RADARINDO.co.id – P Sidimpuan : Suasana di Masjid Al-Ikhlas Lapas Padangsidimpuan terasa berbeda. Dibalik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Padangsidimpuan, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar mengalun pelan namun penuh penghayatan, Kamis (19/2/2026).
Baca juga: KPBN Dukung Strategi Digital Holding Perkebunan Nusantara Melalui FGD TI 2026
Beberapa warga binaan duduk bersila, mushaf terbuka di tangan, wajah mereka serius namun teduh. Di antara mereka, sebut saja Ahmad (bukan nama sebenarnya), mengaku baru benar-benar belajar membaca Al-Qur’an dengan tartil selama berada di dalam lapas. “Dulu saya jarang sekali mengaji. Di sini justru saya merasa lebih dekat dengan agama,” ujarnya lirih.
Hari itu, kegiatan pembinaan rohani terasa lebih hangat karena hadirnya mahasiswa magang dari UIN Syuhada. Mereka duduk berdampingan dengan warga binaan, membimbing satu per satu cara melafalkan huruf hijaiyah, memperbaiki tajwid, hingga berdiskusi tentang makna ayat yang dibaca.
Tak ada sekat canggung. Yang terlihat hanya proses belajar tentang iman, tentang harapan, dan tentang kesempatan kedua.
Materi yang disampaikan meliputi dasar-dasar aqidah, fiqih ibadah, serta pemahaman Al-Qur’an. Namun lebih dari itu, yang tumbuh adalah rasa percaya diri dan semangat untuk berubah. Setiap kesalahan bacaan diperbaiki dengan sabar. Setiap pertanyaan dijawab dengan pendekatan yang membumi.
Petugas pembinaan menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin pembinaan kepribadian. Tujuannya sederhana namun bermakna menanamkan nilai-nilai spiritual agar warga binaan memiliki pegangan hidup yang lebih kuat.
Bagi para mahasiswa, pengalaman ini bukan sekadar praktik lapangan. Mereka belajar bahwa di balik status sebagai warga binaan, ada manusia-manusia yang sedang berproses memperbaiki diri.
“Kami tidak hanya mengajar, tapi juga belajar tentang ketulusan dan harapan,” ungkap salah satu mahasiswa.
Baca juga: Buka Mudik Gratis 2026, PalmCo Siapkan 1000 Kursi di Sumatera dan Kalimantan
Di dalam ruang sederhana itu, waktu seolah berjalan pelan. Setiap ayat yang dibaca menjadi doa. Setiap diskusi menjadi penguat hati. Di balik jeruji, cahaya itu tetap menyala, cahaya harapan bahwa masa lalu bukanlah akhir dari segalanya.
Melalui pembelajaran agama Islam yang berkelanjutan, Lapas Padangsidimpuan berharap warga binaan dapat membawa bekal spiritual saat kembali ke masyarakat nanti. Karena sesungguhnya, perubahan selalu dimulai dari dalam diri. (KRO/RD/AMR)







