RADARINDO.co.id : Penyakit campak adalah infeksi virus yang biasanya menyerang anak-anak. Ketika menyerang anak, penyakit ini akan sangat mematikan. Atas dasar itu, kasus campak sempat meningkat beberapa waktu lalu. Beragam mitos penyakit campak pun berkembang.
Baca juga : Mitos Minum Jus Jambu Bisa Obati DBD, Simak Faktanya
Melansir cnnindonesia, sekitar 100.000 orang meninggal akibat campak setiap tahun, kebanyakan dari mereka berusia di bawah 5 tahun.
Beberapa gejala campak yakni, ruam kulit datar berwarna coklat kemerahan, batuk kering, demam, mata merah dan gatal, pilek, bintik-bintik putih keabu-abuan kecil dengan pusat putih kebiruan di mulut, bagian dalam pipi, atau tenggorokan, serta sakit tenggorokan.
Ternyata banyak orang yang menyamakan mekanisme campak dengan cacar air. Sekali tertular tak bakal ketularan lagi. Ada miskonsepsi bahwa tertular campak adalah cara membangun sistem imun tubuh secara alami seperti cacar air.
Baca juga : Kenali Beberapa Bau Tanda Kedatangan Sosok Gaib
Namun, campak berpotensi berakibat fatal. Sekitar 5 persen anak yang terkena campak terkena pneumonia, yakni penyebab paling umum kematian akibat campak pada anak kecil. Campak bukan penyakit anak-anak saja, namun orangtua atau dewasa juga bisa kena campak.
Virus ini diketahui lebih parah pada mereka yang berusia di bawah 5 tahun dan mereka yang berusia diatas 30 tahun. Konon katanya, sesudah vaksin campak tak bakal kena campak.
Padahal, meskipun vaksin ini sangat efektif, ada kasus langka dimana campak tertular bahkan setelah imunisasi. Perlu ditekankan, vaksin jenis apapun tak akan membuat Anda jadi kebal suatu penyakit, melainkan hanya mencegah kemungkinan terburuk. (KRO/RD/CNN)







