Ragam  

Belasan Ribu Pegawai Boeing Terancam di PHK, Ini Alasannya

RADARINDO.co.id – Jakarta : Belasan ribu pegawai Boeing, terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut akan melakukan PHK terhadap 17 ribu atau 10 persen dari total karyawannya di seluruh dunia.

Keputusan itu diambil menyusul keuangan perusahaan yang goyang. Boeing mengalami hal tersebut karena aksi mogok kerja 33 ribu pegawai yang berbuntut pada penghentian produksi pesawat 737 Max, 767, dan 777.

Baca juga: Ini Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan Pemko Medan TA 2022

“Kami mengatur ulang tingkatan tenaga kerja kami untuk menyesuaikan pada kenyataan keuangan dan agar lebih fokus pada sejumlah prioritas,” kata CEO Boeing Kelly Ortberg, melansir cnnindonesia, Sabtu (12/10/2024).

Dikatakannya bahwa pihaknya dalam beberapa bulan kedepan, berencana mengurangi jumlah pekerja sekitar 10 persen. Ortberg juga memastikan Boeing menunda peluncuran 777X ke 2026. Selain karena persoalan sertifikasi, pesawat baru itu harus ditunda karena uji terbang dan pekerjaan terhenti.

Mereka juga akan menghentikan program kapal barang 767 pada 2027. Boeing akan menyelesaikan dan mengirim 29 pesawat barang yang telah dipesan. Akan tetapi, produksi tanker KC-46A akan dilanjutkan.

Selain itu, Boeing juga berencana mencabut kebijakan merumahkan karyawan. Kebijakan diumumkan pada September.

Manajer Ekuitas Great Hill Capital, Thomas Hayes menilai, langkah besar Boeing ini berpotensi mengakhiri aksi mogok serikat pekerja. Pengumuman yang disampaikan lewat email itu dinilai akan memberi tekanan terhadap para pegawai untuk menyetop aksi.

Baca juga: Sebar Konten Asusila, Seleb TikTok Dijebloskan ke Penjara

“Para pekerja yang mogok yang sementara ini tidak mendapat gaji tidak mau menjadi pengangguran yang tidak mendapatkan gaji secara permanen. Saya memperkirakan aksi mogok akan berakhir dalam sepekan karena para pekerja tidak mau masuk ke daftar 17 ribu orang yang di-PHK,” ucapnya.

Diketahui, Boeing mengalami masalah finansial dan hubungan dengan para karyawannya dalam beberapa waktu terakhir. Mereka mencatat kerugian US$5 miliar atau sekitar Rp77,8 triliun pada kuartal III 2024. (KRO/RD/CNN)