PERSOALAN pengaruh jam tidur terhadap kualitas kesehatan tubuh, ramai diperbincangkan di medsos. Dalam sebuah unggahan di Instagram, pengguna akun @arien_ma*** memberikan konten edukasi seputar pengaruh jam tidur terhadap kesehatan tubuh.
Baca juga: Jangan Ngopi Terlalu Pagi, Ini Waktu Terbaik Menurut Ahli
“Tidur jam 21.00 membuat awet muda. Tidur jam 20.00 membuat otak lebih cerdas. Tidur jam 23 bisa membuat rambut mudah rontok. Tidur jam 24.00 membuat berat badan mudah naik,” tulis keterangan dalam video tersebut.
Unggahan tersebut pun memantik beragam reaksi dari warganet lain. Sebagian percaya dan khawatir karena kondisi yang tak terhindarkan, sementara lainnya meragukan informasi tersebut.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Hematologi-Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr. Andhika Rachman Sp.PD K-HOM, membenarkan bahwa waktu dan kualitas tidur berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh, baik secara fisik maupun mental.
Tubuh manusia memiliki jam biologis atau ritme sirkadian yang mengatur banyak fungsi penting, termasuk suhu tubuh, siklus tidur-bangun, serta produksi hormon seperti melatonin dan kortisol. Melatonin, hormon yang memicu rasa kantuk, biasanya mulai meningkat antara pukul 21.00 hingga 23.00.
“Tidur pada rentang waktu tersebut dinilai paling selaras dengan ritme alami tubuh dan mendukung proses pemulihan sel secara optimal,” ujarnya, melansir kompas, Selasa (01/7/2025).
Meski demikian, menurut dokter Rachman, klaim-klaim yang terlalu spesifik seperti tidur jam 21.00 bikin awet muda atau tidur jam 23.00 bikin rambut rontok belum tentu didukung bukti ilmiah yang kuat.
Menurut Dr. Rachman, mitos bahwa tidur lebih awal bisa membuat awet muda sebenarnya memiliki dasar ilmiah, namun tidak sepenuhnya mutlak.
Tidur yang cukup dan teratur, sekitar 7–8 jam, mendorong pelepasan hormon pertumbuhan (growth hormone/GH) selama fase tidur dalam.
“GH berperan dalam perbaikan jaringan dan regenerasi sel, dan dilepaskan paling banyak antara pukul 22.00 hingga 02.00 dini hari,” terang Dr. Rachman.
Menanggapi klaim tidur jam 9 malam dapat membuat otak cerdas, Dr Rachman tidak sepakat. Menurutnya, tidur memang mendukung kesehatan otak, terutama dalam hal daya ingat, fokus, dan kemampuan belajar.
“Namun, menyimpulkan bahwa tidur cukup otomatis membuat seseorang lebih cerdas adalah keliru,” ujarnya.
Pasalnya, kecerdasan merupakan hasil dari banyak faktor, termasuk stimulasi kognitif, pendidikan, dan lingkungan, bukan hanya dari waktu tidur.
Terkait klaim tidur jam 11 malam bisa membuat rambut rontok, Dr Rachman juga meragukan kebenarannya. “Belum ada bukti medis yang menyatakan bahwa tidur pukul 11 malam secara langsung menyebabkan kerontokan rambut,” jelasnya.
Meski demikian, kurang tidur atau tidur berkualitas rendah bisa meningkatkan stres oksidatif dan memicu ketidakseimbangan hormon seperti kortisol. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak pada siklus pertumbuhan rambut.
Dari keempat informasi yang beredar di media sosial tersebut, Dr. Rachman hanya membenarkan bahwa ada hubungannya antara tidur dengan kenaikan berat badan. Berbeda dari mitos lainnya, hubungan antara tidur dan peningkatan berat badan telah banyak didukung oleh penelitian ilmiah.
Baca juga: Minum Rebusan Daun Ini Bikin Ginjal Tetap Sehat
“Tidur terlalu larut atau kurang dari 6 jam per malam dapat mengganggu keseimbangan hormon leptin dan ghrelin, yang mengatur nafsu makan,” jelasnya.
Efeknya termasuk peningkatan keinginan makan di malam hari, penurunan metabolisme, dan risiko obesitas yang lebih tinggi. (KRO/RD/Komp)







