Aliran Dana PTPN 6 Bikin Mata Publik Terbelalak Kaget (2)

RADARINDO.co.id–Medan: Erick Thohir, pernah menyinggung tentang industri kelapa sawit khususnya swasta yang ketiban untung. Sebaliknya dialami PTPN yang malah “buntung” menanggung utang hingga mencapai US$ 3,1 miliar atau Rp 47 triliun.

“Yang luar biasa juga di PTPN ini, utang Rp 47 triliun. Padahal yang namanya industri kebun kelapa sawit swasta untung. Ini malah utang besar,” katanya beberapa waktu lalu, dilansir dari detik.

PTPN yang tadinya rugi Rp 1,6 triliun hingga Agustus 2020, kini untung Rp 2,3 triliun hingga Agustus 2021.

Baca juga : Aliran Dana PTPN 6 Bikin Mata Publik Terbelalak Kaget (1)

Aliran dana manajemen PTPN 6 sejak tahun 2019 sampai 2021dapat menjadikan momen mengungkap fakta kinerja direktur di BUMN.

Berdasarkan keterangan sumber, PTPN 6 pada tahun 2021 memiliki luas lahan seluas 32.290,03 ha, serta berhasil meraih pendapatan tahun 2019 sebesar Rp1.203.429.431.790, tahun 2020 sebesar Rp1.562.292.311.802 dan 2021 sebesar Rp1.587.582.640,198.

“Seingat saya tahun 2021 memiliki areal lahan perkebunan 32.290.03 ha dengan perincian areal kebun menghasilkan sawit seluas 27.002,27 ha, kopi 235,55 ha dan teh seluas 2.402,01 ha,” ujar sumber kepada KORAN RADAR GROUP.

Lebihlanjut sumber juga mengatakan bahwa PTPN 6 telah meraih pendapatan tahun 2019 sebesar Rp1.203.429.431.790, tahun 2020 sebesar Rp1.562.292.311.802 dan tahun 2021 sebesar Rp1.587.582.640.198.

Dengan beban pendapatan pokok tahun 2019 sebesar Rp856.785.630.70, tqhun 2020 sebesar Rp1.050.254.793.738 dan tahun 2021 sebesar Rp1.587.582.640.198.

“Coba kalian analisa saja dengan baik bahwa perusahaan meraih pendapatan tahun 2019 sebesar Rp1.203.429.431.790 sedangkan beban pendapatan pokok tahun 2019 adalah sebesar Rp856.785.630.707. Ini hanya merupakan salah satu contoh saja,” ungkap sember yang tidak mau disebutkan namanya.

Selain itu, PTPN 6 telah melakukan modal tahun 2019 ke PT. KPBN Rp6.884.000, PT. RPNH sebesar Rp7.349.367.000. LPP AN sebesar Rp7.500.000.000. Tahun 2020 ke PT. BK Rp88.46 Miliar, ke PT. ALN Rp204,68 Miliar dan PT. MAJI Rp144.54 Miliar.

Sumber juga menyebutkan salah satu contoh terkait dana pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo 1 tahun 2019 sebesar Rp119.710.272.232. Tahun 2020 sebesar Rp120.800.883.679 dan tahun 2021 sebesar Rp36.914.921.566.

“Kalau perusahaan untung ramai-ramai di publish di media tapi kalau buntung diam-diam. Saya mencurigai ada konspirasi besar di PTPN 6 yang diduga dibeckingi orang -orang kuat untuk menguras uang perusahaan dan korupsi bersama selama bertahun-tahun,” ujarnya.

“Termasuk realisasi beban perusahaan yang selama ini disebutkan untuk belanja berbagai item per item”, ungkapnya.

Salah satunya hutang ke Bank Mandiri tahun 2018 senilai Rp49.900.400.000, Bukopin tahun 2018 senilai Rp244.040.091.777, tahun 2019 senilai Rp248.277.517.190. Mandiri tahun 2020 sebesar Rp44.375.988.056 dan BRI sebesar Rp9.810.765.552.

Baca juga : Kantor DPRD Labuhanbatu Didemo

Selain itu, masih ada hutang kredit investasi tahun 2021 ke BNI sebesar Rp377.234.781.879, Mandiri sebesar Rp840.892.779.879 (untuk modal kerja Rp47.726.677.228) dan BRI sebesar Rp1.663.681.442 (untuk modal kerja Rp23.553.130.125) atau total hutang investasi Rp1.219.791.242.898. Serta hutang kepada pihak ketiga tahun 2021 Rp190.467.630.584.

Bahwa terdapat beban perusahaan yang dinlai tidak wajar untuk pembiayaan untuk 2 (dua) komisaris yang ditanggung perusahaan tahun 2020 Rp2.549.935.637, tahun 2021 Rp4.142.203.111. Biaya untuk 3 (tiga) komisaris tahun 2018 Rp5.552.300.932, dan tahun 2019 Rp1.272.497.474.

Lebih tegas sumber mengatakan, Kapolri diminta membentuk tim investigasi guna menelusuri aliran data PTPN VI diduga sarat rekayasa. (KRO/RD/TIM)