Menguak Misteri Keramat Ronggeng Desa Saentis

26

RADARINDO.co.id – Deli Serdang : Keberadaan Keramat Ronggeng di Desa Saentis Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deli Serdang memang tidak setenar Gunung Kawi dan Keramat Monyet di Kota Perdagangan atau di tempat lainnya.

Baca juga : Tim Walet Polres Psp Ringkus Pencuri Tas Milik Pekerja Es Krim

Keramat Ronggeng secara geografis berada diwilayah Desa Saentis Pasar 10, bukan Desa Kolam seperti informasi yang selama ini beredar di masyarakat dan media massa.

Dulunya masuk wilayah perkebunan Saentis yang mengelola tembakau dan tebu yang pada perkembangan terakhir ditanami pohon kelapa sawit. Masih berada di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

Ada 2 jalur utama jika ingin menuju ke Makam Keramat Ronggeng tersebut. Jalur pertama lewat Pasar 10 Desa Saentis dengan kondisi jalan yang sudah diaspal. Pasar 10 ini tembus ke ke Desa Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis. Sementara untuk jalur kedua lewat Desa Kolam Lorong Salam Gang Padi. lewat jalur Gang Padi ini memang cukup sulit, setelah di ujung pemukiman penduduk harus melalui tegalan dan pematang sawah milik para penduduk. Jika berkunjung di musim penghujan akan bertambah sulit sebab licin dan tanah menjadi lengket.

Awak media ini melakukan kunjungan, Senin (13/5/2024) ke Makam Keramat Ronggeng bersama praktisi supranatural yang akrab disapa Mami Evi (50).

Sebagai informasi Mami Evi, diberi kelebihan mampu berinteraksi dengan alam astral atau alam tak kasat mata karena memiliki sandaran leluhur dari Pusuk Buhit, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir.

Baca juga : Adik Mantan Bupati Batu Bara Korupsi Rp2 Miliar, Seleksi PPPK Menyimpan Misteri Besar

Kunjungan ini dimaksudkan apa sebenarnya yang menjadi misteri dibalik kata “Keramat” yang disematkan pada sebuah makam tanpa nisan pada sebuah bangunan berukuran kurang lebih 3 meter x 3 meter.

Bangunan itu dilengkapi dengan Mushala kecil berlantai keramik dan ada toiletnya juga. Perbaikan dilokasi yang menjadi penanda tersebut dibangun oleh seorang pengunjung yang katanya “sukses” karena petunjuk yang didapat dari makam tersebut.

Secara fakta empiris, setiap individu tidaklah sama yang didapatkan saat menuju ke sana ataupun jika sudah berada dilokasi. Tim memasuki lokasi dari Gang Padi dengan menggunakan 2 unit sepedamotor. Setelah meninggalkan perkampungan tim sudah disambut oleh penghuni alam tak kasat mata dengan ucapan “ada tamu!!”, teriakan yang ditujukan kepada kelompok koloninya. Dan tak berapa lama tim mengalami gangguan.

Ketika sudah sampai dilokasi, tim yang baru pertama kalinya berkunjung harus menyeberang parit kecil dengan jembatan kayu yang airnya berwarna hitam. Di pinggir tumbuh Pohon Lo yang masih muda sebab jika sudah tua pohon tersebut besar diameter batang pohonnya dengan ditandai akar yang akan membentuk sebuah goa.

Menurut Mami Evi, meskipun musim penghujan, air dari mana-mana melimpah ke parit kecil tersebut airnya akan tetap berwarna hitam. Hitam bukan karena air rawa gambut atau polusi limbah melainkan karena penguasa sungai tersebut dari alam kegelapan. Secara alam astral siluman tersebut berbentuk wajah dengan buruk rupa, kejam dan bengis namun memiliki badan seperti ular besar hingga ke ekor dan di alur parit tersebut siluman tersebut tinggal.

“Terimakasih. Namamu akan kuingat,” sebuah ucapan mahluk astral yang dituturkan kepada tim oleh Mami Evi.

