Usut Kasus Suap Lukas Enembe, Kantor Dinas PU Papua Digeledah KPK

36

RADARINDO.co.id – Jakarta : Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Papua di Jayapura, Selasa (07/2/2023). Penggeledahan tersebut dilakukan guna mengusut kasus dugaan suap terhadap Gubernur Papua non aktif, Lukas Enembe.

“Betul, hari ini informasi yang kami terima ada penggeledahan tim penyidik KPK di kantor PU Papua dalam perkara tersangka LE,” ucap Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri di Jakarta, dilansir dari tempo.

Baca Juga : Meriahkan HPN, USU Gelar Workshop Digital Literasi


Ali mengaku belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut karena proses penggeledahan masih berlangsung. “Masih berlangsung, akan diinfokan perkembangannya,” katanya.

KPK telah menetapkan Lukas Enembe sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi sejumlah proyek infrastruktur di Provinsi Papua. Lukas disebut menerima suap dari pemilik PT Tabi Bangun Papua (TBP), Rijantono Laka yang juga sudah menyandang status tersangka.

Rijantono disebut memberikan suap sebesar Rp 1 miliar kepada Lukas Enembe agar perusahaannya memenangkan tender tiga proyek infrastruktur di Pemprov Papua, yakni proyek peningkatan Jalan Entrop-Hamadi senilai Rp 14,8 miliar, proyek rehabilitasi sarana dan prasarana penunjang PAUD Integrasi senilai Rp 13,3 miliar, serta proyek penataan lingkungan area menembak luar ruangan AURI dsenilai Rp 12,9 miliar.

Lukas dan sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua kabarnya juga dijanjikan mendapatkan 14 persen keuntungan dari proyek tersebut setelah dipotong pajak.

Selain uang Rp 1 miliar tersebut, KPK menduga Lukas Enembe telah menerima pemberian lain sebagai gratifikasi yang berhubungan dengan jabatannya, dimana berdasarkan bukti permulaan sejauh ini berjumlah sekitar Rp 10 miliar.

Baca Juga : Seruan Pers dari Sumut : Insan Pers Jangan Jadi Buzzer

KPK juga menelusuri tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Lukas dan keluarganya. Sebelumnya mereka telah menerima laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) terkait penemuan transaksi mencurigakan bernilai jumbo dari rekening Lukas dan keluarganya, diantaranya adalah transfer ke sebuah rumah judi di Singapura, Marina Bay Sands, yang nilainya mencapai Rp 500 miliar. (KRO/RD/TEM)