Bos Gudang Garam Dilaporkan Kasus Kredit Macet Rp 232 Miliar

67

RADARINDO.co.id – Jakarta : Pihak Bank OCBC NISP melaporkan bos PT Gudang Garam Tbk, Susilo Wonowidjojo ke Bareskrim Polri, terkait dugaan tindak pidana pemalsuan surat, penipuan dan pencucian uang.

Baca juga : Dipakai Bawa Wanita Bugil, Mobil Dinas Alami Kecelakaan

Laporan ini dilayangkan berkaitan dengan kasus kredit macet senilai Rp 232 miliar oleh PT Hair Star Indonesia (PT HSI), yang merupakan anak usaha PT Hari Mahardika Usaha (PT HMU). Tim Kuasa Hukum Bank OCBC NISP, Hasbi Setiawan menjelaskan, terseretnya nama konglomerat itu karena posisinya sebagai salah satu pemegang saham pengendali PT HMU, yang pernah menjadi induk usaha dari PT HSI. Karena itulah, Bank OCBC NISP juga turut melaporkan direksi, komisaris, dan pemegang saham PT HMU.

“Iya. Direktur, komisaris, sama pemegang saham, yang mana dulu PT HSI ini juga dimiliki sahamnya oleh PT HMU. Nah PT HMU itu ownernya Pak Susilo Wonowidjojo. Beliau kan salah satu pemegang saham PT HSI pada PT HMU,” katanya, dilansir dari detik, Sabtu (04/2/2023).

Dalam berkas profil PT HSI, tertulis bahwa PT HMU merupakan pemegang saham 50% di PT HSI sejak 2016 s.d 2021. Perusahaan ini juga pernah dipimpin oleh istri Susilo, Meylinda Setyo, yang menempati posisi sebagai Komisaris Perusahaan pada 2006 s.d 2015.
Sementara itu, PT HMU sendiri merupakan perusahaan milik Susilo Wonowidjojo. Ia memegang 99% saham sekaligus berperan sebagai pengendali utama di perusahaan tersebut.

Lebih lanjut Hasbi menyampaikan, laporan ini dilakukan karena HSI menunggak pembayaran kredit alias kredit macet senilai Rp 232 miliar. Bahkan kondisi ini tidak hanya menimpa Bank OCBC NISP.

Baca juga : Mantan Sekda Pemalang Ditetapkan Sebagai Tersangka Korupsi Pembangunan Jalan

Hasbi mengatakan, kurang lebih ada sekitar 5 bank lainnya yang juga mengalami nasib serupa. Sehingga jika ditotal dengan bank lainnya, kredit macet ini mencapai lebih dari Rp 1 triliun.

“Nilainya itu sekitar Rp 232 miliar, ini di OCDC. Kalau di bank lain mungkin bisa lebih dari Rp 1 triliun. Kurang lebih 5 bank, kurang lebih ya,” katanya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga menduga kalau telah terjadi kejahatan keuangan berupa pemalsuan surat, penipuan dan pencucian uang. Oleh karena itu, pihaknya melapor ke Bareskrim Polri dengan harapan aliran dananya dapat ditelusuri. (KRO/RD/DTK)