Opini  

Aksi Demo Jangan Menambah Deretan Luka Negeri

Oleh: Mhd Zaid P Lubis (Ketua DPD AMPI Langkat)

NKRI baru saja merayakan peringatan hari Kemerdekaan ke-80 sejak di Proklamasikan Presiden RI pertama, Soekarno. Usia kemerdekaan yang sangat matang dan dewasa sejatinya membawa kebahagiaan perjuangan panjang para Pahlawan dari “kejinya” penjajah hingga ratusan tahun lamanya.

Namun ironisnya, alih alih merajut asa justru kehidupan anak negeri seolah disuguhkan dengan berbagai aksi demo masif seantero kota dan daerah akibat para elit pemerintahan dan politik yang dituding abai akan jeritan rakyatnya.

Baca juga: BRI BO Kisaran Silaturrahmi dengan Kapolres dan Kejari Asahan

Sehingga, berbagai aksi demo pun tak terhindarkan. Lautan massa rakyat Indonesia disejumlah daerah yang telah gerah akibat “ulah” para elit, rela harus turun kejalanan untuk menyampaikan aspirasi berbagai tuntutan.

Bahkan, aksi anarkis hingga penjarahan tak terelakan. Massa marah, geram, dan murka, dengan kondisi negeri ini yang dianggap sangat memprihatinkan. Tidak jarang rakyat harus mengelus dada menerima statemen-statemen para elit, seolah rakyat dianggap sebagai objek yang hanya bisa mendengar lalu mematuhi ucapan-ucapan mereka.

Ironis memang, negeri besar dan kaya ini harus kembali tercabik-cabik oleh kemarahan rakyat, korban terus berjatuhan, fasilitas milik pemerintah porak-poranda, jalanan macet, aktivitas pemerintahan terhenti, dan masih banyak lagi derita yang harus kita tanggung.

Kita tidak ingin pada setiap fase akibat aksi kemarahan rakyat terus berlanjut dengan bangkitnya ajakan aksi dari berbagai elemen anak bangsa untuk turun kejalan bukan hanya menyuarakan jeritan bathin rakyat tapi berujung rusaknya berbagai fasilitas umum.

Jika arah aksi gelombang rakyat semakin tidak terkontrol dan semakin membahana disetiap sudut negeri, maka apa yang bisa kita harapkan dan apa keuntungan yang kita peroleh dari ini semua, justru sudah menyimpang jauh dari amanah UUD 1945 serta semangat perjuangan dan cita-cita pendiri bangsa.

Para elit harus paham dan tahan selera, hentikan hidup bermewah-mewahan yang selalu dipertontonkan ke rakyatnya. Mereka harus ingat, masih sangat banyak persoalan rakyat yang belum terjawab bahkan jeritan kehidupan ekonomi rakyat cukup memprihatinkan.

Gelombang kemarahan sudah sampai pada titik klimaks dan bermuara pada gerakan aksi sebagai sarana akhir kemarahan walau memang kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum dilindungi konstitusi. Tapi akankah sebagaimana tujuan awalnya untuk menyampaikan pendapat.

Baca juga: Massa Mahasiswa Geruduk Mapolres Jember

Bila menyampaikan pendapat sudah dibarengi dengan kemarahan, maka arah tujuan sudah tidak lagi terkontrol dengan berbagai pemicu baik dari gelombang masa yang datang. Pelanggaran SOP para aparat pengaman juga menjadi salah satu pemicu kemarahan rakyat hingga aksi anarkis dilakukan.

Meski begitu, pengerusakan dan penjarahan tentunya tidak sesuai dengan ciri bangsa yang menjunjung tinggi moral, budaya, dan beragama. Diharapkan, aksi demo tidak menambah deretan luka negeri ini. (*)