RADARINDO.co.id – Lampung : Ditengah arus transformasi digital yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan dan bisnis, kepemimpinan di lingkungan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dituntut untuk semakin adaptif, empatik, serta selaras dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut disampaikan Region Head (RH) PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 7, Tuhu Bangun, dalam acara Santiaji Jurnalistik dan Kehumasan Bongkar Post Group 2025 yang digelar di Bandar Lampung, belum lama ini.
Baca juga: Holding Perkebunan Nusantara Dorong UMKM Naik Kelas
Tuhu Bangun menegaskan bahwa kepemimpinan modern tidak cukup hanya dengan visi dan strategi, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dengan kemajuan teknologi.
“Seorang CEO modern memimpin dengan empati, memberdayakan inovasi, dan memastikan bahwa kemajuan melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya,” ujar Tuhu Bangun di hadapan peserta kegiatan, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (03/11/2025).
Tuhu Bangun menilai bahwa era digital menuntut pemimpin dan praktisi komunikasi untuk berpikir strategis, gesit terhadap perubahan, dan cakap dalam memanfaatkan teknologi komunikasi digital.
“Pemimpin di era digital bukan hanya harus visioner, tetapi juga adaptif dan memahami perkembangan teknologi agar mampu membawa organisasi tetap relevan di tengah perubahan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran penting kehumasan dalam memperkuat citra perusahaan di era keterbukaan informasi. Menurutnya, humas kini memiliki kemampuan menjangkau audiens global secara cepat, sekaligus membuka ruang dialog langsung antara organisasi dan publik.
“Kehumasan di era digital memiliki kemampuan menjangkau audiens global secara cepat, memantau opini publik secara real-time, dan melakukan dialog langsung melalui berbagai platform media sosial,” tutur Tuhu.
Tuhu menegaskan bahwa komunikasi modern harus mengedepankan keseimbangan antara teknologi canggih dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyebut, fokus utama humas di era Society 5.0 adalah kolaborasi antara teknologi dan humanisme dalam menciptakan komunikasi yang personal, inklusif, dan etis.
Baca juga: Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kolaborasi Riset Global Lewat PT RPN dan IRRDB
“Fokus humas di era 5.0 adalah kolaborasi antara teknologi dan humanisme. Kecerdasan emosional dan empati tidak bisa digantikan oleh teknologi,” tegasnya.
Menurut Tuhu, praktisi kehumasan masa kini harus memiliki kecerdasan emosional, kemampuan adaptif, penguasaan teknologi komunikasi, serta pemikiran kritis dan kreatif. Semua aspek tersebut menjadi pondasi penting untuk menghadapi tantangan komunikasi korporat yang semakin kompleks. (KRO/RD/Red)







