RADARINDO.co.id – Medan : Laporan Keuangan perusahaan plat merah ini justru terkesan tidak sejalan dengan hasil audit BPK RI. Padahal alokasi beban belanja pada tanaman semusim Tembakau mencapai miliaran rupaih setiap tahun.
Tanaman tembakau terindikasi menderita kerugian miliaran rupiah setiap tahun. Lebih gawatnya lagi, Komisari Utama dan Direktur PTPN2 memberi opini yang bikin geleng- geleng kepala, yakni mempertahankan dan memelihara nilai sejarah tentang tembakau deli.
Laporan produksi PTPN2 telah diaudit BPK RI kecuali tanaman semusim tembakau. Ada apa?. Demikian dikatakan narasumber RADARINDO.co.id Group Konspirasi.Net belum lama ini. Djelaskan bahwa tanaman tembakau efektif seluas 4 ha sekali musim.
Baca Juga : Dicari APH Yang Berani Telusuri Aliran Dana di PTPN2
Sedangkan kerugian perusahaan sangat tidak rasional mencapai miliaran rupiah.
Lebihlanjut disampaikan sumber, LK Komisaris Utama dan Direktur PTPN 2 menjelaskan menghasilkan produk tembakau yang dipasarkan terutama mempertahankan dan memelihara nilai sejarah.
Sebagai penghasil Tembakau Deli, pada tahun 2020, volume penjualan tembakau PTPN 2 mencapai 9,049 ton dan volume pemasaran tahun 2020 dari lahan yang dikelola seluas 12 hektar.
Tanaman Tembakau PTPN 2 mengalami kerugian turun dari rata- rata tahun 2018 sebesar Rp368.942,72 per kg menjadi Rp367.023,87 per kg pada tahun 2019. Alasan Tembakau rugi karena capaian produksi Tembakau sebesar 31 ton atau 98,32% dari RKAP sebesar 32 ton dan 73,72% dari realisasi produksi tahun 2018 sebesar 42 ton.
Sedangkan untuk komoditi Tembakau sebesar 0,56 ton per ha dibawah RKAP 11,34% dan di atas tahun 2018 lalu 40,74%. Sumber kembali menyebutkan bahwa luas lahan 12 ha itu itu benar, tapi luas lahan yang dikelola untuk ditanami Tembakau hanya 4 ha setiap musim.
Artinya lahan seluas 10 ha sampai 12 ha itu dibagi 4 musim tanaman. Sisa lahan dibiarkan agar tanah menjadi gembur untuk persiapan tanaman berikutnya.
Dijelaskanya, tujuan pemasaran tembakau terutama untuk eksport. Dimana pada tahun 2018 – 2020 PTPN 2 dikatakan kondisi belum membaiknya harga jual komoditas kelapa sawit, gula kristal dan khususnya tembakau tahun 2019.
Namun PTPN 2 masih mampu mencatatkan laba dari usaha di tahun 2019, terutama dari komoditas minyak sawit.
Dijelaskan tentang Gula dan Tembakau mencatat kerugian. Anehnya meski rugi keuangan tanaman Tembakau ini tidak terurai dari hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Artinya BPK tidak memberikan catatan hasil pemeriksaan pengelolaan Tembakau. Padahal tanaman tembakau mengalami kerugian miliaran setiap tahun.
Laporan keuangan PTPN2 menyebutkan hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan bahwa seluruh upaya yang dilakukan harus tetap mengacu pada prinsip- prinsip GCG dan profesionalisme sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan dengan mengantisipasi pada target RKAP.
Menargetkan total produksi daun hijau Tembakau di tahun 2020 sebesar 1.945.080 lembar, turun 90,12% dibandingkan realisasi tahun 2019.
Produksi tembakau daun kering ditargetkan sebesar 4 ton, turun 90,35% dibandingkan realisasi tahun 2019, dan produksi ready ball ditargetkan sebesar 3 ton, turun sebasar 90,29% dibandingkan realisasi tahun 2019.
