RADARINDO.co.id – Medan : “Kami mencari penggalan kepala kami yang jatuh entah dimana, di tong-tong sampah, di Polsek-polsek, di laci-laci”, sepenggal dialog lakon teater “JADAH” yang mampu membius alam bawah sadar para penonton hingga larut dalam suasana horor dan mencekam.
Pentas seni bertajuk JADAH yang diperankan para pemain Teater Medan Tronic besutan Hafidtaadi selaku Sutradara tersebut, berlangsung, Sabtu (07/11/2024) di Taman Budaya Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Medan.
Baca juga: Teater Medan Kembali Menggeliat
Dalam lakon yang penuh pesan moral tersebut, para kru Teater Medan Tronic, mampu memadupadankan seni peran dengan teknologi untuk menghadirkan visual ruang pandang dan ruang dengar berkombinasi dengan permainan lighting, dry ice serta sound yang apik disertai slide dari proyektor, hingga mampu menghasilkan sebuah pertunjukan yang memukau.
Berbagai elemen pendukung panggung tidak serta merta mengaburkan karakter pemain dalam seni peran sebagai titik utama, namun saling menguatkan alur ceritanya. Disinilah kepiawaian dari seorang Hafiztaadi sebagai Sutradara dalam menyusun cerita dan menghadirkannya dalam seni peran teater.
Tak terlalu berlebihan rasanya seandainya sang sutradara dalam pementasan JADAH menyisipkan aroma dupa hio atau kemenyan untuk efek stimulan indera penciuman, sehingga lebih dramatis dan berkesan horor.
Alur cerita yang sulit ditebak, tapi saling berhubungan, ketika para pemain yang memerankan pencari kepalanya yang hilang berkeliling terus mencari dan malah menemukan mainan anak-anak.
Tentu saja, jika hal tersebut bukan suatu pentas seni, pasti akan menjadi bahan tertawaan. Pasalnya, mainan berupa boneka itu jika diaktifkan akan menimbulkan lampu yang berkelap-kelip. Namun, ternyata itu adalah sebuah simbol telah hilang semangat hidup dari sang korban rudapaksa. Hilang masa bermain, hilang interaksi dan komunikasi, sehingga hal tersebut menjadi sebuah kesedihan.
Ada makna tersirat dari yang tersurat dari sekedar menonton JADAH, pemakaian gaya bahasa ironi yang menyindir secara halus pelaku rudapaksa yang kerap lolos dari jerat hukum. Bahkan, jika mendapat sanksi, hanya hukuman ringan yang diberikan kepada pelaku.
Ini dinukilkan dalam mencari kepala di tong sampah, di kantor polisi (Polsek) dan di laci yang kita ketahui bahwa ucapan ini hanya gaya bahasa simbolik belaka. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, “memang masih adakah kepala disana”?. Jawabnya ada, namun isi kepala dan isi hati nurani sudah hilang. “Kami mencari serpihan dada kami yang penuh lubang”.
Parade Teater Medan yang digelar sejak 6 hingga 16 Desember 2024 di Taman Budaya Medan (TBM), Jalan Perintis Kemerdekaan itu, digagas oleh Konsorsium Seniman Medan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara.
Baca juga: Pj Sekda Padangsidimpuan Hadiri Aksi Bersama HA IPB Entaskan Stunting
Melalui Parade Teater Medan, masyarakat disuguhkan karya seni peran dari sembilan grup teater. Yakni, Medan Teater, Teater Blok Medan, Teater Imago, Bandar Peran, Deli Nusantara Jaya, Rentak Bertuah, Parsi Medan, Sasude, dan Medan Teater Tronic. Diharapkan, melalui teater seni berkebudayaan di Kota Medan, semakin mendapat tempat dihati.
“Saya suka film, saya suka teater, saya cari teman tapi tidak ada yang mau. Akhirnya saya cari teman yang punya minat pada seni peran,” ungkap Hafid Prananda, Mahasiswa Poltekpar Jurusan Divisi Kamar Perhotelan semester V pada awak media ini.
Sebuah ungkapan dari generasi millenial bahwa seni peran itu butuh wadah. “Dimanakah peradaban itu, dunia sudah tua, dunia sudah tua, dunia sudah kotor penuh dengan jelaga dan debu”. (KRO/RD/Budi S)







