Wanita ini Mimilih Suami “Cadangan” Alasannya Bikin Para Istri Merinding

8

RADARINDO.co.id-Surabaya: Semua kerabat dekat dan keluarga menilai pasangan Roy dan Nana (bukan nama sebenarnya-Red) adalah suami dan istri yang bahagia dan romantis. Suami berwajah tampan dan istrinya cantik mirip aktris Hongkong. Berkulit putih dan tubuh kurus tinggi langsing (Kutilang) dan mata cipit karena memang berdarah keturunan.

Baca juga : PT Pelabuhan Indonesia Regional l Raih Peringkat lll BUMN

Mereka juga berasal dari keluarga terpandang serta berkecukupan. Bahkan masih memiliki hubungan darah dengan salah satu konglomerat nasional. Tidak heran, mereka memiliki perusahaan sukses disejumlah daerah termasuk ekspor dan impor.

Memiliki rumah bonafide di Jakarta dan Singapura, termasuk di salah satu perumahan elit di Surabaya dan beberapa mobil mewah selalu parkir di garasi mereka. Pernikahan Roy dan Nana lebih kurang sudah memasuki usia 12 tahun, kebahagiaan mereka sungguh sempurna dengan dikaruniai 2 orang anak yang masih kecil. Hebatnya, tidak sekalipun terdengar percekcokan dalam rumah tangga.

Apalagi sejak mereka mempunyai 2 anak, Roy sangat jarang di rumah. Sebulan hanya dapat dihitung beberapa hari saja bertemu istri dan anak. Bahkan lebih sering sang istri membawa kedua anaknya bertemu suami di Jakarta, Batam, Singapura dan Medan.

Sepertinya Roy meneruskan bisnis warisan orang tuanya. Karena kedua orang tua mereka adalah pelaku bisnis eksportir komoditi mulai Singapura, Jerman bahkan di beberapa negara bagian Amerika. Sehingga perkawinan Roy dan Nana awalnya karena dipertemukan kedua orang tua. Roy yang kuliah di Singapura dan Nana di Amerika Serikat harus membangun mahligai rumah tangga setelah keduanya berhasil meraih gelar S2. Mereka harus meneruskan bisnis keluarga yang Sudah mapan.

Ternyata, kemewahan harta mereka belum menjadikan hidup bahagia. Pasalnya, hampir 5 tahun sang istri mengalami kekecewaan, bathinya bagai gersang. Laksana ladang yang ditumbuhi ilalang.

Setiap kali Nana menyentuh tangan suami ditempat tidur selalu ditepis. Sekali dua kali Nana mencoba memaklumi mungkin sang suami kecapekan. Tapi, selama beberapa tahun ia pendam kekecewaan itu untuk tidak didengar pihak orang tua dan mertuanya.

Nana masih ingat betul ketika saling berkenalan dan berjabat tangan dihadapan keluarga. Acara makan malam saat itu dihotel mewah di Jakarta. Setelah keluarga pamit dan beranjak ke kamar masing-masing, Roy langsung menggandeng erat Nana menuju kamar hotel.

Keluarga juga merestui hubungan mereka. Saat itu pula Roy yang bagaikan Srigala ganas kelaparan langsung melahap tubuh Nana.

Nana saat itu tidak kuasa menolak. Kamar hotel 707 menjadi saksi pertemuan perdana mereka sekaligus robohnya tembok mahkota cinta. Saat itu, Nana adalah salah satu wanita yang tengah dalam kedukaan karena pria yang ia cintai meninggal dunia karena insiden di Semarang.

Baca juga : Peringati HUT ke-28 PTPN Group, Kebun Tonduhan Bagikan Puluhan Paket Sembako

Selamat 4 tahun ia bersama Andi sang pacar. Ia tidak pernah membayangkan akan berpisah dengan pria cintai. Tuhan berkehendak lain membuat jiwa dan raga Nana pun hancur berkeping -keping.

Malam pertama perkenalan dengan Roy diharapkan dapat memberi kesejukan jiwa. Menyirami ladang sampai ke surga impian.

Kehidupan itu dirasakan kejam, rumah mewah dan harta berlimpah hanya ada anak, supir dan pembantu rumah tangga. Beberapa kali Nana menceritakan kisah hidupnya yang tidak bahagia dengan Rudy seorang supir yang sudah lama tinggal Ikutnya di rumah. Rudy adalah seorang duda karena ditinggal mati sang istri di Bali. Rudy selain sebagai driver ia juga orang kepercayaan suami Nana.

“Itu yang saya alami pak Rudy rasanya kehidupan ini tidak memiliki arti bagi saya,” ujarnya Nana.

“Oh Nyona, mungkin Tuan dan Nyona saja yang bisa mencari solusi,” jawab pria dengan nada cemas dan radah segan.

Tapi, ujar Nana lagi, bagaimana menurut pak Rudy dan apa yang harus saya lakukan. Sedangkan saya sebagai wanita normal, kata Nana sembari memegang tangan pria asal Bali. Bagaimana sikap Rudy, Simak. Bersambung.. (KRO/RD/WAWAN)

ku menilai aku satu-satunya wanita yang paling beruntung di dunia ini.