Seorang Siswi SMP Diperkosa Ramai Ramai di Kebun Sawit PTPN II Begini Kondisi Korban

289

RADARINDO.co.id-Deli Serdang: Entah syaitan apa yang merasuki otak ke delapan pelaku anggota geng, hingga nekad memperkosa seorang wanita yang masih duduk dibangku SMP.

Akibat perbuatan pemuda tersebut, orangtua korban mengalami stres berat. Ibu korban menangis pilu meratapi nasib seorang putri kesayangannya diperkosa beramai-ramai ala Sum Kuning.

Bahkan kabarnya, putri kesayangannya itu kini telah melahirkan seorang bayi. Beban perasaan menanggung malu, masa depan anak berantakan, melangkapi penderitaan ibu korban.

Korban bernama Bunga, bukan nama sebenarnya, siswi SMP diperkosa secara bergilir di areal perkebunan kelapa sawit PTPN II, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupeten Deli Serdang.

Pemerkosaan ala Sum Kuning itu kembali mencuat, setelah Ketua LPA Deli Serdang, Junaidi Malik, berkordinasi ke Unit PPA Satreskrim Polresta Deli Serdang, untuk segera melakukan penangkapan.

Bersama Tim Opsnal PPA Polresta Deli Serdang, akhirnya seorang pelaku berhasil diringkus tanpa perlawanan, jelas Hendri, Rabu (20/01/2021).

Penangkapan itu sendiri merupakan tindaklanjut dari laporan pengaduan M, (38), Ibu korban yang didampingi penasehat hukumnya dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Deli Serdang ke Polresta Deli Serdang, pada tanggal 27 Juli 2020 tahun lalu, dengan Nomor Laporan Pengaduan : STTLP/380/VII/2020/SU/RES DS.

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian menyebutkan, Pelaku yang berhasil dibekuk itu, bernama Latief Monel, (19), yang tak lain teman, juga tetangga korban.

Saat petugas melakukan pengembangan penyelidikan, terhadap 7 orang pelaku lainnya, namun belum dapat ditemukan. OK Hendri, selaku kuasa hukum korban, sangat menyayangkan sikap para keluarga pelaku yang tidak kooperatif, dan terkesan sengaja melindungi para pelaku, dan menghalangi tugas aparat hukum.

“Kami akan buat laporan ke Polresta, karena ini jelas Pihak Keluarga Pelaku telah melanggar hukum, yang mencoba melindungi Para Pelaku,” tegasnya.

Kepada media Hendri menjelaskan, pemerkosaan gerombolan yang dialami korban sewaktu masih duduk di bangku sekolah SMP kelas 3 pada bulan Juni 2020.

“Saat itu, korban dijemput dari rumah oleh R, merupakan teman dekatnya. Lalu dibawa pergi ke arah kebun sawit di Kecamatan Pagar Merbau,” terangnya.

Setibanya di kebun sawit, lanjut Hendri, ternyata sudah menunggu 7 orang pria merupakan teman dari R.

“Di sana (kebun sawit) 8 pria tersebut langsung menarik paksa korban, kemudian memperkosa secara bergantian. Usai diperkosa, korban kemudian diantar pulang oleh satu pria yang menjemputnya dari rumah,” jelasnya.

Tak berhenti sampai di situ, terang Hendri, selang beberapa hari seorang pelaku yang sebelumnya menjemput ke rumah korban kembali datang dengan maksud mengajak pergi menonton pertandingan bola futsal di Kecamatan Pagar Merbau.

“Di tempat futsal bukan menonton pertandingan, malah melakukan hal sama seperti di kebun sawit. Bunga kembali diperkosa oleh para pelaku. Dalam keadaan tak berdaya serta diancam, korban tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu korban diantarkan pulang ke rumah,” terang Hendri.

Hendri menyebutkan, terungkapnya kasus pemerkosaan gerombolan itu karena korban telah berbadan dua hingga melahirkan bayi.

“Bunga dalam keadaan berbadan dua menceritakan kepada orang tua bahwa telah disetubuhi oleh delapan pria. Klien kita juga pernah menjalani pembelajaran di bangku SMK selama dua pekan. Namun, karena kondisi hamil sehingga pupus di tengah jalan untuk menimba ilmu pendidikannya,” sebut Hendri.

Atas kasus ini, Hendri mengaku pelaku R yang merupakan otak pelaku pemerkosaan beramai-ramai sudah ditangkap Polresta Deli Serdang.

“Dia (R) ditangkap pada bulan Juli 2020. Berkas perkara bersangkutan sudah sampai ke pengadilan. Sementara para anggota ‘geng rape’ lainnya belum tertangkap,” pungkasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Deli Serdang, Kompol Muhammad Firdaus SIK ketika dikonfirmasi, Kamis (21/1/2021) via WhatsApp terkait kasus pemerkosaan gerombolan dimaksud belum ada jawaban.

Berdasarkan perbuatan Asusila tersebut, para pelaku dijerat Undang Undang Perlindungan Anak, No.35, Tahun 2014, tentang Perubahan UU No.23, Tahun 2002, Pasal 81, dan Pasal 82, dengan ancaman hukuman pidana kurungan, maksimal 15 tahun penjara. Tutup Hendri.

Juhari salah seorang warga Pagar Merbau mengaku prihatin atas pertiwa pemerkosaan tersebut. Apalagi tersangka yang juga masih tetangga korban.

“Kami minta Polisi segera meringkus pelaku lainya. Mereka pantas dihukum seberat beratnya”, ujar Juhari pensiunan perkebunan sawit BUMN di kebun Pagar Merbau. (KRO/RD/Hari’S)