Penemuan Ekor Spinosaurus Buktikan Bahwa Ia Dinosaurus Perenang Pertama

91

RADARINDO.co.id-Jakarta:
Di ujung lorong yang remang-remang di Université Hassan II Casablanca, terdapat ruangan berdebu yang menyimpan seperangkat fosil luar biasa—tulang-tulang yang menimbulkan pertanyaan mendasar tentang Spinosaurus asgyptiacus, salah satu dinosaurus teraneh yang pernah ditemukan.

Lebih panjang dari Tyrannosaurus rex dewasa, predator tujuh ton ini memiliki ekor besar di bagian belakang tubuhnya. Juga sebuah moncong panjang seperti rahang buaya dengan gigi berbentuk kerucut. Selama beberapa dekade, rekonstruksi tubuh besarnya berakhir dengan ekor panjang dan menyempit seperti sepupu theropoda-nya.

Namun, menurut Michael Greshko, jurnalis National Geographic, sisa-sisa tubuh Spinosaurus berwarna merah kecokelatan yang ia lihat secara langsung, mengubah gambar tersebut.  Tulang-tulang itu membentuk ekor lengkap yang pertama kali ditemukan untuk Spinosaurus. Itu sangat besar–perlu lima meja untuk menopang berat dan panjangnya. “Seperti dayung tulang raksasa,” ungkap Greshko dalam tulisannya di laman National Geographic.

Dipublikasikan pada Rabu (29/4) di jurnal Nature, ekor tersebut merupakan adaptasi akuatik paling ekstrem yang pernah ada pada dinosaurus besar. Penemuannya di Maroko meluaskan pemahaman kita tentang bagaimana salah satu kelompok hewan darat paling dominan bertahan hidup.

Strut halus hampir dua kaki menonjol dari banyak tulang belakang yang membentuk ekor, memberikan profil seperti dayung. Di ujung ekornya, tulang yang menonjol praktis menghilang—membiarkan ujung ekor yang berombak mendorong hewan tersebut melewati air. Adaptasi tersebut mungkin membantu Spinosaurus bergerak melalui ekosistem sungai yang luas yang menjadi rumahnya. Atau bahkan mengejar ikan besar yang akan dimangsa.

“Pada dasarnya, ini adalah dinosaurus yang mencoba membuat buntut ikan,” kata Nizar Ibrahim, National Geographic Emerging Explorer sekaligus peneliti utama yang memeriksa fosil tersebut.

Struktur tulangnya—dilihat dari pemodelan robot mutakhir terhadap gerakan ekor—menambah bukti segar dan meyakinkan mengenai argumen yang sudah berkecamuk selama bertahun-tahun di kalangan ahli paleontologi: Berapa waktu yang dihabiskan Spinosaurus untuk berenang dan seberapa dekat sebenarnya predator ini dengan kehidupan air?

Pada 2014, penelitian yang dipimpin oleh Ibrahim, menyatakan bahwa predator tersebut merupakan dinosaurus semiakuatik pertama yang dikonfirmasi—sebuah hipotesis yang kemudian mendapat tekanan balik dari rekan sejawatnya yang mempertanyakan apakah fosil yang Ibrahim pelajari benar-benar Spinosaurus.

Pada masa Spinosaurus, sekitar 95 hingga 100 juta tahun lalu di periode Cretaceous, beberapa kelompok reptil telah berevolusi untuk hidup di lingkungan laut, misalnya seperti ichtyosaurus dan plesiosaurus. Namun, monster laut era dinosaurus tersebut berada di cabang yang berbeda pada pohon keluarga reptil. Sementara dinosaurus sejati seperti Spinosaurus telah lama diyakini sebagai penghuni daratan.

 

Kini, dengan adanya bukti dari ekor yang telah dianalisis, terdapat fakta kuat bahwa Spinosaurus tidak hanya bermain-main di pinggir pantai, tapi juga mampu bergerak secara penuh di perairan. Secara kolektif, penemuan terbaru ini menyatakan bahwa raksasa Spinosaurus menghabiskan banyak waktu di bawah laut, kemungkinan memburu mangsanya seperti buaya besar.

“Ekornya menunjukkan hal yang jelas, dinosaurus ini benar-benar berenang,” ujar Samir Zouhri, ahli paleontologi di Université Hassan II yang terlibat dalam penelitian.

Ilmuwan lain yang telah mengevaluasi studi tersebut setuju bahwa  ekor ini memperkuat fakta bahwa Spinosaurus adalah hewan semiakuatik.

“Ini sedikit mengejutkan. Spinosaurus bahkan lebih aneh dari yang kita duga sebelumnya,” kata Tom Holtz, ahli paleontologi dari University of Maryland yang tidak terlibat dalam penelitian.

Kisah tentang Spinosaurus dan ekornya yang tidak biasa merupakan petualangan yang bermula dari museum-museum Jerman yang dibom sampai temuan di Maroko, tepian Gurun Sahara.

Sisa-sisa hewan kuno ini pertama kali ditemukan pada lebih dari satu abad lalu, berkat ahli paleontologi dan bangsawan Bavaria, Ernst Freiherr Stromer von Reichenbach. Dari 1910 hingga 1914, Stromer melaksanakan serangkaian ekspedisi ke Mesir yang menghasilkan puluhan fosil—termasuk yang ia beri nama Spinosaurus aegyptiacus. Pada publikasi deskripsi pertamanya, Stromer kesulitan menjelaskan anatomi makhluk tersebut. Ia berspekulasi bahwa keanehan fosil tersebut “berbicara tentang spesialisasi tertentu”. Stromer membayangkan hewan itu berdiri di atas kaki belakangnya yang tidak seimbang seperti T. rex dan punggungnya dipenuhi duri. Ketika fosil dipamerkan di Paleontological Museum Munich, itu berhasil membuat Stromer terkenal. (KRO/RD/NationalGeo)