Tidak Hanya Manusia, Kucing Ternyata Sering Merajuk

16

RADARINDO.co.id-Medan: Harus tahu dulu apa itu merajuk atau ngambek alias nesu. Pertanyaannya, kenapa manusia bahkan kucing ternyata sering ngambek. Kemudian apakah itu sifat dan karakter.

Setiap makhluk hidup tentu memiliki fitrah. Tidak hanya bagi manusia, ternyata hewan jenis kucing juga sering merujuk. Hal ini bisa saja karena disebabkan faktor usia, pendidikan yang pas-pasan, bahkan hempitan ekonomi bisa membuat seseorang berperilaku lebih atau ane-ane untuk menutupi kekurangan pada dirinya.

Baca juga : Begini Cara Tepat Dekorasi Rumah

Seringkali merasa sok pintar dan sok tahu, bahkan sok hebat atau pun sok paten. Ini dilakukan agar orang lain tidak merendahkan dirinya. Padahal itu hanya perasaannya saja. Sehingga untuk menutupi kedunguanya ia harus lakukan, meski tidak jarang menggunakan cara dan suara yang keras dan pemarah.

Apalagi ketika logikanya sudah dijadikan dasar pembenaran terhadap pola fikir itu sendiri.
Maka tidak jarang pendapat orang lain sering terabaikan. Maka nasehat ulama pernah mengatakan ketika engkau menaruh harapan kepada manusia maka bersiap-siap lah menunggu kececewaan.

Tatkala seseorang itu tengah ngambek hal yang pertama dilakukan adalah menjauhkan diri teman dan kerabat dekatnya. Termasuk menutup komunikasi, sampai orang lain mau memberi perhatian lebih kepada dirinya.

Berbeda dengan kondisi hewan seperti kucing. Ternyata kucing merupakan salah satu hewan piaran manusia yang penurut. Tapi ketika jatah makan kucing itu berkurang atau telat memberi makan.

Baru-baru ini jagat maya dihebohkan oleh video beberapa orang marah karena diminta putar balik oleh petugas. Beberapa orang tersebut bahkan tetap meluapkan kemarahannya meski kamera menyorot aksi mereka. Apakah ini bagian dari sifat Merajuk.

Luapan kemarahan ini menurut Psikolog UGM Diana Setiyawati terjadi karena saat ini mereka tengah berada pada fase kekecewaan. Kondisi ini secara umum disebut fase kekecewaan dalam respon psikologis bencana. Penuh dengan kekecewaan dan tanda tanya kapan pandemi akan berakhir.

Demikian diuraikan Diana seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (19/5/2021).

Dosen sekaligus Peneliti Center dor Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM ini menambahkan, adanya pembatasan mobilitas termasuk larangan mudik dan penyekatan di setiap perbatasan wilayah menjadikan ruang gerak manusia sebagai mahkluk sosial untuk terhubung secara langsung semakin terbatas.

Baca juga : Ingin Mengetahui Darimana Asalnya Ombak di Laut?, Baca Ini

“Bagi sebagian orang bisa beradaptasi melakukan komunikasi dan terhubung secara digital, tetapi ada banyak orang yang tidak bisa melakukan atau beradaptasi dengan cara tersebut. Misalnya ayah ibu di kampung, entitas sosial di kampung halaman,” ungkap Diana.

“Kondisi ini bisa dipahami jika menjadikan masyarakat mudah marah karena ini menyakitkan bagi mereka. Psikologis masyarakat sudah lelah terhadap pandemi dan hasrat untuk terhubung menjadi sangat besar,” paparnya.

Hakekatnya manusia memiliki fitrah berbeda dengan makhluk lain. Sedangkan perbedaan itu sangat mendasar adalah berakal. (KRO/RD/TIM)