Bupati LIRA Laporkan Dugaan Korupsi ADD Rp21 Miliar di BPKD Agara

58

RADARINDO.co.id – Kutacane : Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Aceh Tenggara (Agara), Saleh Selian, melaporkan kasus dugaan korupsi Rp 21 miliar Alokasi Dana Desa (ADD) di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Agara ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh, Senin (15/5/2023).

Baca juga : Ketua PKBM Ziona Berikan Kartu Peserta Uji Kesetaraan untuk Anak Panti Asuhan

Dalam konferensi pernya, Saleh Selian menyebut bahwa dugaan korupsi itu terjadi pada tahun anggaran 2017 dan 2018. “Terkait dugaan tersebut kami DPD Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Aceh Tenggara melaporkan Hattaruddin SE, AK, MM yang merupakan oknum Kepala BPKD,” sebut Saleh Selian di Banda Aceh, melansir brasnews.net, Selasa (16/5/2023).

Saleh mengatakan, dugaan perbuatan melanggar ketentuan undang-undang korupsi yang di praktekkan oknum terlapor yaitu dalam pengelolaan ADD bersumber APBK dari Dana Alokasi Umum (DAU) ditambah dana bagi hasil (DBH).

”Pada tahun 2017 ADD dari DAU besarannya Rp60.118 miliar ditambah dana hasil bagi pajak dan retribusi daerah sebesar Rp2.310 miliar. Demikian ADD sumber APBK disisihkan dari DAU dan ditambah lagi dana bagi hasil maka dana sharing kabupaten bersumber dalam APBK tahun 2017 secara keseluruhan tercatat Rp62 428.100.000,” bebernya.

Baca juga : Jampidum Setujui 12 Pengajuan Restorative Justice

Dungkapkan lebihlanjut, pada tahun anggaran 2018, ADD Aceh Tenggara sebesar Rp53.537 miliar, sementara dana hasil bagi pajak mencapai Rp3.580 miliar. Untuk itu maka dana sharing kabupaten keseluruhannya sebesar Rp58.118 .100.000 sebagai dana pedamping DD sumber APBN, sebutnya.

Pengelolaan Rp62 miliar ini menimbulkan kecurigaan pihak LIRA, bahkan praktek ini sendiri diduga telah terjadi kerugian negara sebesar Rp12.306 miliar pada tahun 2017. Begitu juga di tahun 2018, pengelolaan anggaran dilakukan oknum tersebut juga menimbulkan kerugian negara ditaksir mencapai Rp 8.7 miliar.

”Artinya, total jumlah keseluruhannya kerugian negara berdasarkan perhitungan kami dalam dua tahun terakhir mencapai Rp 21 miliar,” terangnya. (KRO/RD/W/BRN)