Tapsel Juara I-SIM 2025, Gerakan 1000 Kolam Paling Menonjol

RADARINDO.co.id – Tapsel : Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) meraih penghargaan Top 1 dalam ajang Integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) 2025.

Penghargaan yang diberikan di Graha Surveyor Indonesia, Jakarta itu, menempatkan Tapsel sebagai satu-satunya daerah di Sumatera Utara yang berhasil mengungguli empat finalis lain.

Baca juga: KPK Dukung Prabowo Gunakan Uang Rampasan dari Koruptor untuk Kepentingan Bangsa

Bupati Tapsel, H Gus Irawan Pasaribu, menerima langsung penghargaan tersebut. Menurutnya, capaian ini merupakan hasil kerja kolektif masyarakat yang terlibat dalam program ketahanan pangan daerah.

Dalam penjurian final dua hari sebelumnya, program Gerakan 1.000 Kolam dianggap menonjol karena mampu menunjukkan dampak cepat pada pemenuhan pangan masyarakat.

Program ini dinilai memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs serta selaras dengan empat Asta Cita Presiden Prabowo, terutama pada aspek ketahanan pangan, energi air, dan ekonomi hijau–biru.

“Penghargaan ini milik masyarakat. Dari lima daerah terbaik, Tapsel satu-satunya dari Sumatera,” ujar Gus Irawan dalam keterangannya diterima, Kamis (20/11/2025.

Program tersebut kini telah menghasilkan 801 kolam aktif melalui pendanaan APBD, APBDes, dan CSR. Sebanyak 102 desa sudah mengadopsi model ini, selain kolam swadaya masyarakat dan sistem kearifan lokal lubuk larangan.

Salah satu elemen yang diperhatikan tim penilai adalah keberhasilan Tapsel mengintegrasikan sistem lubuk larangan, tradisi setempat yang melarang pengambilan ikan pada periode tertentu ke dalam kebijakan ketahanan pangan daerah.

Di Garonggang, Angkola Selatan, panen lubuk larangan dalam satu kali pembukaan dapat menghasilkan Rp80-90 juta dari penjualan tiket. Desa-desa yang mengelola lubuk larangan bahkan membuat Peraturan Desa yang mengatur denda bagi pelanggar, mulai dari Rp1 juta untuk warga umum hingga Rp5 juta untuk pengurus.

Lubuk larangan tidak hanya menopang ekonomi warga, tetapi juga memaksa masyarakat menjaga kualitas air dan hutan di sekitar sungai. Beberapa desa menggunakan hasil panen untuk membangun fasilitas umum, termasuk masjid.

Gus Irawan mengatakan, istilah “1.000 kolam” hanyalah jargon. Target sesungguhnya adalah lonjakan produksi ikan sebagaimana tertuang dalam RPJMD. Pemerintah daerah menargetkan swasembada ikan pada 2029.

“Jika kolam swadaya dan lubuk larangan dihitung, jumlah unit budidaya ikan kini sudah melampaui 1.000. Program itu sendiri baru berjalan kurang dari enam bulan,” ungkap Gus.

Selain perikanan, Tapsel berpeluang memperoleh pokok pikiran (Pokir) dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sekitar Rp2 miliar untuk mengembangkan budidaya aren atau nira di daerah aliran sungai. Pendekatan ini diproyeksikan memperkuat ekosistem kolam ikan serta konservasi lingkungan.

Baca juga: Prabowo Resmikan Rumah Sakit Kardilogi Emirat-Indonesia

Keberhasilan Tapsel meraih Top 1 I-SIM 2025 menunjukkan bahwa model pembangunan berbasis desa, penguatan ekonomi lokal, dan pemanfaatan kearifan tradisional dapat menghasilkan perubahan dalam waktu relatif cepat.

Tapsel bukan hanya memperbanyak kolam, tetapi membangun sistem pangan yang lebih tahan terhadap risiko dan berpijak pada kapasitas masyarakat. (KRO/RD/AMR)