RADARINDO.co.id – Deli Serdang : Penangkapan terhadap tiga oknum wartawan berinisial D, R, dan A oleh personil Polsek Beringin jajaran Polres Deli Serdang, Sabtu (31/5/2025) lalu, bakal berbuntut panjang.
Penangkapan terhadap para jurnalis itu buntut dari pemberitaan dugaan pungutan liar (pungli) terhadap orangtua wali murid Kelas VI SDN 101928 di Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, yang diduga dilakukan oknum Kepala Sekolah (Kepsek), berinisial MS.
Baca juga: Polsek Pangkalan Brandan Ringkus Pelaku Curanmor
Karena merasa gerah atas pemberitaan itu, Kepsek MS mengundang ketiga oknum wartawan untuk bertemu di salah satu warung di Kecamatan Beringin.
Namun diluar “perhitungan”, MS yang sebelumnya memohon untuk mencopot berita dugaan pungli yang melibatkan dirinya, ternyata memiliki niat lain.
Rupanya, MS juga mengundang anggota polisi. Tetapi, kedatangan para anggota Polisi itu bukan untuk silaturrahmi, melainkan ingin menangkap ketiga oknum wartawan dengan dalih melakukan pemerasan.
Jika dilihat dari fakta yang ada, demi hukum yang berkeadilan, seharusnya MS juga harus ditangkap dan ditahan. Karena, MS merupakan oknum pemberi suap.
Polisi seharusnya melakukan pendalaman kasus dengan memanggil orangtua wali murid, benar atau tidaknya dipungut biaya untuk Pentas Seni (Pensi) oleh MS. Pasalnya, segala jenis pungutan uang di sekolah dengan dalih apapun tidak dibenarkan oleh pemerintah.
Sebelumnya, Kepsek MS diberitakan terkait kasus dugaan pungli terhadap orangtua wali murid dengan dalih uang Pensi sebesar Rp160.000.
Namun di balik penangkapan itu, muncul dugaan kuat bahwa ketiga oknum wartawan itu sengaja dijebak, karena merasa terganggu atas pemberitaan dugaan pungli yang dilakukan oleh MS.
Baca juga: Puskesmas Tembilahan Hulu Gelar Kegiatan Pembekalan PMT
Sementara, pungutan itu dikeluhkan oleh para orangtua wali murid, terutama mereka yang berpenghasilan rendah seperti nelayan.
Pasalnya, anak yang sekolah di SDN 101928 itu banyak dari keluarga tak mampu, hingga merasa minder dan tidak ingin mengikuti kegiatan sekolah karena tidak sanggup membayar uang Pensi tersebut. (KRO/RD/Tim)