Berdasarkan data dan informasi bahwa berdasarkan audit BPK Nomor 3/auditama VII/KINERJA/3/2020 tanggal 12 Maret 2020 antara lain menyebutkan Pabrik Gula (PG) Sei Semayang tidak menggiliing tebu tahun 2019 sehingga terjadi laba yang tidak tercapainya sebesar Rp74.459.956.363,29.
Akibatnya perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp11.420.900.857. Penjualan minyak sawit sampai di bulan Juni 2019 sebesar Rp316.808.438.771 tercatat data manual.
Serta sampai Juni 2019 RKAP sebesar Rp490.515.037,000. Inti sawit sampai bulan Juni 2019 sebesar Rp31.615.247.586 tercatat data manual dan RKAP sebesar Rp72.508.853.000.
Untuk penjualan PKP tahun 2019 sebesar (O). Penjualan PKM tahun 2019 sebesar (0). Penjualan Karet tahun tahun 2019 sebesar (0) Penjualan Teh tahun 2019 sebesar (0). Gula ssampai Juni 2019 sebesar Rp136.289.735.000 tercatat data manual dan RKAP sebesar Rp713.255.616.
Tetes sampai Juni 2019 sebesar Rp16.729.322.350 dan RKAP sebesar Rp26.136.959.
Kredit Investasi untuk dana talangan, tebang angkut, pajak dan leasing Rp145.970.065.468.
Sedangkan tembakau tidak masuk dalam audit. Ada apa?. Kemudian perusahaan juga mengalokasikan anggaran penanganan perkara- perkara hukum di PTPN II antara lain mengeluarkan biaya- biaya untuk:
1. Konsultan Hukum Perkara TUN tahun 2018 sebesar Rp748.000.000 dan tahun 2019 sebesar Rp130.000.000.
2. Konsultan Hukum Perkara Pidana tahun 2018 sebesar Rp1.275.000.000 dan tahun 2019 sebesar Rp210.000.000.
3. Konsultan Hukum Perkara PHI tahun 2018 sebesar Rp555.000.000 dan tahun 2019 sebesar Rp195.000.000.
4. Konsultan Hukum perkara perdata tahun 2018 sebesar Rp9.187.000.000 dan tahun 2019 sebesar Rp2.145,000.000.
5. Honor Lawyer, Fee pemenangan perkara dan biaya alat bukti perkara tahun 2018 sebesar Rp3.436.000.000 dan tahun 2019 sebesar Rp16.500,000.000.
Sedangkan untuk beban tanaman semusim (produksi) tembakau sebelum masa panen tahun 2017 sebesar Rp17.423.647.338 dan tahun 2018 sebesar Rp6.743.385.487.
Beban tanaman semusim (produksi) Tembakau ditangguhkan atas pengolahan tanah tahun 2017 sebesar Rp2.096.150.276 dan tahun 2018 seluas 84 ha sebesar sebesar Rp18.081.003.360.
Laporan posisi keuangan (neraca) dengan posisi keuangan konsolidasian tahun 2018 menunjukkan total aset sebesar Rp7.430.261 Juta berada diatas RKAP sebesar Rp525.791 Juta dan dibandingkan tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar Rp478.911 Juta.
Pemasaran nilai penjualan ekspor dan lokal tahun 2018 sebesar Rp1.169.114 Juta berada dibawah RKAP sebesar Rp524.705 Juta dibandingkan tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar Rp71.872 Juta.
“Dampak dari transaksi ini adalah perusahaan bisa mengakui pendapatan di 2019 atas lahan tersebut sebesar Rp13 miliar.
Penjelasan Direktur PTPN 2 tentang biaya tanaman Tembakau dialokasikan diantaranya untuk gaji – tunjangan – bisos Pegawai/ staf, membangun & memelihara. Bibitan pengolahan tanah untuk tanaman, ujar sumber.
Menanam & memelihara tanaman panen & pengangkutan – biaya umum, jumlah biaya tanaman – biaya pengolahan, Jumlah beban produksi, penyusutan, jumlah beban produkai kebun, biaya produksi di Af. Kebun, persediaan awal dan persediaan akhir. Beban pokok produksi, biaya usaha/ operasi biaya produksi FOB, harga pokok kebun harga pokok FOB.
