Repleksi Penghujung Tahun

100

RADARINDO.co.id-Deli Serdang: Ditilik dari yang “Satu” nampak banyak, di antara yang banyak satupun tiada berguna.
(Untuk memahami ungkapan tersebut, telah nyata oleh kita dengan contoh alat perbandingan yakni kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat).

Bagi ummat Islam ( mukmin yang beriman) yang dimaksud ditilik satu yakni dari sisi keimanan, bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik lagi abadi dan balasannya surga dari Allah SWT.

Sedangkan dari sisi duniawi, hanya perjalanan saja, ( hanya mencari perbekalan saja). yang cukup banyak rintangan mulai dari godaan berbuat maksiat, keinginan- keinginan duniawi yang cukup luas, sehingga satupun tiada berguna bila dilihat dari kacamata keimanannya.

Berbanding terbalik bila peniliknya ( cara melihat kaum Kafirin) yakni orang- orang yang engkar terhadap adanya kehidupan abadi setelah kematian. Mereka (kaum kafirin) berbangga- bangga dengan hasil jerih payahnya, mengumpul harta sebanyak banyaknya dan menganggapnya bahwa kehidupan dunia, inilah surga mereka.

Terkait hal tersebut, Allah SWT telah memberikan isyarat, melalui utusannya yakni Nabi Muhammad SAW yang tertulis firman-nya di dalam Al Qur’an sebagai pedoman ummat Islam yaitu:

“Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah PERMAINAN. Senda gurau yang melelahkan, perhiasan, saling berbangga diri diantara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak”.QS. Al Hadid: 20.

Oleh karenanya dalam menata kehidupan kita di dunia yang sementara ini dan sebagai bekal di akhirat nanti, sebuah kisah menarik untuk kita renungkan bersama berikut ini:

Kisah bermula di sebuah Kongres Anggota Tubuh Manusia (KATM) Pak Jantung memimpin sesi sidang dengan topik judul, “Pemberian Penghargaan Pada Anggota Tubuh Manusia Terpenting Tahun ini”.

Dalam pidato pengantarnya, Pak Jantung berkata, ”Saudara-saudaraku sesama anggota tubuh, sebagaimana kita tahu tuan kita sangat menginginkan kinerja kesehatannya meningkat tahun ini. Peningkatan ini hanya mungkin, kalau kita semua memperbaiki kinerja masing-masing. Nah, untuk memicu dan memacu peningkatan kinerja itu, tuan kita berkenan memberikan penghargaan kepada anggota tubuh terpenting. Untuk itu, kita harus menentukan siapa di antara kita yang layak untuk mendapatkannya.”

Sidang seketika hening. Semua bingung karena sulit untuk menentukannya. Mas Mata merasa dirinya paling penting, karena tanpa dirinya, tuannya pasti akan kelimpungan ketika berjalan. Jeng Bibir juga merasakan hal yang sama, karena dialah juru bicara andalan tuannya.

“Coba kalau saya mogok kerja, pasti tuan dikira bisu!”. Pak Jantung tak mau kalah. “Kalau saya mau mogok kerja 1 detik saja, dunia pasti kiamat Bung!”

Akhirnya, ruangan kongres pun gaduh. Gaduh sana dan gaduh sini. Sesaat kemudian, Pak Jantung mengetuk meja sidang. “Diam semua. Setelah saya pikirkan masak-masak, sulit bagi kita untuk mencari siapa yang paling penting. Bagaimana kalau sebaliknya, kita cari saja siapa yang paling tidak penting”

Pak Jantung berbicara semangat sekali sambil melirik salah satu peserta yang pendiam, yakni Bang Lubang Kentut. Upsss. Tak dinyana, semua koor, “setujuuuu!”

Akhirnya secara aklamasi, pilihan jatuh bulat-bulat pada – siapa lagi kalau bukan – Bang Lubang Kentut! Serta merta Bang Lubang Kentut protes mengajukan PK, Peninjauan Kembali.

Tapi sia-sia saja. Protes Bang Lubang Kentut tenggelam dalam keriuhan sidang. Dan tak lama sidang pun usai. Bang Lubang Kentut terdiam. “apa yang aku lakukan untuk tuanku, ternyata tak berharga sama sekali”, batinnya. “Baiklah. Akan aku tunjukkan bahwa apa yang mereka putuskan itu salah besar!”

Maka, mulailah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sang tuan pun demam. Kadang panas kadang dingin. Satu per satu anggota tubuh unjuk sakit. Pak Jantung mengeluh, detak jantungnya lain dari biasanya.

Yang biasanya berirama pop, kok mendadak berubah ada cengkok dangdutnya. Jeng bibir meradang, setiap kali bertugas pasti orang di sekitar tuannya ramai-ramai menutup mulutnya masing-masing.

“Ada bau tak sedap”, kata mereka. Mas Mata juga begitu. “Aku sering kelilipan dan berkunang-kunang, padahal tak ada kunang-kunang yang hinggap pada diriku. Kenapa ya?” Lalu, semua berkumpul. “Ya…ya…ya… kami juga!” Sungguh tidak seperti biasanya.

Mereka pun menunjuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus ini. Setelah mendapat petunjuk dari sejumlah saksi, tim pun menangkap Bang Lubang Kentut sebagai satu-satunya tersangka.

Akhirnya, di hadapan majelis hakim, Bang Lubang Kentut pun mengakui bahwa ini semua terjadi karena dirinya melakukan mogok kerja. Jika tuannya ingin kentut, ia tak merespon. Kalau tuannya ingin BAB, ia cuek saja.

Pokoknya ibarat keran air, dirinya mengunci rapat-rapat keran itu. Mbah Kumis, ketua majelis hakim yang berwibawa pun bertanya, “Jujurlah padaku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan ? Bang Lubang Kentut terbata-bata,

“Saya ingin menyadarkan semua pihak, meskipun posisi saya di bawah, tak elok dipandang, bukan berarti saya lantas tidak penting. Semua anggota tubuh sama pentingnya. Sudah sepantasnya kita saling sinergi sesuai dengan core-nya masing-masing”.

Kerja sama yang baik, adalah sikap yang saling peduli, saling mendukung, saling memudahkan. Tidak jegal-menjegal tidak rugi- merugikan dan semua di proyeksikan untuk mencapai tujuan positif (kebaikan) bersama dalam kehidupan di dunia yang sementara.

Kalaulah sebuah kisah sederhana ini kita padakan didalam kehidupan bermasyarakat dan di dalam pemerintahan yang sekarang ini di pimpin presiden RI Jokowi, bisa mengambil hikmahnya, tentunya berlomba-lomba dalam hal kebaikan sebagai bekal kita di akhirat akan mendapatkan Rahmatan Lil Alamin dari Allah SWT.

Bagitu juga sebaliknya, bila kita lalai dan dan mengabaikan adanya kehidupan abadi di akhirat Allah SWT sudah mewanti-wanti dengan firman-nya; QS AL ARAF:179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (KRO/RD/Hasan Basri, Kabiro Deliserdang)