RADARINDO.co.id : Sebagian besar masyarakat Jawa meyakini bahwa Suro merupakan bulan yang sakral. Di bulan ini banyak dari masyarakat Jawa yang memandikan atau membersihkan pusakanya seperti keris, tombak, patrem, pedang dan lainnya.
Baca juga : Mahfud Sebut Kasus Mafia Tanah PTPN II Deli Serdang Disponsori Pebisnis
Untuk dapat membersihkan keris perlu diperhatikan beberapa hal supaya tidak salah. Melansir radarutara.id, pemerhati keris di Salatiga bernama Dekan Bawono warga Domas, Sidorejo membagikan tips membersikan keris.
Setiap bulan Suro, pria yang hobi mengumpulkan keris ini biasa membersihkan pusaka koleksinya. Membersihkan keris adalah bagian dari kearifan lokal, tradisi ini merupakan kebiasaan dari leluhur. Dan ada nilai filosofi dari tradisi membersihkan keris tersebut.
Sebenarnya keris bukan hanya dibersihkan saat bulan Suro saja, namun hendaknya apabila sudah kotor dan muncul karat harus cepat dibersihkan. Tetapi karena sudah menjadi tradisi, maka ada beberapa orang yang mempunyai pusaka, membersihkankan keris milik mereka pada bulan Suro.
Adapun tujuan dari membersihkan keris tersebut agar tidak karatan dan korosi. Pasalnya, apabila sudah karatan dan korosi, maka keris tersebut akan menjadi keropos. Apabila rusak, maka unsur seni dan keindahannya pun ikut hilang.
Untuk membersihkan keris, tergantung pada tingkat korosinya. Apabila cuma kotor dan korosi sedikit, maka hanya perlu dibersihkan menggunakan kain lap dan kuas yang dicampur dengan minyak.
Baca juga : Satgas Temukan 77 Perusahaan Sawit Langgar Pengisian Aplikasi SIPERIBUN
Tetapi jika korosinya parah, bisa direndam terlebih dahulu ke dalam air kelapa. Lalu setelah karatannya rontok, dibilas menggunakan jeruk nipis. Kemudian dicuci dengan air dan dioles minyak.
Minyak yang digunakan disini bisa menggunakan minyak goreng yang biasa digunakan untuk memasak. Minyak tersebut malah bagus lantaran sangat awet dan tidak merusak bilahnya. Jadi, jangan salah persepsi. Memberi minyak pada keris itu berarti memberikan sesajen. Padahal itu persepsi yang salah. Artinya, sudah terkandung jelas agar selalu bersih, sehingga keris menjadi awet. Jika awet, seni dan keindahannya pun terjaga dan dapat diwariskan pada anak cucu sehingga tidak akan punah. (KRO/RD/RDU)