Konfirmasi berita telah disampaikan namun Direktur dan Komud PTPN2 masih enggan memberi tanggapan.
Alasan CPO yang disampaikan PTPN2 adalah selama tahun 2019, perusahaan menghadapi tantangan demi tantangan, di antaranya harga CPO yang turun dari rata-rata tahun 2018 sebesar Rp7.352/kg menjadi Rp6.691/kg.
Tantangan bagi pelaku industri sawit Indonesia atas isu oversupply, peningkatan bea impor masuk di India menjadi 44%, anjloknya harga minyak mentah, dampak perang dagang China dan Amerika, serta isu sustainability.
Perusahaan juga menghadapi tantangan demi tantangan harga gula yang turun dari rata-rata tahun 2018 sebesar Rp9.925,47 per kg menjadi Rp9.854,29 per kg pada tahun 2019.
Capaian produksi kelapa sawit 546.646 ton atau 84,03% dari RKAP 2019 sebesar 650.571 ton dan 102,13% dari realisasi produksi tahun 2018 sebesar 535.234 ton. Untuk capaian produksi tebu sebesar 298.550 ton atau 62,15% dari RKAP sebesar 480.340 ton dan 95,57% dari realisasi produksi tahun 2018 sebesar 312.400 ton.
Alasan tembakau yang disampaikan PTPN2 adalah harga tembakau yang turun dari rata- rata tahun 2018 sebesar Rp368.942,72 per kg menjadi Rp367.023,87 per kg pada tahun 2019.
Harga jual komoditas kelapa sawit tahun 2019 berada di bawah harga jual tahun 2018. Namun, PTPN 2 masih mampu mencatatkan kinerja usaha positif di tahun 2019.
Walaupun pencapaian laba tahun berjalan Perseroan tahun buku 2019 sebesar Rp988 juta atau 0,69% dari target RKAP.
Alasan tembakau merrugi adalah capaian produksi tembakau sebesar 31 ton atau 98,32% dari RKAP sebesar 32 ton dan 73,72% dari realisasi produksi tahun 2018 sebesar 42 ton. Sedangkan untuk komoditi tembakau sebesar 0,56 ton per ha dibawah RKAP 11,34% dan di atas tahun 2018 lalu 40,74%.
Direktur PTPN 2 memberikan laporan bahwa perusahaan mengelola perkebunan kelapa sawit, tebu dan tembakau di Provinsi Sumatera Utara dan Papua dengan luas areal Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit seluas 41.389,41 ha (87,24%), areal tanaman tebu seluas 6.050,38 ha (12,75%) dan areal Tanaman Menghasilkan Tembakau seluas 4 Ha (0,01%).
Produksi PTPN2 megelola areal konsesi komoditas tembakau seluas 4 ha, dan realisasi produksi tahun 2019 menurun sebesar 11 ton atau 24,19% dibandingkan dengan tahun 2018, dan jika dibandingkan dengan RKAP, produksi tahun 2019 lebih rendah 1 ton atau 3,13%.
Pada tahun 2019 PTPN 2 menghasilkan 18 ton Tembakau Lelang Bremen, 9 ton Tembakau Non Lelang, dan 9 ton Tembakau Gruis.
“Aparat Penegak Hukum agar mengusut laba (rugi) tembakau dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 dan tahun 2019 operasi kebun mencatat rugi operasi tembakau PTPN 2 sejumlah Rp4.331 juta sedangkan tahun 2018 mencatat rugi operasi Rp13.802 juta,” tegas sumber.
Harga Pokok Produksi Tembakau Realisasi Harga Pokok Produksi Tembakau tahun 2019 berada di atas RKAP sejumlah Rp219 Juta atau 2,33% dan lebih rendah Rp13.906 juta atau 59,11 % dibanding dengan realisasi tahun 2018.
Penjualan Secara keseluruhan, segmen Tembakau mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp17.897 juta, atau naik 32,34% dibandingan penjualan bersih tahun 2018 sebesar Rp13.523 juta.
Kuantum penjualan segmen Tembakau tahun 2019 mencapai 49 ton, lebih tinggi 32,43% dibandingkan kuantum penjualan bersih tahun 2018 yang mencapai 37 ton.
