Perbedaan Memberikan Pelayanan Umum Kapitalisme Dan Islam

110 views

RADARINDO.co.id-Bandung : Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi PKS Maulana Fahmi mengapresiasi pelaksanaan launching mobil Polymerase Chain Reaction (PCR) yang diinisiasi Pemerintahan Desa Cipagalo bekerjasama dengan pihak swasta, Vaksinku.

Launching mobil PCR dalam upaya pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19 di wilayah Kabupaten Bandung.

“Saya pikir ini suatu langkah inovatif, kemudian perlu diapresiasi karena kita tahu Kabupaten Bandung masih zona merah,” kata Maulana Fahmi kepada wartawan di sela-sela launching mobil PCR Vaksinku di halaman Kantor Kepala Desa Cipagalo,  Jalan Terusan Buahbatu No 161 Desa Cipagalo  Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Senin 1 Februari 2021.

Didampingi Direktur Vaksinku Sarah Pamela dan Kepala Desa Cipagalo Achmad Haedar, Maulana Fahmi mengatakan, semua pihak harus suport pemerintah untuk mempercepat menyelesaikan permasalahan pandemi Covid-19.


Tak bisa dipungkiri dengan semakin melambungnya tingkat kematian karna covid19 dan meningginya pasien covid19 ataupun orang yang terpapar covid19, jika kita perhatikan dengan seksama kejadian ini dijadikan lahan bisnis bagi para kapitalisme.

Mereka mengeluarkan kebijakan seolah memudahkan dan membantu masyarakat di saat pandemi ini, dengan peluncuran pelayanan PCR mobile yang harganya dibawah rumah sakit umumnya, karena diberikan subsidi dari pemerintah.

Proyek yang jelas sekali berbau kapitalisme, padahal sudah kewajiban pemerintah untuk memberikan fasilitas kesehatan dan biaya pengobatan secara gratis untuk masyarakatnya.

Dan ketika kita tinjau program inipun tak akan pernah bisa mengeluarkan kondisi dari pandemi, alat yang hanya sekedar mendeteksi virus dan tidak mengobati virus.

Satu-satunya solusi untuk keluar dari kondisi pandemi saat ini dan juga agar bisa terbebas dari cengkraman para kapitalisme yaitu dengan mengganti sistem yang sudah rusak ini dengan sistem islam.

Ismail Raji AlFaruqi dan Istrinya Louis Lamya AlFaruqi menggambarkan dengan indah kehidupan Islam di masa tegaknya.

Dalam kitab yang mereka tulis berjudul (terjemahan) Atlas Budaya Islam : Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, digambarkan sisi-sisi kehebatan sistem Islam, mulai dari pemikiran hingga penerapannya. Mulai dari bidang privat, hingga hukum-hukum publik, termasuk perkembangan iptek, seni dan tradisi.

Kehidupan umat non muslim yang menjadi ahludz dzimmah pun digambarkan sedemikian sejahtera. Tak ada diskriminasi sebagaimana yang dialami umat Islam di negeri-negeri kafir saat ini.

Seluruh rakyat yang menjadi warga negara mendapat jaminan kesejahteraan yang sama. Negara memberi jaminan publik secara maksimal, dengan bukti-bukti yang tak bisa disangkal. Rumah sakit, tenaga medis, obat-obatan semua gratis.

Begitupun untuk pendidikan. Negara menyediakan fasilitas terbaik dengan guru-guru dan dosen terbaik yang digaji superlayak oleh negara.

Perpustakaan dan jaminan beasiswa dan riset tak ada duanya. Dan semua bisa diakses rakyat secara cuma-cuma. Begitupun dengan keamanan, transportasi dan fasilitas publik lainnya.
Walahu alam bisshowab. (KRO/Mahasiswa Bandung/Fina Fauziah)