RADARINDO.co.id – Rokan Hulu : Hingga awal tahun 2026, lebih dari 2.500 petani sawit di Kabupaten Rokan Hulu tercatat telah menjadi mitra dan tumbuh bersama PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo yang merupakan bagian subholding dari Holding Perkebunan Nusantara, melalui unit operasionalnya di Provinsi Riau, PTPN IV Regional III.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai PTPN V tersebut tidak hanya memenuhi kewajiban kemitraan plasma sebesar 20 persen sebagaimana diatur dalam regulasi pemerintah, namun juga telah melampauinya. Hingga saat ini, total luas areal kemitraan petani sawit mencapai 5.271 hektare.
Baca juga: Klinik Sri Pamela Batang Toru Edukasi Dunia Kesehatan Bagi Siswa STK Bina Budi
Group Manager Distrik Petani Mitra PTPN IV Regional III, Ferry P Lubis mengatakan, para petani mitra tersebut tergabung dalam tujuh kelembagaan pekebun.
“Sejak awal keberadaan PTPN IV di Rokan Hulu adalah untuk tumbuh dan berkembang bersama petani mitra. Itu adalah khittahnya PTPN. Dan kami masih membuka ruang kolaborasi serta sinergi seluas-luasnya untuk maju bersama,” kata Ferry, dalam keterangan tertulis, Jum’at (13/3/2026).
Dari tujuh lembaga pekebun yang bermitra tersebut, dua diantaranya telah memenuhi standar global dengan meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Kedua koperasi tersebut adalah Makarti Jaya dan Dayo Mukti.
Menurut Ferry, keberhasilan memperoleh sertifikasi tersebut memberikan berbagai insentif harga yang lebih baik sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan petani.
Kedepan, ia menyampaikan bahwa petani lainnya juga akan didorong untuk memperoleh sertifikasi serupa. Komitmen ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran bersama dalam menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan sesuai standar internasional.
Lebih lanjut Ferry menjelaskan bahwa seluruh petani yang bermitra dengan PTPN IV Regional III juga telah melaksanakan program peremajaan kebun sawit yang telah memasuki usia tidak produktif, baik melalui program revitalisasi maupun melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Inisiatif tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempersempit kesenjangan produktivitas antara kebun petani dan kebun perusahaan yang selama ini masih cukup besar.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir), Setiyono, menambahkan bahwa kemitraan antara petani dan PTPN IV melalui penerapan pola single management memberikan manfaat besar bagi petani mitra.
Menurutnya, pola pengelolaan terpadu yang diterapkan perusahaan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat tata kelola kemitraan yang lebih transparan, profesional, dan berkeadilan.
“Dulu, bahasa single management sempat jadi momok di kalangan petani. Namun kenyataannya, PTPN justru memberikan kesempatan yang luas kepada petani untuk terlibat langsung dan berkembang. Petani tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga bagian aktif dari sistem pengelolaan yang profesional,” jelas Setiyono.
Single management merupakan pola pengelolaan seluruh proses budidaya kelapa sawit petani secara terpadu, mulai dari peremajaan hingga pemanenan dengan standar operasional perusahaan yang tinggi.
Sistem ini mencakup penerapan operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun perusahaan dan kebun petani, pemberdayaan petani melalui program cash for works, korporatisasi kelembagaan petani, serta prinsip transparansi dalam seluruh aktivitas pengelolaan.
Selain peningkatan produksi, sistem single management juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani melalui pola kemitraan yang lebih inklusif.
Baca juga: PTPN IV Regional VII Gelar Kegiatan Ekspedisi Ramadhan
Petani tidak hanya memperoleh pendapatan dari hasil kebun, tetapi juga terlibat sebagai tenaga kerja dalam kegiatan operasional kebun maupun sebagai kontraktor lokal.
“Single management ini tidak tertutup, bahkan sangat terbuka. Kami para petani didorong untuk menjadi mitra dalam berbagai kegiatan, termasuk sebagai kontraktor. Pola ini membuat hubungan antara petani dan perusahaan menjadi setara, saling menguntungkan, dan saling membutuhkan,” tutupnya. (KRO/RD/Red)