Setelah melalui proses uluk salam sebagai wujud adab dan etika yang harus dijunjung sebagaimana layaknya bertamu.

Mami Evi mengatakan bahwa ayahnya adalah pejabat Tumenggung dari Jawa dan ibunya seorang selir (istri siri-red). Namaku Nyi Bunga Mustika Ayu,” ucap Mami Evi.

Sebagaimana hasil komunikasi, mahluk astral itu mengaku kalau ditempat itu bukanlah makamnya. “Setelah kematianku, aku ditawan oleh siluman. Kematianku bukan karena dibunuh oleh Kompeni (VOC), tubuhku tak pernah dijamah oleh siapapun, karena aku tak mau maka mereka menghabisi rombongan kami,” ucap mahkluk itu.

Dalam pandangan alam metafisika, menurut penuturan Mami Evi Nyi Bunga Mustika Ayu mengenakan sanggul dirangkai hiasan bunga warna Kuning Tusuk Konde Perak, Selendang Sampur berwarna Kuning dan memiliki paras wajah yang ayu. Ada satu kelebihan Nyi Bunga Mustika Ayu yakni memiliki Mustika pancaran pemikat pesona hati yang terdapat di bagian wajah di bawah alis mata bawah dan pipi.

Memang tak banyak yang kita ketahui informasi soal Keramat Ronggeng tersebut. Tak ada penanda, siapa sesungguhnya yang dimakamkan di sini. Namun d pusara tersebut terlihat banyak taburan bunga kembang setaman selayaknya orang berziarah secara wajar dan normal.

Terlihat pula berbagai sesaji yang diberikan oleh orang-orang yang ingin “Ngalab Berkah” mencoba peruntungan. Sebuah upaya untuk mendapat wangsit/petunjuk ataupun kode nomor. Hal ini tentu ada yang dapat nomor jitu tetapi lebih banyak pula yang mengalami kegagalan.

Awak media berusaha mencari informasi data dan fakta dari warga sekitar, juga lewat artikel dari awak media yang pernah mempublikasikannya, namun tetap tak valid. Mengingat yang menjadi objek adalah alam dari kehidupan yang tak kasat mata, sehingga tak ada bukti tertulis seperti kisah sejarah dunia nyata.

Saman (57) warga Dusun VI Barat Desa Kolam menuturkan bahwa makam tersebut sebenarnya tak ada jasadnya. Namun kadangkala di suatu tempat tersebut bermukim sebangsa jin yang mempunyai kesaktian.

“Tapi kalau Siluman Ular itu memang ada, dulu ada pohon Lo kembar yang cukup besar di seberang parit, tapi sekarang sudah ditebang, yang menebang Alm Suhada alias Wada,” katanya.

Diharapkan, lewat tulisan investigasi ini menjadi bahan pembanding. Bukan untuk menjadi pro dan kontra, Apalagi sampai terjerumus dengan tipu daya setan. Karena sesungguhnya jin dan manusia itu hidup berdampingan yang berbeda alam. Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia dan berumur panjang. Namun mengemban misi yang sama dari Sang Maha Pencipta untuk beribadah kepada-Nya.

Jika para penyintas misteri Keramat Ronggeng ingin mengulik lebih jauh mungkin petunjuk awal soal adanya Pohon Lo Kembar tersebut yang kini sudah di tebang tentu akan menjadi bertambah khasanah cerita 1001 malam.

Sebelumnya awak media juga melakukan wawancara kepada Mbah Sidim (70) cucu dari Alm Mbah Mat Umar (110) atau lebih dikenal dengan panggilan Kyai Sairen sesepuh Desa Kolam.

“Cerita itu tak ada, tapi bisa jadi ada pada zaman penjajahan dulu. Karena buka hutan itu dulu pekerjanya didatangkan dari Pulau Jawa, dari India sama daratan Tiongkok buat dijadikan perkebunan Tembakau,“ ujar Mbah Sidim. (KRO/RD/Budi Sudarman)