun berlalu setelah sang ayah wafat, sang ibu datang menengok anak sulungnya, kemudian bertanya: Wahai anak sulungku kenapa kondisi bisnismu demikian?.

Si sulung menjawab : Saya mengikuti pesan ayah bu. Ayah bilang, Saya dilarang menagih piutang kepada siapapun sehingga banyak piutang yang tidak dibayar dan lama- lama habislah modal saya.

Terus ayah melarang saya terkena sinar matahari secara langsung dan saya hanya punya sepeda motor, itulah sebabnya pergi dan pulang kantor saya selalu naik taxi, beginilah akhirnya.

Sang ibu merenung, lalu sang ibu pergi ke tempat si bungsu, Ternyata si bungsu sekarang menjadi orang sukses.

Sang ibu pun bertanya:
“Wahai anak bungsuku, hidupmu sedemikian beruntung, apa rahasianya?”
Si bungsu menjawab : “Ini karena saya mengikuti pesan ayah bu.”

Pesan yang pertama saya dilarang menagih piutang kepada siapapun. Oleh karena itu saya tidak pernah memberikan hutang kepada siapapun tetapi saya beri sedekah sehingga modal saya menjadi berkah.

Pesan kedua saya dilarang terkena sinar matahari secara langsung, karena saya hanya punya motor, saya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, sehingga para pelanggan tau kalau toko saya buka lebih pagi dan tutup lebih sore.

Mindset atau cara pandang yang berbeda, memberikan hasil yang berbeda pula. Selamat beraktifitas semoga kita semua sukses selalu. (KRO/RD/Hari’S)