RADARINDO.co.id – Aceh : Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat, resmi meluncurkan logo HUT ke-437 Kota Meulaboh, yang jatuh pada 11 Oktober 2025. Logo itu dirancang secara khusus untuk merangkum esensi dan perjalanan sejarah Kota Meulaboh.
Tidak hanya merefleksikan identitas sebagai “Kota Para Pahlawan”, desain logo juga menegaskan posisinya saat ini sebagai denyut nadi pembangunan di wilayah Barat Selatan Aceh.
Baca juga: Kerugian Negara Akibat Pengadaan Kapal Tunda PT Pelindo Tembus Rp92 Miliar
Setiap elemen dalam logo berisi cerita transformasi kota dari masa lalu hingga kini. Di usianya yang ke-437, Kota Meulaboh mengajak seluruh warganya untuk kembali merapatkan barisan dan menyatukan tekad.
Semangat persatuan ini diserukan agar seluruh elemen masyarakat dapat mendukung visi pembangunan daerah. Pemkab Aceh Barat berharap, momentum HUT ini menjadi pendorong bagi seluruh warga untuk bekerjasama di bawah kepemimpinan Bupati Tarmizi dan Wakil Bupati Said Fadheil, demi mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Pada peringatan HUT ke-437 Kota Meulaboh tahun 2025 ini, mengusung tema “Aceh Barat Meusigak, Sahoe Tajak, Tapuga Nanggroe”.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi berharap, pengenalan logo ini dapat menjadi simbol kebersamaan dan pengingat akan sejarah panjang Kota Meulaboh, serta memupuk rasa memiliki masyarakat terhadap kota ini.
“Dengan semangat yang diusung oleh logo ini, perayaan HUT ke-437 Kota Meulaboh kita harapkan dapat menjadi momen bersejarah yang penuh makna bagi seluruh masyarakat Aceh Barat,” ujar Bupati Tarmizi, dilansir, Jum’at (26/9/2025).
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Aceh Barat, Said Azmi, memaparkan bahwa tema tersebut terbagi menjadi dua frasa kunci yang saling melengkapi.
Baca juga: Larangan Menteri dan Wamen Rangkap Jabatan Disetujui
‘Aceh Barat Meusigak’, dapat diinterpretasikan sebagai harapan agar Aceh Barat makmur. Sedangkan, ‘meusigak’ merefleksikan bahwa Aceh Barat merupakan daerah yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) dan hasil bumi yang melimpah, serta didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal.
“Sedangkan, ‘Sahoe Tajak, Tapuga Nanggroe’, frasa ini memiliki makna sebagai seruan sekaligus pengingat,” jelasnya. (KRO/RD/cc)







