Dijodohkan, 10 Pasang Santri Langsungkan Nikah Massal

181

RADARINDO.co.id – Ciamis : Setelah melalui prosesi perjodohan, sepuluh pasang santri melangsungkan pernikahan di Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Bayasari, Kecamatan Jatinagara, Kabupaten Ciamis, Senin (23/1/2023). Akad nikah berlangsung di masjid pondok pesantren.

“Nikah massal ini merupakan kurikulum agenda tahunan Ponpes Miftahul Huda 2 Bayasari,” terang Ketua Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Bayasari, KH Nonop Hanafi usai prosesi akad nikah, melansir kompas.com.

Baca juga : Patroli Dit Samapta Polda Sumut Berhasil Gagalkan Pembobolan Mesin ATM

Nikah massal sebelumnya sempat viral di media sosial Tiktok. Saat itu, pengurus pondok pesantren seolah-olah tampak sedang menjodohkan santri dengan cara dikocok atau diundi.

Kiai Nonop menjelaskan, nikah massal ini merupakan kali kelima dilaksanakan di pesantren. “Ini sudah episode kelima. Pertama dua pasang, lalu tiga pasang, enam pasang, delapan pasang, dan sekarang 10 pasang,” jelasnya.

Dikatakannya, nikah massal ini diikuti santri yang sudah purna. Kelas santri yang menikah sudah sampai Ma’had Ali. “Artinya mereka sudah beres melakukan tahapan jenjang pendidikan,” kata Kiai Nonop.

Menurutnya, para pengantin semuanya sudah menjadi ustadz/ustadzah. Mereka sudah lama melaksanakan pengabdian di Ponpes Mitfathul Huda 2. “Mereka di pesantren minimal 12 tahun. Ini sudah purna, umurnya sudah di atas 25 tahun. Laki-laki rata-rata di atas 25, sekitar 27-28,” katanya.

Kiai Nonop mengatakan, bagi pesantren nikah hanya jembatan. Sedangkan target utamanya adalah bagaimana para santri dapat menyebarluaskan ilmu dan dakwah di tempat yang telah diploting jauh hari sebelum acara prosesi akad nikah massal ini. “Mereka sudah diproyeksikan untuk jadi kader dakwah di sejumlah tempat,” jelasnya.

Baca juga : Gara-gara Catcalling, Driver Ojol Dikeroyok Sekelompok Remaja

Pernikahan massal tersebut lanjutnya, telah melewati proses musyawarah para dewan kiai, dan pimpinan umum pondok pesantren. “Setelah musyawarah lalu istikharah dengan keluarga dan ulama yang istilahnya ulama langitan. Minta petunjuk Allah apakah pasangan ini bagus atau tidak,” katanya.

Sesudah itu, lanjut Kiai Nonop, pesantren memanggil kedua orangtua pengantin untuk menjelaskan bahwa anak-anak mereka akan melangsungkan pernikahan. (KRO/RD/KOMP)