Tembakau PTPN 2 juga menghasilkan produk tembakau yang dipasarkan terutama mempertahankan dan memelihara nilai sejarah Sebagai penghasil Tembakau Deli.
Pada tahun 2019, volume penjualan tembakau PTPN II mencapai 48,761 ton dan volume pemasaran tahun 2019 dari lahan yang dikelola seluas 4 hektar.
Tujuan pemasaran terutama untuk eksport. Tembakau PTPN2 TA2018 laporan keuangan tahun 2018 Produksi masing-masing komoditi naik dari tahun sebelumnya, inti sawit naik 113,96%, minyak sawit naik 111,26%, gula naik 177,66%.
Tembakau naik 105%, kecuali karet turun 56,61%. Meskipun untuk produksi minyak sawit, inti sawit, gula,dan tetes belum memenuhi target tahun 2018.
Baca Juga : 3 Unit Kapal Tunda Diduga Gunakan Mesin Bekas Belum Tersentuh Hukum
Dalam kegiatan operasional perusahaan telah mencatat pendapatan operasi tahun 2018 menjadi Rp1.182.074 juta atau naik sebesar 105,35% dari tahun sebelumnya yang berjumlah Rp1.122.561 juta.
Dengan kondisi tersebut diatas, secara umum pada tahun 2018 perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp78.958 juta, dibandingkan tahun 2017 mencatat rugi bersih sebesar Rp2.781.957 juta.
Penjualan CPO selama tahun 2018 dengan realisasi nilai penjualan CPO tahun 2018 berada dibawah RKAP tahun 2018 sebesar Rp1.250 per Kg atau kurang 85% dan dibandingkan tahun 2017 mengalami penurunan sebesar Rp922 per Kg atau turun 89%.
Inti Sawit, realisasi nilai penjualan Inti Sawit tahun 2018 berada dibawah RKAP tahun 2018 sebesar Rp769 per Kg atau kurang 87,88% dan dibandingkan tahun 2017 mengalami penurunan sebesar Rp1.364 per Kg atau naik87,88%.
Penjualan karet tahun 2018 adalah sebesar Rp10.348 per Kg tidak disertai anggaran dan dibandingkan tahun 2017 mengalami penurunan sebesar Rp1.874 per Kg atau turun 84,67%.
Penjualan gula tahun 2018 berada diatas RKAP tahun 2018 sebesar Rp225 per Kg atau diatas 102,32% dan dibandingkan tahun 2017 mengalami ikan sebesar Rp16 per Kg atau naik 100,17%.
Penjualan tetes tahun 2018 berada diatas RKAP Tahun 2018 sebesar Rp659 per Kg atau lebih 67,65% dan dibandingkan tahun 2017 mengalami penurunan sebesar Rp79 per Kg atau turun 96,15%.
Realisasi penjualan tembakau tahun 2018 berada dibawah RKAP tahun 2018 sebesar Rp47.827 per Kg atau dibawah 88,35% dan dibandingkan tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar Rp172.690 per Kg atau naik 190,94%.
Realisasi produksi gula tahun 2018 berada di bawah RKAP sebesar 11.707 ton atau 59,25 %. Realisasi produksi tetes tahun 2018 berada di bawah RKAP sebesar 5.404 ton atau 75,51 %.
Jumlah luas areal Tembakau diproyeksikan tahun 2019 sampai dengan 2023 rata- rata sebesar menurun 38,10%. Produksi Tembakau Pertumbuhan produksi daun hijau pada tembakau diproyeksikan rata-rata menurun sebesar 42,51% dan pertumbuhan produksi daun kering pada tembakau menurun sebesar 42,48%.
Beban tanaman semusim (produksi) Tembakau sebelum masa panen tahun 2017 sebesar Rp17.423.647.338, dan tahun 2018 sebesar Rp6.743.385.487.
Beban tanaman semusim (produksi) tembakau ditangguhkan atas pengolahan tanah tahun 2017 sebesar Rp2.096.150.276, dan tahun 2018 seluas 84 ha sebesar Rp18.081.003.360.
(KRO/RD/TIM)







